logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Februari 2005 SALA
Line

Banyak Puskesmas Kekurangan Air Bersih

KEKURANGAN air bersih, ternyata tidak hanya dirasakan para dokter dan tenaga medis di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Di Puskesmas Kecamatan Cepogo yang berada di kawasan Gunung Merapi, juga merasakan hal yang sama.

Hal itu diakui bidan Puskemas Kecamatan Cepogo, Sri Marni. Menurut dia, dari 15 desa yang berada di Kecamatan Cepogo sebagian besar kekurangan air bersih. Namun yang paling parah adalah poklinik Desa Cabeankunti.

''Kekurangan air bersih merepotkan perawatan pasien,'' kata Sri Marni kepada wartawan, kemarin.

Air bersih menjadi salah satu komponen yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kepada para pasien. Tanpa air bersih, penanganan kepada pasien akan tersendat, bahkan bisa menimbulkan penyakit baru. Karena itu, tim monitoring dan evalusi keluarga berencana/kesehatan reproduksi (KB/KR) Boyolali yang melakukan safari ke berbagai puskesmas menaruh perhatian serius.

''Masalah air bersih harus cepat diatasi, dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,'' kata salah seorang anggota tim, Didik Kartika.

Tim yang mengunjungi Puskesmas Cepogo, Selo, Sawit, dan Banyudono, juga menanyakan cara penanganan pasien, baik yang mendatangi puskesmas maupun yang memperoleh pelayanan tenaga bidan desa di sekitar tempat tinggalnya. Beberapa pertanyaan yang diarahkan ke dokter dan bidan puskesmas, salah satunya adalah mengenai cara penanganan prakehamilan, kehamilan, hingga persalinan.

Harus Dipenuhi

Didik mengatakan, selain air bersih, ada syarat lain yang harus dipenuhi oleh setiap puskesmas dan tenaga kesehatan, yaitu sarung tangan, sabun mandi, sikat gigi, dan handuk.

Hanya, beberapa kendala masih menjadi ganjalan pada beberapa puskesmas yang minim ketersediaan air bersih. Puskesmas Selo dan Cepogo, adalah daerah yang kekurangan air bersih.

Dari hasil serangkaian kunjungannya, tim juga menemukan kekurangan bidan di berbagai puskesmas. Kekurangan bidan desa, tampaknya menjadi persoalaan serius.

Hal itu dirasakan di Puskesmas Banyudono I. Menurut dokter Puskesmas Banyudono, Nunik G, dari sembilan desa yang menjadi cakupan wilayahnya ada tiga desa yang belum memiliki bidan. Yakni Desa Ketaon, Batan, dan Banyudono. Ketiga desa tersebut memang cukup dekat dengan pusat pelayanan puskesmas.

Karena belum memiliki bidan desa, maka puskesmas memprioritaskan desa-desa yang jauh dari pusat pelayanan. Untuk memenuhi pelayanan kepada pasien, terpaksa bidan puskesmas merangkap tugas di ketiga desa tersebut.

Hampir seluruh tenaga kesehatan di puskesmas tersebut menyerukan permintaan yang sama mengenai penambahan tenaga bidan desa.

Data komparasi nasional menyebutkan, sekitar 48,7% persalinan dilakukan oleh tenaga nonprofesional terlatih. Itu menimbulkan kekhawatiran cukup serius, mengenai munculnya kemungkinan berbagai infeksi pada ibu.

Bukan saja kekhawatiran penyakit dan infeksi, namun juga bisa menyebabkan kematian. Kematian ibu saat persalinan, disebabkan karena pendarahan (42%), eklamsia (13%), infeksi (10%) partus/hamil lama (11%), dan penyebab lainnya. (Suti Harjoyo-85a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA