| Selasa, 01 Februari 2005 | PANTURA |
Korban Selamat dari TsunamiKoran Prancis Itu Jadi KenanganBERJUANG melawan maut di tengah hempasan badai tsunami bagi Marto (47), warga Kelurahan Tegalsari, Tegal Barat, Kota Tegal, ternyata tidak cukup dengan tutur kata. Betapa tidak, ketika dia bersama dengan 17 anak buah kapal (ABK) KM Naily V, Jakarta dihantam badai tsunami di perairan Samudera Hindia ternyata juga direkam salah satu surat kabar Le Mauricien yang beredar di Kota Mauritius, Afrika Selatan. Ketika ditemui di tempat tinggalnya, dia menunjukkan foto-foto ketika datang di pelabuhan di sana setelah diselamatkan kapal Ling Kingsin. "Ini foto-foto saya setelah terselamatkan dari amukan badai," katanya sembari menunjukkan selembar koran yang berbahasa Prancis itu. Dia juga menunjukkan foto ABK lain, yakni Paing (50) yang masih juga saudaranya ketika diberi air minum karena kehausan. Kendati tidak memahami bahasa isi berita itu, bagi Marto lembaran koran tersebut tentu saja menjadi kenangan tersendiri. "Ini buktinya, betapa beratnya kami harus bertaruh nyawa dalam menghadapi tsunami," tuturnya. Koran tersebut dia peroleh dari salah seorang pimpinan kapal yang kebetulan ikut dalam pelayaran. "Karena penasaran, maka koran itu saya minta untuk kenang-kenangan. Biar saja tidak mengerti bahasanya, yang penting ada gambar saya," kata suami Kasem (42) tersebut. Tak Sesuai Risiko Lantas, ke mana setelah bertemu dengan keluarga? Ayah dari enam anak itu memutuskan untuk kembali menjadi nelayan di Kota Tegal. Sejak Agustus 2004 lalu dengan bekerja di PT Swasan, Jakarta, dirinya jarang bertemu dengan keluarga. "Hampir dipastikan baru enam bulan sekali bisa pulang ke rumah. Itu saja paling lama hanya satu minggu," tuturnya. Apalagi, selama menjadi ABK dia hanya diberi honor Rp 21.000/hari. "Jelas, honor tersebut tidak sesuai dengan risiko yang harus saya hadapi. Maka, dengan adanya kejadian ini saya memutuskan untuk kembali ke tengah keluarga. Ya, saya masih trauma tsunami," tandasnya. Anggota keluarga Marto Ir Edi Waluyo mengupayakan agar kelima ABK itu mendapat tali asih dari pihak PT Swasan. Dia yang juga Ketua Forum Pemberdayaan Masyarakat Pantai (FPMP) tersebut berharap dengan pemberian tali asih itu merupakan wujud penghargaan bagaimana ABK itu berjuang melawan musibah. "Ya, kami sekeluarga akan meminta kepada pihak pemilik kapal agar memberikan penghargaan semacam tali asih," ungkapnya. Seperti yang diberitakan harian ini kemarin, lima ABK asal Kota Tegal yang dikabarkan hilang terkena badai tsunami di perairan Samudera Hindia pada Kamis (6/1) lalu, telah pulang dalam kondisi selamat di tengah keluarga mereka. Tak pelak, kedatangan kelima ABK, yakni Paing (50), Marto (47), dan Tarjono (45), ketiganya warga Kelurahan Tegalsari; Moh Rojak (25), warga Jalan Durian; dan Imam Syafi'i (39), warga Kejambon, disambut dengan bahagia oleh anggota keluarganya.(Dwi Ariadi-14s) |