| Selasa, 01 Februari 2005 | NASIONAL |
PM Allawi Serukan PersatuanBAGDAD - Perdana Menteri Irak Iyad Allawi berjanji, Senin kemarin, akan menyatukan negeri yang terpecah dalam persaingan kelompok etnis dan agama, sehari setelah jutaan pemilih mengabaikan ancaman gerilyawan, untuk memberikan suara dalam pemilu bersejarah. ''Sejak hari ini, saya akan memulai dialog nasional baru untuk menjamin seluruh warga Irak mempunyai suara dalam pemerintahan baru,'' katanya dalam pidato yang disiarkan televisi. Dia berbicara di pusat konferensi pers yang dulu digunakan Saddam Hussein dan para pejabatnya. ''Seluruh dunia sedang memperhatikan kita. Ketika kita bekerja sama Minggu lalu untuk mengakhiri kediktatoran, sekarang mari kita bekerja sama untuk mewujudkan masa depan gemilang. Kaum Suni dan Syiah, umat Islam dan Kristen, suku Kurdi, Arab, dan Turkmen, semua bersatu,'' katanya. Seruan itu merupakan upaya untuk memanfaatkan momentum yang diciptakan pada pemungutan suara Minggu (30/1), ketika para pejabat penyelenggara pemilu memperkirakan sekitar delapan juta warga Irak memberikan suara. Dan hasil resminya baru bisa diketahui dalam 8-10 hari mendatang. Hal itu membantah perkiraan bahwa banyak warga takut mencoblos karena gerilyawan mengancam akan membunuh mereka. Namun, meski warga Irak antre dengan antusias untuk memberikan suara mereka di banyak tempat pemungutan suara (TPS), jumlah pemilih tampak sedikit di daerah-daerah Suni. Daerah-daerah Suni merupakan basis perlawanan terkuat di Irak. Kecilnya jumlah pemilih yang datang ke TPS mencerminkan perpecahan masyarakat yang berbahaya bagi pemerintahan baru. ''Inilah waktunya untuk menempatkan perbedaan sebagai bagian masa lalu dan mari kita bekerja sama untuk menunjukkan kepada dunia betapa kuat dan potensial negara ini,'' kata Allawi, yang berpeluang menjadi PM kembali dalam pemerintahan mendatang. Syiah Diperkirakan Menang Muslim Syiah, yang jumlahnya mencapai 60 persen penduduk Irak, diperkirakan secara luas akan memenangi sebagian besar suara dalam pemilu tersebut. Para pejabat di koalisi utama pimpinan Syiah, yakni Aliansi Irak Bersatu, telah mengklaim kemenangan sementara. Para pemimpin Syiah segera mengeluarkan jaminan bahwa mereka berencana untuk melibatkan kaum Suni (yang dominan pada masa Saddam) ke dalam proses politik. ''Kami memperhitungkan berbagai pihak, termasuk Suni,'' kata Ibrahim Bahr al-Uloum, eks menteri perminyakan dan kandidat dari Aliansi Irak Bersatu. ''Saya tidak yakin, banyak warga Irak akan mengalami perang saudara dalam jangka pendek atau panjang. Kami menjamin saudara kami bahwa setiap tahun perkembangan Irak pasti mencakup seluruh bagian Irak. Tak ada yang tertinggal.'' Di sebagian besar wilayah Irak ada semacam kepuasan setelah pemungutan suara itu. Banyak orang memamerkan jari mereka yang dibubuhi tinta ungu. Mereka bangga telah berani menentang ancaman kaum gerilyawan dan memberikan suara dalam pemilu multipartai pertama selama 50 tahun terakhir. Kaum militan mencoba untuk membuktikan ancaman mereka. Gerilyawan menewaskan 35 orang dalam aksi bom jibaku dan sejumlah serangan mortir. Namun jumlah korban tewas jauh lebih kecil ketimbang yang dikhawatirkan. Mendagri Falah al-Naqib mengaitkan situasi tenang selama tiga hari itu sebagai buah dari pengamanan yang ketat. Menurutnya, lebih dari 200 tersangka gerilyawan ditangkap di seluruh Irak. Dunia Memuji Pujian atas pemilu tersebut datang dari seluruh dunia. Namun para pakar memperingatkan bahwa kesuksesan sesungguhnya bergantung pada apakah kaum Suni mau menerima hasil dan terlibat dalam proses politik tersebut. Walaupun di beberapa daerah Suni banyak antrean terjadi di TPS-TPS, di sebagian kota lainnya seperti Baiji, Ramadi, dan Samarra, hampir tidak ada pemilih mencoblos. Di sisi lain, di Irak selatan yang menjadi basis Syiah dan Kurdi di Irak utara, jumlah pemilih yang memberikan suara sangat besar. Para pejabat pemilu mengatakan, kemarin, jumlah pemilih yang mencoblos di dua pronvinsi basis Suni lebih besar ketimbang perkiraan semula. Namun mereka tidak menyebutkan angkanya. Mereka juga mengatakan, putaran pertama penghitungan suara telah selesai dan tahap kedua baru dimulai. Mereka tidak mengatakan kapan penghitungan itu berakhir. Presiden AS George W Bush, yang memandang pemilu itu sebagai titik balik kehadiran militan AS di Irak selama 22 bulan terakhir, memuji pesta demokrasi tersebut sebagai ''kesuksesan gemilang''. Dia berharap, pemilu itu bakal menyatukan rakyat Irak dan mengalahkan gerilyawan. (rtr-ben-46) |