| Selasa, 01 Februari 2005 | NASIONAL |
Seorang Haji Meninggal di Pesawat
BOYOLALI - Seorang haji yang tergabung dalam kloter 8, Sampe bin Kasdi (60), meninggal saat berada di pesawat dalam perjalanan menuju ke Tanah Air. Kematian warga RT 9 RW 2, Geneng tersebut akibat gangguan pernapasan karena penyakit asma. Menurut keterangan TKHI dokter Hj Rita Chatarina MKes yang menyertai kepulangan jamaah kloter 8, sebelumnya Sampe mengeluh karena pernapasannya sesak. Pihaknya segera mengambil tindakan medis untuk membantu pernapasan dengan tabung oksigen yang tersedia. Namun, upaya tersebut tidak mampu menolong jiwanya. ''Pak Sampe meninggal tepat pukul 02.17 saat posisi pesawat berada di atas Kota Medan,'' ungkapnya setelah tiba di Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali. Kematian itu menimbulkan duka mendalam pada Hj Ya'un binti Mustan, istri almarhum. Perempuan berusia 59 tahun tersebut terus menangis sejak turun dari pesawat ataupun di atas ambulans menuju ke asrama. ''Lha wong wis ameh tekan ngomah kok malah ora ana (Lha wong, mau sampai rumah kok meninggal-Red),'' ujar dia . Sementara itu, Hajjah Makrifatun binti Affandi (44) harus menjalani amputasi pada kaki kanannya akibat penyakit diabetes yang dia deritanya. Warga RT 7 RW 1, Troso, Kabupaten Jepara tersebut menjalankan operasi pada 14 Januari lalu di RS Az Zahr Makkah setelah luka pada telapak kaki kanannya kian parah dan mulai membusuk. Lantaran kondisinya belum sembuh benar saat wukuf, dia termasuk yang disafariwukufkan oleh Tim Kesehatan Makkah. Setiba di Asrama Haji, luka pada kaki kanannya yang tinggal sebatas lutut itu sudah mulai mengering. Meski kondisinya kian membaik, dia masih harus menggunakan alat bantu untuk menopang kakinya saat berdiri. Pada bagian lain, Humas PPIH Debarkasi Adisumarmo Surakarta H Akhmad Su'aedi mengemukakan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada Garuda untuk mengklarifikasi tidak terangkutnya semua tas tentengan milik jamaah haji. ''PPIH meminta agar kejadian itu tidak terulang pada kloter berikutnya sehingga diharapkan barang milik jamaah bisa diangkut bersamaan dengan pesawat yang membawa mereka.'' Tidak terbawanya tas tentengan tersebut praktis makin memperparah kekecewaan jamaah lantaran sebelumnya harus mengalami keterlambatan kepulangan ke Tanah Air. Sementara itu, Manager Garuda Solo H Agus Wibowo menuturkan, tidak terangkutnya barang tentengan bersamaan dengan kepulangan jamaah karena barang bawaannya melebihi kapasitas yang ditentukan. "Seharusnya mereka membawanya ke dalam kabin tetapi yang dibawa justru barang bawaan lain," ujarnya saat melihat kedatangan kloter 5.(G13-69j) Jadwal Kedatangan Rabu, 2 Februari Kloter 13, 400 jamaah asal DI Yogyakarta, pukul 12.15 Kloter 14, 365 jamaah asal Kab Sukohajo, 35 jamaah asal Kab Rembang, pukul 16.00 | ||||