logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Februari 2005 NASIONAL
Line

Catatan Seminar Penerbangan Komersial (1)

Tujuh Bandara di Jateng, Potensi dan Tantangan


DIKEMBANGKAN:Landasan bandara Ahmad Yani Semarang yang terus dikembangkan. Nantinya landasan ini bisa didarati pesawat berbadan lebar.(55) - SM/Sutomo

TANPA banyak disadari, Jawa Tengah ternyata provinsi yang ''paling kaya'' bandar udara di negeri ini. Seluruhnya memiliki tujuh bandara besar dan kecil. Yang tergolong besar, dalam kelas regional, adalah Bandara A Yani di Semarang dan Adi Sumarmo di Solo. Dua-duanya kni sudah menjadi bandara internasional.

Kemudian lima lainnya adalah bandara kecil-kecil, yaitu Tunggul Wulung di Cilacap, Wirasaba (Purbalingga), Warureja (Tegal), Cepu (Cepu), dan Dewandaru (Karimunjawa). Namun dari lima bandara itu, hanya satu yang beroperasi secara teratur. Yaitu, Bandara Tunggul Wulung di Cilacap yang didarati pesawat kecil jenis CN empat kali seminggu. Terutama penerbangan dari dan ke Jakarta. Hal itu sangat mungkin karena banyak industri besar di Cilacap seperti Pertamina, pabrik semen, pakan ternak, pasir besi, dan tepung pisang.

Belakangan ini, masuknya Tommy Soeharto dan juga (waktu itu) Bob Hasan ke Nusakambangan sangat mungkin menambah ramainya jalur penerbangan tersebut. Pertanyaannya, apakah 7 bandara itu mempunyai potensi bagi pembangunan atau hanya sesuatu yang biasa-biasa saja, sehingga menjadi mubazir seperti yang terjadi sekarang?

Pembahasan mengenai bandara tersebut mencuat dalam sebuah seminar di Solo pekan lalu yang mengangkat tajuk ''Peranan Penerbangan Komersial dalam Perkembangan Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi''. Seminar diselenggarakan kerja sama antara Depari Jateng, Pemprov Jateng, UKSW, Bandara A Yani, Bandara Adisumarmo, dan Pemkot Solo.

Penerbangan Komersial

Para pemrasaran dalam seminar pada umumnya sependapat, penerbangan komersial mempunyai peran sangat besar dalam pengembangan trade, tourism, and investment (TTI). Hal itu sudah terjadi dalam skala global, dalam hubungan antarbangsa, sejak puluhan tahun lalu.

Prof John JOI Ihalauw PhD, mantan rektor dan guru besar UKSW, yang menjadi salah seorang pembicara, memberikan contoh secara konkret tentang hal itu. Menurut pendapatnya, sedikitnya ada enam bidang yang memperoleh pengaruh sangat besar dari penerbangan komersial. Yaitu membuka pasar baru, memperlancar arus dan memperluas distribusi barang, jasa, orang, infomasi, dan keahlian.

Secara perseptual mendekatkan jarak geografis. Membuka peluang yang makin besar bagi kontak budaya dan nilai-nilai, sehingga terjadi pinjam-meminjam gagasan, persebaran produk dengan teknologi terkini melalui mobilitas customer dan prospek.

Selanjutnya penerbangan komersial juga mampu menumbuhkan berbagai aktivitas ekonomi ikutan, baik ke belakang (backward) maupun ke depan (forward). Juga memperkuat kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi dalam kawasan.

Pilihan

Pertanyaan selanjutnya, mampukah Jateng memetik manfaat dari ''kekayaan bandara'' itu, untuk mengembangkan TTI? Dari 7 bandara, dua telah berkembang dengan baik. Bahkan sudah menjadi bandara internasional. Bandara Adisutjipto Solo sudah berkembang lebih dahulu. Landasannya memenuhi syarat didarati pesawat berbadan lebar, seperti Boeing 747. Pesawat yang banyak digunakan untuk mengangkut jamaah haji. Semua itu telah berjalan dengan baik.

Bandara A Yani di Semarang mulai menyusul. Meskipun tertatih-tatih, memberi prospek sangat baik. Setelah membuka jalur Semarang-Singapura, Garuda merencanakan membuka line ke Kualalumpur dan Australia.

Di masa depan, Solo dan Semarang konon bakal ada pembagian kerja. Solo untuk menampung penerbangan turis dan haji. Semarang untuk industri, bisnis, dan investasi. Meskipun pengaturan semacam itu sebenarnya sesuatu yang sulit dilaksanakan. Pebisnis dan pelancong tak gampang diatur-atur menurut keinginan kita. Mereka bebas menentukan ke mana akan terbang sesuai dengan selera.

Lalu bagaimana dengan lima bandara kecil lainnya? Ada gagasan untuk mengembangkannya agar bisa mendukung pariwisata dan kepentingan lain. Bahkan, ada daerah yang konon berhasrat membangun penerbangannya sendiri seperti Purbalingga dengan Wirasaba-nya.

Namun perlu diingatkan, membangun usaha penerbangan adalah amat mahal. Karena bisnis tersebut padat modal dan teknologi tinggi. Agar lebih ringan, M Soeparno, mantan dirut Garuda yang juga menjadi pembicara dalam seminar, mengemukakan beberapa pilihan. Yaitu, bekerja sama dengan maskapai yang sudah ada, mengambil alih maskapai yang sedang kesulitan, atau menjalin kerja sama antara pemerintah kota, kabupaten, dan provinsi. Karena itu, dia bersama LSM Pemerhati Angkutan Udara Komersial Indonesia (PAUKI) siap membantu.

Yang terakhir itu merupakan pilihan menarik. Akan sangat membantu kelancaran komunikasi dan angkutan antarkota dan kabupaten, karena jalan-jalan raya di Jateng sudah terlalu ruwet dan padat. Semarang-Solo saja belakangan ini harus ditempuh sedikitnya dalam waktu 2 sampai 3 jam. Demikian juga Semarang-Yogyakarta. Dari kota terjauh, Cilacap, butuh waktu 5 sampai 6 jam untuk mencapai Semarang. Dengan pesawat CN hanya beberapa menit. Sangat memperlancar perjalanan bisnis dan dinas. (Sutrisna-69t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA