BAGIAN Pertama
16
MENURUT akar pohon silsilah keluarga Reksonegoro, Yustina merupakan keturunan kedua. Abilawa lupa mengkhayalkan ibu Yustina, si gadis blasteran Jawa-Belanda, bercinta dan menikah dengan siapa. Namun, dengan membayangkan buah cinta mereka, kita dapat menerka bahwa ayahnya seorang Jawa. Hanya dua puluh lima persen darah Belanda yang masih mondar-mandir dari hulu ke hilir urat nadi Yustina.
Sesungguhnya Abilawa ingin memperkenalkan Yustina kepada kalian, melalui potret dirinya yang utuh sebadan, agar kalian tak susah payah membayangkan sosoknya. Namun, mengingat Abilawa sendiri hanya tokoh khayalan, ia tak mungkin menghadirkan gambar nyata yang bisa kalian lihat dan raba. Sebagai tokoh khayalan Abilawa memang bisa mengkhayalkan apa saja, tapi hanya terbatas di alam khayal itu sendiri.
Alam khayal memang sangat luas, seolah tanpa tepi. Ya, seolah tanpa tepi, karena sejatinya ia punya batas juga. Batasnya adalah alam nyata. Bila sesuatu menyeberangi batas itu, ia bukan khayalan lagi. Begitulah yang dikhayalkan Abilawa. Ia berkhayal bisa meretas batas, sehingga ia yang semula hanya penghuni alam maya akan menjelma makhluk nyata. Abilawa ingin menyeberangi batas itu bersama kekasihnya, Yustina. Tentang semua ini, Yustina punya cerita menurut versinya sendiri.
Akulah yang memberi tahu Abil tentang batas itu. Kukatakan kepadanya bahwa khayalan bukan tanpa batas. Jika kami melewati batas itu dan tiba di alam nyata, kami akan menjelma makhluk yang berbeda dari keadaan asli kami di alam imajinasi. Aku tahu, segala yang ada dalam imajinasi tak ada sangkut-pautnya dengan segala hal di alam nyata. Imajinasi tak lain adalah gagasan. Telah kukatakan kepada Abil, bahwa memiliki kekasih di dalam gagasan berarti memiliki kekasih dalam kesadaran. Bukan dalam kenyataan. Bagiku sudah cukup punya kekasih dalam gagasan. Toh sesungguhnya kita hanya bisa bahagia dalam kesadaran. Dalam kenyataan, tidak gampang kita merasa bahagia.
Abil bisa memahami penjelasanku tentang batas itu. Tapi, ia malah bersikeras ingin melewatinya. Tentu saja aku tak tega membiarkan ia menyeberang sendiri. Aku akan menyertainya. Apa pun yang terjadi.
Aku yakin Abil hanya kurang mampu merumuskan batas itu, meski sebenarnya ia tahu. Keyakinan ini kudasarkan atas khayalannya tentang diriku. Dibuatkannya aku silsilah yang terkait dengan seorang tokoh dalam sejarah. Kakekku, seorang bupati Tegal bernama kecil Soesmono, bergelar Reksonegoro, yang kawin dengan putri camat Batang dan kawin lagi dengan perempuan Belanda, benar-benar pernah ada.
Memang, Abil baru mengisahkan secuwil kehidupan mereka. Aku yakin Abil tidak lupa, atau tidak tahu, jika ia tidak melanjutkannya. Memang ia suka pura-pura lupa, atau pura-pura tak tahu. Ia selalu merendah. Itulah yang membuatku suka padanya. Kalian tak percaya? Mari kita buktikan. Akan kutanyakan padanya, kalian dengar apa jawabnya.
Abil!
Ya, Kekasih.
Kenapa tak kaulanjutkan kisah kakekku?
Maaf, karena aku tak tahu.
Benar, kan? Padahal ia pasti tahu. Abil pasti tahu bahwa penguasa Belanda saat itu tidak memenuhi janjinya, tapi menepati ancamannya. Penguasa Belanda tak peduli bahwa mestinya masih satu keturunan Reksonegoro lagi yang berhak jadi bupati. Penguasa Belanda bahkan menutup mata, mengabaikan petisi yang dikirim rakyat Tegal demi mempertahankan pemimpin mereka. Kakekku benar-benar mereka copot. Kalian tahu akibatnya? Kewibawaan Kabupaten Tegal langsung melorot!
Ada juga yang berpendapat bahwa penggantian kakekku dengan bupati baru memang sudah seharusnya, demi menyelamatkan Kabupaten Tegal dari rongrongan perempuan Belanda. Tahu apa mereka? Tahukah mereka, betapa dalam gairah asmara kakekku terhadap nenekku berkobar juga semangat perlawanan seorang lelaki Jawa terhadap para penguasa Belanda? Kakek tak sudi merangkak dan menyembah mereka. Kakek ingin dipandang dan dihargai setara. Bukan hanya begundal-begundal Belanda saja yang boleh sesuka hati menzinahi perempuan pribumi, tapi lelaki Jawa pun berhak bercinta dengan perempuan Belanda. Apalagi jika dasarnya suka sama suka. Sebaliknya, tahukah mereka, bahwa di dalam cinta nenekku terkandung pula sikap keberpihakan kepada kebenaran? Jika Nenek hanya mendamba hidup damai sejahtera, kurang apa dia? Suami pertamanya punya kedudukan tinggi, ke mana-mana dihormati. Tapi, Nenek tahu, bahwa kesejahteraan itu semu lantaran menjulang di atas penderitaan, bahwa penghormatan itu palsu karena dasarnya ketakutan. Semula Nenek hanya iba, lalu tak tega, lalu ingin membela. Maka ia pun membelot. Ia khianati suami pertamanya. Ia tunggingi peringatan dan ancaman penguasa Belanda. Ia memilih jadi istri kedua kakekku, sang bupati, agar bisa membagi cintanya kepada kawula pribumi.
Kakek dan Nenek adalah sepasang kekasih yang berani melewati batas. Digerakkan oleh gagasan tentang cinta, kebebasan, dan kebenaran, mereka menerjang. Dan aku, Yustina, adalah keturunan kedua mereka. Setidaknya menurut khayalan Abilawa.