logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Februari 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Penjelasan Program Akta IV Unissula

Menanggapi Surat Pembaca 29 Januari 2005 dari Sdr Chujaedi (Batang), kami Program Akta IV (Akta Mengajar) Unissula menjelaskan sbb: Program Akta IV Jurusan Tarbiyah Unissula diselenggarakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku:

Di antaranya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya Pasal 42 ayat (2), Pasal 43 ayat (2) serta Pasal 61 ayat (3). Juga SK Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi No 004/BAN-PT/Ak-V/IV/2002, dinyatakan Program Studi Pendidikan Agama Islam pada Jurusan Tarbiyah, Fakultas Agama Islam (FAI) Unissula terakreditasi dengan peringkat B.

Surat Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam No E III/PP 02.3/Az/771/99, tanggal 10 Mei 1999 perihal: Program Akta IV. Bahwa bagi PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) yang membuka Program S1 Tarbiyah, Akta IV secara otomatis inherent dalam program tersebut.

Sertifikat Akta IV adalah sertifikat mengajar yang berlaku tidak hanya untuk sekolah tertentu (agama atau umum) serta dapat dikeluarkan oleh program studi/perguruan tinggi agama maupun umum yang memenuhi syarat. Hal ini karena program ini hanya memberi ilmu mengajar, bukan disiplin ilmu tertentu.

Karena itu sertifikat yang dikeluarkan Program Akta IV Jurusan Tarbiyah Unissula adalah sah dan berlaku untuk digunakan sebagai persyaratan pengangkatan guru/pendidik agama atau umum sesuai dengan Ijazah yang dimiliki.

Sertifikatnya dapat digunakan untuk pendaftaran PNS khususnya di Jateng. Hal ini sesuai surat kepala Dinas P dan K 27 Oktober 2004, No 811/47597, perihal pelamar CPNS Ijazah S1+Akta IV yang ditandatangani kepala dinas Drs Suwilan Wisnu Yuwono MM. Surat tersebut ditujukan kepada seluruh kepala BKD kabupaten/kota.

Program Akta IV Unissula telah berlangsung sampai saat ini angkatan ke-12. Sebagian dari ratusan alumnusnya telah diterima sebagai PNS. Demikian semoga dapat menghilangkan misinformasi, miskomunikasi dan ketidaktahuan.

Drs M Muhtar Arifin Sholeh MLib.
Ketua Program Akta IV Unissula Semarang

***

Selesai, soal Uang Koin

Sehubungan Surat Pembaca rnengenai uang koin yang dirnuat 16 Januari 2005, saya terima kasih atas tanggapan dan penjelasan Bapak-bapak dari Bank Indonesia yang esok harinya langsung datang ke rumah.

Saya jelaskan surat tersebut dikirim ke redaksi sudah cukup lama saat uang koin tidak dapat disetor ke bank. Saat ini penyetoran uang koin ke bank sudah kembali lancar meskipun tetap dikenakan biaya.

Anastasia
Jl Mahesa Timur A-350, Semarang

***

Transparansi CPNS

Pengumuman CPNS telah berlalu dan pendaftar menyambut dengan antusias. Namun bukan berarti sejak awal perekrutan tidak menimbulkan masalah, termasuk batas umur dan memarginalkan surat wiyata bakti guru swasta ysng menuai protes. Alhasil sejak 1 November 2004, guru swasta yang berumur lebih dari 35 tahun dan berwiyata bakti lebih 5 tahun diperbolehkan ikut tes.

Tapi selesaikah permasalahannya, ternyata tidak. Setelah pengumuman masih menyisakan kekecewaan. Dari penggantian LJK yang karena alasan tertentu dan formasi yang tidak sesuai dengan info awal masih mengganjal. Di samping itu yang Iebih menyakitkan nilai standar minimal yang harus dipenuhi serta lama wiyata bakti menjadi bahan perhitungan.

Bagi para guru swasta yang mendaftar sebelum 1 November dan berusia kurang dari 35 tahun jelas dirugikan karena pengabdian ditulis nol. Sejak pendaftaran surat wiyata bakti ditolak dengan alasan guru swasta. Sementara guru bantu pun masa pengabdian 1 tahun 5 bulan.

Padahal di antara guru bantu jika peraturan awal memperbolehkan menggunakan wiyata bakti swasta saya yakin ada yang sudah mengabdi 9 tahun.Karena itu pihak berwenang seharusnya lebih bijaksana dan tidak gegabah dalam membuat peraturan yang membuat ribuan orang lain merasa dirugikan.

Akibat ketidakpastian ini membuat "pengangguran" banyak kecewa. Kapankah di negeri ini semua pearaturan tidak berakhir dengan keraguan ?

Haryanto
Kedungpani Rt 5/Rw 3 Mijen, Semarang

***

Pemasangan Baliho

Menindaklanjuti surat saya yang entah sampai atau tidak ke tangan Bapak Wali Kota tentang pemasangan baliho di kawasan Pecinan, ternyata sampai kini belum ada tanggapannya. Memang setelah saya menulis surat tersebut ada pegawai dari pihak pemasang baliho yang mengencangkan murbautnya.

Juga ada peninjauan 2 petugas Kota Semarang yang menyatakan pemasangan baliho tersebut salah letak dan tidak sesuai dengan izin. Setelah itu datang lagi dari pihak pemasang baliho yang juga mengatakan pemasangannya tidak sesuai izin dan salah letak.

Daripada dipindah akan menghabiskan biaya puluhan juta, maka lebih baik memberi kerugian kepada saya sebanyak Rp 3 juta namun hal itu tetap saya tolak karena memikirkan keselamatan keluarga dan umum. Apalagi akhir--akhir ini sering terjadi hujan dan angin kencang .

Posisi baliho jaraknya cuma 1 meter dari rumah dan saya sekeluarga merasa was-was kalau sampai roboh.

Sering kali kami tidak dapat tidur tenang karena khawatir tertimpa baliho.

Keluhan ini pun juga disampaikan Bapak RT dan RW yang memperhatikan keselamatan warganya karena pemasangannya pas di atas jalan umum yang ramai kendaraan. Saya percaya Bapak Wali Kota maupun anggota DPRD merespon keluhan dan jeritan orang kecil ini.

Salim Mukti Raharjo
Jl Wotgandul Timur 1, Semarang

***

Ada Keindahan di Balik Bencana

Apa hubungan Luis Figo dan Martunis? Jelas tidak ada. Luis Figo adalah pesepakbola tersohor Real Madrid yang berkebangsaan Portugal. Martunis bukan siapa-siapa. Dia hanya bocah salah satu korban bencana tsunami di Aceh yang selamat.

Tapi sungguh luar biasa, momentum muncul ketika dia dipertemukan kembali dengan keluarganya yang terekam oleh TV Inggris dan telah menarik simpati yang dalam dari Luis Figo. Apa pasal? Sederhana saja. Ketika itu Martunis kedapatan mengenakan kostum kebanggaan tim nasional Portugal.

Itu pula yang menjadikan pesepakbola terbaik dunia dan beberapa rekannya terketuk niat menyantuni bocah Aceh yang malang tersebut. Di balik bencana, masih menyisakan keindahan dan keharuan yang menyentuh hati yang terdalam. Ternyata tsunami telah menjadi bencana global yang menarik simpati luar biasa dari dunia internasional.

Saya hanya membayangkan, seandainya Luis Figo berkesempatan datang ke Indonesia dan bertemu dengan Martunis, pasti akan jadi momentum luar biasa dan menjadi simbol cinta kasih yang tidak terbatas pada sekat agama, bangsa dan budaya. Betapa indahnya.

Heru Mugiarso
Bukit Kelapa Sawit IV-AG/30-31. Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA