logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 02 Februari 2005 PANTURA
Line

Sambil Menunggu Penumpang Abang Becak Bermain Musik

MUSIK dikenal juga sebagai terapi jiwa. Sebagai pengikis rasa lelah, pengisi waktu, dan sebagainya. Musik memang milik siapa saja, maka siapa pun berhak memainkannya.

Tak terkecuali para abang becak yang mangkal di pelataran mulut Lontrong 2 Jl Cenderawasih, Kelurahan Randugunting, Kecamatan Tegal Selatan Kota Tegal ( di depan Kantor Perwakilan Suara Merdeka ).

Ketika sepi mengusik, mereka spontan berdendang sambil memainkan alat musik seadanya, dengan nada yang monoton dan kurang nglaras.

Cara mengusir rasa kesal yang dilakukan oleh para abang becak ini tentu berbeda dibandingkan dengan kalangan elit berduit.

Kalau mereka berkantong tebal menghalau rasa gundah dan stres dengan bernyanyi di kafe atau diskotek, maka si-abang becak cukup bermain musik seadanya atau musik galimpung.

Pemain musik akan menjadi tidak lengkap jika ada penunpang yang akan menggunakan jasa mereka.

Warga di lingkungan RT 01 RW V sudah hafal dengan suara itu. Tidak siang, sore atau malam, alunan musik kerap datang.

Gaung nada itu bersumber dari dalam sebuah rumah tak berpenghuni milik Keluarga Widodo yang akrab dipanggil Pak Guru oleh mereka.

Sejak menjelang Ramadan 2004 lalu, suara yang didominasi kendang itu hingga kini terus bertalu.

Atas izin pemilik rumah tersebut, mereka boleh menggunakan rumah tersebut sebagai pos mereka.

Pemimpin grup galimpung ini ditunjuk Sudarto (29). Grup ini diberi nama ''Padu Ana''.

''Ya sebab lagu-lagu yang kami bawakan asal ada, asal ingat, dan asal cuap,'' ujar penabuh kendang itu.

Hal ini juga dibenarkan oleh teman-temannya seperti Jaya Abdilah (pemain seruling), Marwan (penabuh tamborin/ecek-ecek), Birin, Kusen, Tasirin dan lainnya. Sebuah lagu berjudul Bunga Mawar dan Jandaku, sore itu sempat menyeruak di tengah hujan rintik.

Kaum Boro

Rumah Keluarga Widodo dijadikan markas karena mereka memang berasal dari luar Kota Tegal (kaum boro).

Kalau Sudarto asal Desa Srengseng, Kabupaten Tegal, maka Abdilah dan Birin asal Desa Rengaspendawa, Kabupaten Brebes.

Marwan adalah warga Kabupaten Demak yang sehari-hari berjualan batu akik.

Sementara Kusen, berasal dari Desa Bumijawa, Kabupaten Tegal. Terakhir, Tasirin asal Brebes.

Menurut Sudarto dan Abdilah, mereka sebenarnya memiliki sawah di desanya. Selesai menggarami (menabur pupuk) tanaman padi di sawah, mereka berangkat ke Tegal mencari tambahan penghasilan sebagai pengayuh becak.

''Alhamndulillah para saudara Pak Widodo tak keberatan kami menunggui rumahnya,'' ujar Abdilah.

Widodo memahami kesulitan mereka karena dia kebetulan juga pemilik becak.

Pak Guru tak menghuni rumah kosong itu karena lebih suka tinggal di Perumahan Arum Indah. Demikian pula kakak dan adiknya.

Menurut Abdilah, teman-temannya harus setor becak kepada pemilik setiap hari Rp 2.000. Namun rata-rata mereka bisa mendapat pemasukan sekitar Rp 25.000.

Menurut pengamatan Abdilah, warga Kota Tegal yang menjadi pengayuh becak hanya sekitar 10%. Yang banyak justru dari pendatang seperti Pemalang, Kabupaten Tegal, Brebes dan daerah lain.

''Menurut pemantauan saya, jumlah becak yang beroperasi di Kota Tegal berkurang karena terdesak angkutan kota dan taksi,'' ujar Abdilah yang bersama Sudarto sudah menjalani profesi sebagai penarik becak sekitar 11 tahun. (Nuryanto Aji-34m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA