logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Februari 2005 PANTURA
Line

Perbaikan Jalan Tegal-Purwokerto Terhambat Hujan

  • Antrean Sepanjang 2 Km

SLAWI - Perbaikan jalan lintas selatan Tegal-Purwokerto, khususnya yang mengalami kerusakan parah di sekitar wilayah Paguyangan, Brebes, mengalami hambatan karena curah hujan di wilayah itu masih tinggi.

Namun demikian, Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Jateng di Slawi tetap berusaha agar pekerjaan perbaikan terus dilaksanakan.

"Hambatan perbaikan jalan yang kita alami karena hujan masih turun terus. Akibatnya, pengaspalan tidak bisa lancar," kata Kepala Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Hajanto ST, kemarin.

Dia menambahkan, kerusakan jalan antara Bumiayu-Paguyangan tergolong paling parah. Untuk memulihkan kembali, saat ini sedang dilakukan pengeprasan pada seluruh badan jalan yang rusak. Pengeprasan dilakukan di ruas jalan sepanjang enam sampai tujuh kilometer, terutama di lokasi yang mengalami rusak berat. Setelah itu, secara bertahap dilakukan pengaspalan.

Dalam kondisi perbaikan, lalu lintas sedikit banyak mengalami hambatan karena laju kendaraan tak bisa normal seperti melintas di jalan mulus. Menurut dia, pengaspalan di ruas jalan Prupuk-Ajibarang, nantinya akan diprioritaskan di lokasi jalan yang rusak parah. Khusus badan jalan yang berlubang-lubang, saat ini sedang diupayakan penambalan di beberapa ruas dengan harapan dapat mengurangi gangguan bagi pemakai jalan.

Beberapa pemakai jalan dari Tegal yang menuju Purwokerto atau sebaliknya, kemarin mengaku harus harus rela antre berjam-jam karena kerusakan jalan di Paguyangan. Antre itu terjadi karena ada perbaikan di ruas jalan di Desa Winduaji, dua kilometer arah selatan ibukota Kecamatan Paguyangan. Kendaran yang lewat harus di satu lajur, sehingga kendaraan harus antre. "Repot karena tidak ada yang mengatur arus kendaraan yang lewat, akibatnya terjadi kemacetan panjang," ujar seorang pengemudi.

Ketika hujan, kemacetan di ruas jalan Winduaji tak jarang menjadi ajang keributan antarsopir. Sebab mereka berebut melewati ruas jalan yang tidak rusak. Sebaliknya kalau tidak hujan, muncul banyak Pak Ogah yang menjual jasa menunjukkan jalan yang rusak. "Jumlah Pak Ogah sudah kelewat banyak. Kalau sekadar minta duit seikhlasnya mungkin tidak masalah, namun terkadang ada yang nakal, tak dikasih merusak mobil,"

Karena banyak jalan yang berlubang dan mengalami kerusakan parah, perjalanan Tegal-Purwokerto yang dalam ukuran normal bisa ditempuh dalam 2,5 jam dengan kendaraan pribadi, sekarang molor menjadi empat jam. Bahkan kalau turun hujan, sampai 4,5 jam karena pengendara takut menyalip dan terkena lubang.

Mengecat Jalan

Sementara itu, warga Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba, Brebes yang melihat kerusakan jalan pantura Brebes-Losari, terpaksa harus mengecat ruas jalan yang rusak tersebut dengan cat tembok. Hal itu dilakukan untuk memberikan tanda kepada pemakai jalan agar terhindar jalan yang berlubang. "Warga kasihan pada pengemudi yang lewat di sini. Banyak sudah korban yang tergelincir setelah melewati lubang di jalan tersebut," ujar Asep, warga Bangsri, kemarin.

Ruas jalan yang perlu diwaspadai sekitar KUD Wanasari ke barat sampai Bulakamba. Kemudian di sekitar SMA Bulakamba, Kluwut, Cimohong, Pejagan sampai Losari. Kerusakan paling memprihatinkan terlihat di depan SPBU Pejagan, Di tempat itu terdapat lubang yang siap menjemput kendaraan yang melintasinya.

Menurut Hajanto, kerusakan jalan pantura kini sedang dalam tahap perbaikan. Penambalan dikerjakan setiap hari, namun mungkin belum sampai pada lokasi yang rusak itu. "Kita setiap hari selalu memperbaiki lubang-lubang yang ada. Mungkin yang anda maksudkan belum sampai," (wh-34m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA