logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 02 Februari 2005 NASIONAL
Line

Mengenal Lebih Dekat Suhu A Djong (1)

Sang Pewaris Jurus Wong Fei Hong


KEBANGGAAN:Khong A Djong dengan pakaian dari kulit harimau kebanggaannya. Pakaian itu dia dapatkan setelah memenangi kejuaraan kung fu yang diadakan Pemerintah Tiongkok selama tujuh kali berturut-turut.(55t) - SM/Rukardi

Bagi sebagian masyarakat Tionghoa Semarang, nama Khong A Djong tak terlampau asing. Mereka senantiasa menambahkan kata ''suhu'' saat menyebut namanya. Sebutan itu menjadi tengara, betapa ia bukan lelaki biasa. Banyak kemampuan dia miliki, selain seni bela diri kung fu, A Djong juga menguasai ilmu pengobatan tradisional Tiongkok untuk menyembuhkan patah tulang. Untuk mengenal lebih dekat suhu A Djong, wartawan Suara Merdeka Rukardi menuliskan kisah hidupnya dalam dua tulisan bersambung mulai hari ini.

DI antara gambar-gambar anatomi tubuh manusia yang terpasang di dinding ruang praktik Suhu Khong A Djong di Jl MT Haryono Semarang, sebuah reproduksi foto kuno terasa lebih menarik perhatian. Gambarnya, seorang pemuda berambut cepak tengah berdiri gagah bersedekap tangan.

Badannya sedang-sedang saja, tak begitu besar, pun terlampau kecil. Namun tubuh pemuda itu terlihat kukuh dengan sembulan otot-otot di kedua lengan dan hastanya. Lebih gagah, karena ia mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit harimau (fu bei sam).

''Ini foto saya waktu misih muda dulu, kira-kira umur 30-an,'' tutur Khong A Djong lirih.

Rasanya susah membayangkan, pemuda dalam foto itu Khong A Djong, sebab pada usia tuanya saat ini, tubuh lelaki itu terlihat renta dan rapuh. Untuk berjalan atau beranjak dari tempat duduknya saja, dia harus dipapah seorang pembantu. Begitu pun artikulasi suaranya saat bicara, tak lagi mudah ditangkap. Agar bisa dipahami, perlu ''transliterasi'' putra bungsunya Khong Fan Shen (41).

Untuk meyakinkan, Khong Fan Shen mengambil pakaian kulit harimau yang terdapat dalam foto dari dalam lemari. Serupa dengan tubuh Khong A Djong, kondisi pakaian yang terbuat dari kulit harimau asli itu juga terlihat rapuh. Beberapa bagiannya telah koyak oleh usia. Tak berlebihan jika Khong A Djong repot-repot menyimpannya, sebab itulah kenangan terindah yang dia dapatkan di masa muda sebagai pendekar kung fu.

Menurut Khong A Djong, pakaian kulit harimau itu dia dapatkan setelah memenangi kejuaraan kung fu gaya bebas di daratan Tiongkok (baligay) selama tujuh kali berturut-turut. Kebanggaan lain, dia mengaku pernah mencecap ilmu kung fu Siong Mao, murid mahaguru kung fu legendaris Tiongkok Wong Fei Hong .

Khong A Djong lahir di Kampung Gabahan Lengkong Buntu, kawasan Pecinan Semarang pada 10 Oktober 1896, sebagai anak tunggal dari pasangan Khong Hien Yie dan Lie Kwat Nio, yang berprofesi sebagai pedagang lo shio bak (babi panggang). Menurut dia, ''Khong'' sebagai nama depan, menunjukkan dirinya sebagai keturunan ke-70 filsuf besar Khong Hu Cu.

Berguru di Tiongkok

Umur enam tahun, orang tuanya menitipkan Khong A Djong kepada seorang pamannya yang tinggal di Kota Nam Hai, Provinsi Kwang Tung, Tiongkok. Di negeri besar itu, dia belajar kung fu di Siao Liem Sie, perguruan masyhur tempat para pendekar kung fu terbaik Tiongkok menuntut ilmu. Jangan tanya guru-gurunya, hampir semuanya nama-nama kondang, satu di antaranya Siong Mao, murid Wong Fei Hong.

Di perguruan yang juga menelurkan bintang film kung fu legendaris Brush Lee itu, dia memelajari dua aliran kung fu, yakni siau liem dan nggo mbie paei. Siau liem adalah aliran kung fu dari Tiongkok Selatan yang mengutamakan pertarungan tangan kosong jarak jauh. Adapun nggo mbie paei, berasal dari Tiongkok Utara yang mengedepankan pertarungan tangan kosong jarak pendek. Meski demikian, penggunaan senjata seperti toya, pedang, trisula, kwang tauw, tombak, golok, hwa, dan tali, juga diajarkan.

''Dibandingkan dengan senjata-senjata yang lain, tali adalah senjata paling hebat. Meski kelihatannya sepele, dia bisa mengalahkan pedang, tombak, golok, dan senjata tajam lainnya,'' jelasnya.

Di luar itu, setiap murid juga mendapat ilmu bahasa sandi dan pengobatan cidera. Bahasa sandi digunakan untuk pembicaraan rahasia antarkawan seperguruan. Bahasa itu, sekaligus menjadi identitas keanggotaan Siao Liem Sie. Jika dua orang bertemu di jalan dan bisa berbincang dengan bahasa sandi itu, hampir dapat dipastikan mereka saudara seperguruan.

Khong Fan Shen mengisahkan, suatu ketika ayahnya didatangi beberapa murid seperguruan dari Tiongkok. Saat bersua, mereka berbicara dengan bahasa aneh yang tak dia mengerti. Namun, kendati belum pernah bertemu sebelumnya, mereka terlihat sangat akrab. Bahasa sandi Siau tak boleh diajarkan kepada orang lain di luar perguruan.(Rukardi-64t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA