| Selasa, 01 Februari 2005 | SALA |
Bakulan, Kegetiran di Antara "Rimbunnya Hutan" MalOleh: Drajat Tri Kartono//berkalang......./aku berkabung hati pada kotaku/ 260 tahun berdiam menunggu sejarah dan kini/ kehilangan arah/ para denawa menyadera kota/ menancapkan tiang pancang bersekutu dengan kuasa/ tiada peduli beriring anyir ajal pasar yang kumuh tak tersentuh/ para cukong itu kembali dari persembunyian/ setelah mencuci uang hasil curian/ mereka melenggang di tampuk singgasana menjadi raja/ kedigdayaan uang telah memperdaya bijak tanpa keberpihakan pada yang papa/ bakul yang tegar dalam badai krisis/ kini hempas dan terdesak menjadi tumbal pertumbuhan peradaban/ pusaran kota beranjak angkuh/ membangun nisan-nisan adab lama pada sarang walet dan bilik kaca/ mengibarkan kejayaan kapitalis/ tubuh-tubuh beton dari merkantilisme meludah becek ke pasar-pasar/ belantara yang dulu menjadi medan babat alas/ di sekitar tubuh-tubuh beton menjulang berseliwer peluh/ mengais mangsa dalam kemacetan dan keruwetan nadi kota/ mereka menyimpan tikam menunggu waktu terhujam/ alienasi materi telah menghilangkan diri/ membangun jarak dan latensi amuk permusuhan/ tak lagi mereka bersapa/ menawar dan membangun kesepakatan/ di negeri demokrasi yang akbar/ perangkat digital dan label harga telah membungkam daya tawar/ pamflet, iklan televisi, dan media memperkosa/ tanpa ada jiwa yang terasa masuk dalam cengkerama ruang makan keluarga/ kemudian memperdayai dengan tampilan glamour pada etalase-etalase kaca/ menimang impian dan meraba pantat dengan ratapan//. TIGA hari yang lalu, sajak di atas saya terima dari seorang kawan yang berkerja di sebuah pasar. Saya memang tidak cukup mengerti, ataupun memahami tiap kata dan kalimat puitis tersebut. Tapi karena getarannya, saya merasakan kegetiran yang dirasakan. Seakan kawan saya tersebut sangat gerah, dan memendam khawatir ketika mulai tumbuh suburnya "hutan" mal dan swalayan supermarket, hypermarket ataupun ultramarket yang terus membanjir dan seakan-akan mengubur Kota Solo. Pada sebuah surat kabar sebelumnya, saya membaca satu berita bahwa upaya penjaringan investor yang kini sedang dilakukan pemerintah, adalah salah satu jalan untuk menutup defisit APBD Pemkot Surakarta 2004 yang mencapai Rp 26 miliar. Tetapi akan semakin sulit, kalau seandainya penjaringan investor terus saja dilakukan secara buta, tanpa ada seleksi, atau paling tidak memberikan pemahaman kepada investor untuk mengenali kota keberadaan masyarakat dan jati diri Kota Solo. Investor sangat dibutuhkan untuk membangun kota itu; tapi mereka bukan dewa yang bisa mendikte. Ibarat sedang bakulan, hendaklah pandai bertawar menawar. Pemerintah hendaknya mampu menawarkan alternatif investasi tanpa merusak dan mengubah jati diri dan ciri khas kota. Saya cukup mengerti, apa yang dirasakan kawan saya lewat sajak di atas. Karena sesungguhnya, 260 tahun aras sejarah Kota Solo selalu diikuti dengan penanda sejarah, baik berupa artefak, mantifak, maupun sosiofak. Keberadaan Jalan Slamet Riyadi hingga Urip Sumohardjo, misalnya, sejak masa lalu telah di-setting menjadi bulevar (adimarga atau yang indah) kota. Di jalan-jalan seperti itulah, tampak ciri kota; sehingga kali pertama orang masuk Kota Solo akan menemukan ciri khas dari setiap keberadaan bangunan-bangunan lama yang berderet di tempat tersebut. Solo akan kehilangan wajah, kalau saja perubahan-perubahan terus berlangsung tanpa kendali. Maka, ciri kota itu akan hilang memutus rentetan dialog masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Rasakan Dampak Kemudian, bagaimana dengan keberadaan pasar tradisional? Rupanya, kawan saya itu punya alasan yang cukup nalar, yaitu keberadaan pasar tradisional dan bakul-bakul kecil, juga para pekerja di dalamnya, akan merasakan dampaknya. Termasuk di dalamnya buruh gendong, kuli angkut, dan sebagainya. Meskipun beberapa kalangan menyatakan bahwa segmen pasar mereka berbeda, tetapi coba satu pertanyaan dikembalikan. Sesungguhnya, sebelum munculnya mal dan pasar modern, di mana segmen itu berada? Artinya, sekecil apa pun keberadaan pasar tradisonal akan terpengaruh, karena banyak faktor yang mendukung terjadinya pola perubahan segmen pasar yang ada selama ini. Terutama berkaitan dengan harga, jaringan distribusi, maupun fasilitas serta manajerial yang berbeda jauh. Lantas berapa besar daya beli masyarakat kita? Apakah kebutuhan akan dan keberadaan pasar yang ada sekarang telah mampu mencukupi, atau sebaliknya sudah overloaded? Mencermati fenomena tersebut, sesungguhnya menunjukan bahwa Kota Solo belum memiliki satu konsep grand design sebuah tata ruang kota yang humanis dan komprehensif. Sebaliknya, terjadi perusakan terhadap pola tata ruang dan ekologi kultural kota. Banyak hal pemunculan proyek-proyek pembangunan yang ada, masih bersifat parsial, dan kurang memperhitungkan aspek sosialnya. Terbukti, banyak persoalan sosial menjadi abai di dalam melakukan penanganannya. Salah satu contoh, hingga kini yang tak pernah tertangani secara baik adalah merebaknya PKL dan penataan pemanfaatan lahan maupun fasilitas umum kota secara ilegal. Itu terjadi, karena seringkali dalam menempatkan bangunan maupun melakukan penataan, pemerintah masih minim dalam melakukan kajian secara mendalam. Kajian yang ada, cenderung melihat dari sisi keuntungan ekonomi yang bersifat jangka pendek. Pembangunan satu mal yang baru, sering menimbulkan dampak kemacetan dan penjarahan lahan fasilitas publik untuk parkir. Pemerintah tidak pernah berhasil melakukan tindakan prefentif secara dini, yang pada akhirnya menimbulkan permasalahan baru yang lebih rumit. Belum lagi pada implikasi dampak lebih luas terhadap keberadaan pasar tradisional. Sektor itu masih minim dari perhatian pemerintah di dalam melakukan pengelolaannya. Dari sejumlah 38 pasar yang ada, berapa pasar yang mampu eksis dan memiliki daya tahan sebagai ruang transaksi perdagangan? Terdapat 1.164 lebih petak kosong di los pasar tradisional yang tersebar di Surakarta pada 2002. Padahal, sektor informal yang ada terbukti mampu memiliki daya tahan yang telah teruji sebagai katub pengaman ketika terjadi krisis ekonomi. Meski demikian, belum ada satu pun keberpihakan terhadap keberadaan mereka yang sesungguhnya telah memberikan kontribusi besar bagi pendapatan asli daerah (PAD). Para wirausahawan andal yang kemarin menjadi pahlawan dari hantaman krisis dan tidak memiliki kebergantungan modal kepada pemerintah itu, kini mulai resah. Ketidaksiapan mereka menghadapi persaingan baru dengan raksasa bisnis yang tidak sebanding, akan semakin menciptakan kesenjangan baru pula pada struktur masyarakat. Baik itu struktur sosial ekonomi maupun budaya. Bila hal itu tidak dapat terpelihara, akan meruntuhkan ketahanan sosial masyarakat, melahirkan disharmoni baru dalam kehidupan dan perilaku yang tersimpan dalam latensi konflik. Juga sebagai ancaman terhadap pengulangan-pengulangan peristiwa, serta mengingatkan akan luka lama. Selamat Ulang Tahun Ke-260 Kota Solo.(17a) - Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang juga dosen FISIP UNS Surakarta(17a) |