logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Februari 2005 NASIONAL
Line

Dari Kunjungan GM Garuda se-Asia (1)

Vietnam Sukses Jual "Kekejaman Amerika"

Ada perhelatan menarik di teras Teratai Swimming Pool Hotel Horison, Jumat (28/1) malam. Para general manager (GM) Garuda Indonesia Airways dari seluruh penjuru Asia berkumpul. Kesempatan tersebut tentu saja tak disia-siakan pelaku wisata yang tergabung dalam Asosiasi Biro Wisata Indonesia (Asita) Jateng. Sejumlah masalah tentang keterlambatan pariwisata Jateng dan pengalaman negara lain dikupas dalam pertemuan tersebut. Wartawan Suara Merdeka Renjani PS menurunkan laporannya.

KOMENTAR pendek seorang GM Garuda barangkali terasa menohok. Pariwisata Jateng, ujar dia, tak ada apa-apanya di luar negeri atau dalam bahasa slengekan seperti "nyaris tak terdengar".

Komentar tersebut tentu kontras dengan gaung pariwisata yang mendengung kencang sejak internasionalisasi Bandara A Yani pada tahun lalu. Ya, barangkali masih bisa dimaklumi lantaran dongkrak pariwisata yang dipasang masih amat dini. Namun jika mau berkaca dari Vietnam atau Bali, rasanya tak muskil menaikkan pamor Jateng.

Menurut keterangan GM Garuda Vietnam A Prasetyadi, perkembangan pariwisata di negeri komunis itu relatif pesat. Faktor utama tentunya rasa aman. "Seorang gadis pulang sendirian pada pukul 24.00 aman saja, tidak ada penodongan. Bukti ini juga terlihat di media massa, di sana (Vietnam) jarang ditemukan berita kriminal atau kejadian mengerikan seperti peledakan bom. Hal ini yang membuat wisatawan merasa nyaman berkunjung," ungkap dia.

Sebagai negara berkembang, negeri gerilyawan Vietkong itu sebenarnya tak begitu memiliki objek menonjol. Dibandingkan dengan Jateng, pesona pariwisata mereka barangkali tak berbeda jauh. "Apa sih yang mereka jual? Kenangan tentang kekejaman perang!"

Perlawanan kepada Amerika itu muncul dalam wujud situs bersejarah dan museum. Dalam suatu museum di Saigon (kini dikenal sebagai Ho Chi Minh City) dipertontonkan bagaimana kekejaman masa perang masih tergurat jelas. Pada satu sisi, terdapat barisan toples berisi raga bayi yang masih utuh. Jasad itu dibiarkan utuh untuk mengenang masa silam. Sejumlah dokumen seperti foto-foto kejadian saat itu dipampang sehingga pengunjung dapat leluasa mengamatinya.

Cu Chi Tunnel

Situs yang amat populer barangkali adalah Cu Chi Tunnel, gua atau lebih tepatnya bungker yang dahulu dipakai gerilya pejuang Vietnam. Ada satu lubang selebar satu tubuh orang dewasa yang kerap dimanfaatkan sebagai lokasi foto para wisatawan. Panjang bungker yang acap disebut lubang cacing itu sekitar 150 mil dengan kedalaman 23 kaki. Di ruang yang dahulu adalah dapur, wisatawan ditawari sajian singkong rebus. "Benar-benar singkong rebus biasa," ujarnya.

Langkah aktif Vietnam barangkali bisa menjadi semacam rujukan. Setiap saat, paket yang ditawarkan mereka selalu berubah. Hampir di semua konter maskapai, seperti Garuda, paket wisata negeri itu boleh dikata tak lupa terpajang. Sayang, kondisi ini tak dialami Jateng. Sejumlah GM Garuda mengeluhkan kurangnya informasi seputar Jateng. Kalaupun ada, paket tersebut tak pernah diperbarui sehingga ada kesan monoton.

Terlepas dari pembicaraan itu, bila sesekali mencoba mengklik situs wisata Jateng dan Vietnam, barangkali muncul sedikit kekecewaan. Betapa tidak? Situs informasi Jateng miskin informasi, pasif, dan monoton. Berbeda dari situs Vietnam yang terkoneksi dengan sejumlah situs objek wisata mereka, begitu menarik dengan gambar berkelas fotografer profesional. (Renjani PS-83j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA