logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Februari 2005 SALA
Line

Panitia Kirab Pusaka 1 Sura Diminta Tak Bohongi Masyarakat

SRIWEDARI - Sengketa di Keraton Surakarta dengan adanya "raja kembar", memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat luar maupun kerabat Keraton dalam pelaksanaan kirab pusaka menjelang 1 Sura.

Paling tidak, kekhawatiran itu juga dirasakan oleh salah seorang sentono dalem. Salah seorang cucu PB IX itu, Drs Bambang Sari Wahono, mengharapkan panitia kirab tidak melakukan pembohongan terhadap publik. Sebab dalam konflik saat ini, belum ada pendekatan antara Paku Buwono XII Hangabehi dan Paku Buwono XII Tejowulan untuk menyelesaikan konflik intern Keraton.

"Sebab untuk pelaksanaan kirab, sejumlah pusaka tersimpan di gedhong pusaka yang kuncinya saat ini dibawa GK Ratu Alit, salah satu pendukung Gusti Tejo (Tejowulan). Padahal, yang melaksanakan kirab kali ini dari pihak Gusti Behi (Hangabehi).

Saya khawatir, kalau nantinya yang dikirab bukan pusaka yang ada di gedhong pusaka, tapi hanya pusaka sak-sake yang selama ini dianggap sebagai pusaka Keraton," katanya, kemarin seusai rapat kirab budaya memperingati HUT Kota Solo di aula Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Parsenibud) Solo.

Menurut Bambang yang saat ini menjadi Kepala Subdinas Aset Wisata Dinas Parsenibud itu, untuk dapat menghadirkan pusaka yang menjadi piandel Keraton, seluruh putra-putri almarhum Paku Buwono XII harus berembuk bersama.

Mereka, untuk sementara waktu mengesampingkan soal sengketa suksesi itu demi menjaga kewibawaan Keraton. "Saya berharap, para putra-putri swargi Sinuhun(PB XII) harus bijak dan memahami persoalan itu. Kirab 1 Sura kali ini, untuk kali pertama sejak Sinuhun murud kasedan jati tahun lalu. Oleh sebab itu, kesampingkan dulu soal konflik intern untuk kepentingan Keraton secara umum. Soal setelah itu konflik dilanjutkan, terserah," tuturnya.

Ditambahkan, dengan tidak adanya kesatuan dan persatuan di antara putra-putri PB XII, dia khawatir pelaksanaan kirab tidak akan berlangsung lancar. Apalagi, persoalan pusaka yang akan dikirab selama ini memang tidak sama. Namun demikian, diharapkan panitia tidak mengambil jalan pintas hanya ingin agar kirab bisa berlangsung, tapi esensi kirab dikesampingkan.

"Kalau sampai yang dikirab bukan pusaka yang sudah diberi gelar kanjeng kiai, saya khawatir akan mengurangi kewibawaan Keraton. Dan kalau sudah demikian, itu namanya membohongi masyarakat." (sri-80a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA