| Selasa, 01 Februari 2005 | NASIONAL |
Dulmatin Diduga Tidak Ikut TewasJAKARTA- Mabes Polri sampai kemarin belum mendapat informasi resmi dari Filipina mengenai kabar kematian otak peledakan bom Bali, Dulmatin, dalam serangan di Mindanao. Kabar terakhir yang berkembang justru Dulmatin belum tewas. Sumber di Mabes Polri meyakini, orang yang meninggal dalam dua serangan udara di Mindanao, Filipina Selatan, bukan Dulmatin ataupun Umar Patek. Sebab, Dulmatin tidak ikut gerakan separatis Filipina, MILF yang dibom oleh militer Filipina. "Memang banyak WNI yang mengikuti pelatihan bersama MILF, tapi bukan Dulmatin," kata sumber yang tak mau disebut namanya di Mabes Polri Jl Trunojoyo, Jakarta, Senin (31/1). Dia mengaku mendapat informasi langsung dari KBRI di Filipina. Negara itu belum mengetahui berapa korban tewas dalam serangan udara tersebut. Filipina kesulitan mengidentifikasi karena militer tak menjangkau wilayah Mindanao yang terisolasi. "Memang wilayahnya terisolasi sehingga identifikasi korban pun tak bisa dilakukan." Padahal, secara yuridis, kematian Dulmatin harus dipastikan melalui tes identifikasi. Mabes Polri bisa saja meminta contoh darah keluarga Dulmatin untuk kemudian dikirim ke Filipina guna dicocokkan dengan darah korban yang tewas. "Tapi kecil kemungkinan bisa dicocokkan dengan mayat yang diduga Dulmatin, karena untuk menjangkau lokasinya saja sulit." Kirim Surat Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Paiman mengaku belum mendapat informasi resmi dari Pemerintah Filipina dan Kepolisian Filipina mengenai kematian Dulmatin. "Sampai sekarang belum ada yang berani menyatakan secara resmi yang bersangkutan betul meninggal atau tidak. Kita belum tahu persis kebenaran meninggalnya orang yang diduga Dulmatin itu," kata Paiman dalam konferensi pers di Mabes Polri. Mabes Polri, Senin (31/1), mengirim surat ke Interpol dan perwakilan Polri di Filipina untuk mencari kepastian kematian Dulmatin. (dtc-83t) |