logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Februari 2005 NASIONAL
Line

Masuk AS Gampang-gampang Susah (2-Habis)

Siap-siap Lepas Ikat Pinggang dan Sepatu


IMIGRASI: Dua rekan, Budiman dan Lapang, mengantre di Imigrasi. Mereka berdua termasuk yang kemudian diwawancara lebih intensif.(55t) - SM/Bagas

TERNYATA memasuki Amerika Serikat dengan wajah berjenggot tidak menjadi masalah. Sebenarnya wajah saya ketika datang sudah agak berbeda dari foto di paspor. Di foto masih berambut pendek dan wajah bersih. Namun lewat pemeriksaan mata dan scan sidik jari, saya lolos pemeriksaan paspor.

Hanya ketika memasuki Imigrasi di Bandara San Francisco, saya termasuk yang terkena pemeriksaan lebih intensif secara acak. Ransel dibuka dan diperiksa secara detail. Sambal botol yang saya bawa dicek. Laptop dikeluarkan dan dicek dengan sapuan kain di seluruh bagian.

"Apa yang Anda cari?" tanya saya. "Saya mengecek partikel-partikel mencurigakan yang menempel di laptop," kata petugas setelah melakukan scan ulang laptop.

"Anda temukan yang Anda cari?"

"Tidak," jawabnya sambil tertawa.

Selebihnya pemeriksaan biasa. Setiap lewat detektor, semua barang logam harus ditaruh di keranjang. Di sini kami harus siap-siap melepas ikat pinggang supaya detektor tak berbunyi. Bahkan, sepatu yang ada logamnya juga harus dibuka.

Di setiap bandara kedatangan pertama orang dari luar Amerika juga berlaku ketentuan kopor harus dalam kondisi tidak dikunci. Maka ketika sampai di San Francisco sebelum melanjutkan ke Bandara Dulles Washington, semua kopor harus keluar dari bagasi. Kami harus membuka kuncinya.

Dan, petugas hanya tahu bahwa kopor dengan kunci kombinasi nomor harus dalam posisi angka 000, jika tidak dikunci. Ini tidak disadari salah seorang teman dalam grup kami. Dia sudah mengeset nomor lain untuk membuat kopor dalam kondisi tak terkunci.

Rupanya petugas memeriksa lebih intensif kopor yang masuk bagasi tadi. Sesampainya di Dulles, baru diketahui kunci itu rusak dijebol. Tidak bisa ada klaim apa pun, karena peraturan memperbolehkan petugas pemeriksa menjebol kopor yang dianggap terkunci tadi.

Diperiksa Lagi

Persoalan serius ternyata dialami kelima rekan kami yang sejak pengurusan visa sudah terasa bermasalah. Mereka adalah rekan dari Kompas, Budiman Tanuredjo, sarjana teknik nuklir. Saat itu dia masih harus menunggu dua minggu lagi untuk clearance dari Washington. Demikian juga Muhammad Nurkolis Ridwan dari Sabili, Muhammad Lapang dari majalah Gontor, Priyantono Oemar (Republika), dan Sapto Waluyo dari majalah Saksi.

Begitu memasuki pemeriksaan paspor di Bandara San Francisco, kelimanya diminta masuk secondary office. Secara terpisah mereka kemudian diperiksa lebih intensif. Pemeriksaan sekitar satu jam lebih. Ini menyebabkan mereka tidak bisa mengejar pesawat ke Dulles bersama anggota grup yang lain.

Belakangan setelah bertemu esoknya di hotel di Washington, Budiman betul-betul marah-marah. Dia benar-benar tak habis pikir. Kedatangan kami ke Amerika Serikat adalah sebagai tamu yang diundang, tetapi ternyata tak ada perlakuan khusus apa pun.

Surat pengantar Atase Pers Kedubes di Jakarta tak mempan sama sekali. Bahkan, dalam pemeriksaan itu, petugas malah tanya kenapa Pemerintah AS mengundang wartawan dari Indonesia.

"Ya tidak tahu, jangan tanya saya. Tanya sama pemerintah Anda," kata Budiman ketus.

"Lho Anda kok bisa mendapat visa untuk kerja?í"

"Mana saya tahu visa itu untuk kerja atau apa. Kami ini ke sini karena diundang," jawabnya lagi.

Budiman kemudian juga diminta mengisi formulir tentang keluarganya, tinggi, berat badan, dan lain-lain. "Kapan ayahmu lahir?"

"Saya lupa."

"Lho, anak kok tidak tahu kelahiran bapaknya?"

Budiman merasa dalam situasi dialog yang konyol. "Pak, saya tidak hapal. Bapak saya meninggal ketika saya usia tiga tahun."

Dia kemudian diminta mengangkat sumpah bahwa semua informasi yang diberikannya adalah benar. Segala hal yang tidak benar akan dikenai hukuman sesuai dengan UU. "Tidak mau saya kalau bersumpah. Anda bacakan saja, saya akan mengikuti," katanya.

Sapto malah lebih rumit lagi. Data dirinya ternyata tidak tercantum dalam komputer Imigrasi. Jadi, selain berbagai interogasi, akhirnya dia harus mengisi ulang formulir seperti ketika mengajukan visa di Jakarta. Ini memang mengherankan. Kalau memang data Sapto tidak ada di komputer, mengapa dia bisa memperoleh persetujuan visa? Lagi-lagi tidak ada penjelasan apa pun mengenai ini.

Untunglah urusan terbang ke Dulles menjadi beres setelah mereka menelepon pendamping kami di Washington, Larry Fisher dan Josi Katoppo. Meskipun bagasi mereka sempat hilang sehari entah ke mana.

Kami kemudian jadi bertanya-tanya. Jika kami yang tamu diundang saja mengalami kejadian seperti itu, bagaimana warga asing yang melakukan perjalanan reguler dan kebetulan bermasalah? Apa yang akan terjadi padanya? (Bagas Pratomo dari Washington DC-78t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA