| Selasa, 01 Februari 2005 | PANTURA |
Saatnya Menata Kota BatangIRONIS sekali nasib kota-kota di Indonesia begitu era adipura berlalu. Di mana-mana yang tumbuh subur kini bukan pepohonan lagi, melainkan rumput liar di tepi median jalan dan trotoar. Kondisi itu diramaikan pula oleh hiruk-pikuk tumbuhnya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang mendirikan tenda di sempadan jalan, sehingga menyita hak pejalan kaki. Begitu pula Kota Batang, kini ketinggalan. Ruang kota jadi acak-acakan terkesan serbasemrawut. "Hal itu terlihat jelas begitu kita masuk kota, dari arah timur akan tampak kios-kios yang berderet di kanan kiri ruas jalan menyita trotoar. Selain melanggar sempadan jalan, juga memberikan kesan ketidakteraturan," ujar pemerhati masalah lingkungan dan Ruang kota Ir Ari Wibowo MT Urb-Des (Master Urban Design) . Selanjutnya, akan disambut megahnya gerbang masuk timur kota yang salah letak, karena tidak sesuai dengan batas kota sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK). "Sedangkan di bawah gerbang kini berjubel warung dan kios rokok, di mana sebagian besar berlogo salah satu merek rokok. Banyaknya reklame plus bonus truk-truk besar yang parkir di sebelah selatan, berderet mulai dari timur gerbang sampai di depan Samsat. Semuanya sangat terasa jauh dari kesan indahnya sebuah kota," ujar Ari. Semakin ke arah barat menuju ke Alun-alun Kota Batang, akan menjumpai pasar induk yang berkesan kumuh serta semrawut. Kondisi itu diperparah lagi dengan banyaknya kendaraan yang parkir seenaknya. Asal-asalan Menurut dia, jalan masuk kendaraan juga tidak jelas, tidak ada shelter dan pelanggaran lalu lintas. Pemasangan reklame asal-asalan, miskin tumbuhan vegetasi untuk penghijauan, nuansa tidak tertatanya ruang tata kota. Kondisi itu terlihat mulai sepanjang pasar ke barat sampai kota. "Gambaran itu sebetulnya jelas-jelas tidak diinginkan Pemerintah Kabupaten Batang. Barangkali saja situasi di dalam era reformasi dan otonomi daerah belum memihak pada keindahan wajah kota, seperti yang diharapkan masyarakat," katanya. Meskipun demikian, perlu dimulai langkah nyata untuk menata kembali Kota Batang, agar masyarakat mendapatkan vista yang indah pada pemandangan wajah kota. "Ingat, jangan disalahartikan menata kembali sama dengan menggusur. Menata kembali mengandung pengertian menempatkan kembali yang kurang tepat atau pas ke letak yang tepat tempat dan fungsinya sebagaimana dalam arti luas," tegasnya. Pada dasarnya, menata kembali Kota Batang sudah dapat terwakili dengan menata sepanjang ruas Jalan Jenderal Sudirman yang merupakan jalur pantura, mulai dari sebelah timur sampai batas kota di sebelah barat dengan menjadikan alun-alun sebagai square Kota Batang. "Karena itu, dibutuhkan kesepahaman bersama antara pemerintah dengan komponen masyarakat. Dalam hal ini menyangkut ketaatan, ketertiban, serta kepatuhan untuk menjaga lingkungan." Menata kembali Kota Batang, lanjut dia, mungkin dapat dimulai dengan menghijaukan kota dengan tanaman yang mempunyai nilai estetika. Diikuti pengadaan elemen ruang luar kota berupa lampu taman, patung, jam kota, bak bunga, dan tempat sampah yang memadai. "Ini diikuti dengan pemeliharaan yang baik oleh instansi pemerintah maupun warga masyarakat. Oleh karena dibutuhkan tekad bersama untuk menata kembali Kota Batang ke depan, yang menjadi pertanyaan, beranikah kita melakukan penataan kembali Kota Batang tercinta ini," ujar Ari Wibowo. (Arif Suryoto-74) |