| Selasa, 01 Februari 2005 | MURIA |
Peran Dewan Kesenian KudusBILA sekarang merupakan saat-saat yang menegangkan bagi pendukung Tim Persiku, barangkali tidak demikian bagi insan seni terhadap Dewan Kesenian di Kudus. Lho, apa hubungan pendukung Persiku dengan insan seni? Pertama, ingin segera memperoleh kepastian ''jadi''-nya skuad Persiku yang segera menghadapi Kompetisi Divisi II Nasional dan ingin segera melihat tim kesayangannya lolos ke Divisi I. Kedua, hanya menunggu-nunggu kepastian ''jadi''-nya ''kabinet'' Dewan Kesenian hasil Musda pada 19 Desember 2004 -di mana Ngatmin Alimanda terpilih sebagai ketua- yang sampai artikel ini ditulis tak kunjung diumumkan. Tidak seperti pendukung Persiku yang haus prestasi, insan seni di Kudus barangkali cukup sabar menanti dan bisa jadi malah cuek. Toh ada atau tidak ada Dewan Kesenian juga tidak terlalu dipikirkan. Kalaupun ada yang ingin segera mendengar pengumuman itu, hanya sebagian kecil dari mereka. Bagi yang sebagian kecil itu dan penulis termasuk di dalamnya, sudah barang tentu pada jajaran pengurus Dewan Kesenian yang baru itulah harapan ditumpukan. Tak lain perkembangan dan prestasi kesenian di Kudus dapat digapai yang pada gilirannya akan mengangkat harkat masyarakat Kudus, khususnya insan seni. Harapan itu tidak akan menjadi impian kosong, manakala pengurus Dewan Kesenian yang baru nanti bekerja secara efektif dan dalam suasana yang kondusif. Efektivitas dan kondisi yang memungkinkan untuk bekerja dengan baik tentu bukan datang begitu saja, melainkan harus sengaja diciptakan dan disiasati. Maka, kekurangan atau kelemahan kinerja Dewan Kesenian Kudus periode sebelumnya tidak dilakukan lagi. Demi kebaikan dan kemajuan kinerja pengurus yang baru -dan mohon tidak diartikan sebagai pelecehan atau penghujatan terhadap pengurus lama- barangkali perlu dibeberkan kendala yang dihadapi oleh pengurus lama. Kendala yang dihadapi antara lain pengurus terjebak oleh penempatan sejumlah besar seniman kedalam kepengurusan, yakni lebih dari 40 orang. Ironisnya, dari sejumlah pengurus itu bila diundang rapat yang hadir tidak lebih dari sepertiganya, dan sudah bisa diduga yang hadir orang yang itu-itu saja. Selain itu, ketika komite-komite yang ada ditugasi membuat program kerja, hanya sebagian kecil komite yang melaksanakannya. Ketika anggaran harus dikeluarkan maka yang mendapat jatah hanya komite atau komunitas seni yang mengajukan proposal. Ada lagi yang mengganggu program kerja pengurus, yaitu ketidakpastian anggaran untuk Dewan Kesenian. Ketidakpastian yang menyebabkan sebagian besar pengurus tidak tahu seberapa besar anggaran untuk tahun berjalan. Selain seberapa besar dan tanpa bukti hitam di atas putih, ditambah pula rancu dengan keuangan Bagian Sosial Pemkab yang menyebabkan terkesan tidak ada transparansi. Hal tersebut diperparah tidak adanya audit keuangan internal ataupun eksternal. Hal itu tidak boleh terjadi pada kepengurusan yang akan datang. Perampingan Demi efektivitas kinerja pengurus yang baru, barangkali perampingan pengurus perlu dilakukan. Selain ketua, sekretaris, dan bendahara, maka komite-komite yang tidak perlu harus dipangkas. Bila setiap jabatan hanya diisi oleh dua orang (ketua dan wakilnya), kabinet Dewan Kesenian tidak akan kegemukan yang menjadi sebab lamban gerakannya. Jumlah 20 orang pengurus sudah sangat maksimal. Perampingan itu boleh jadi mengeliminasi beberapa jabatan, antara lain jabatan ketua bidang kreativitas atau litbang. Tugas itu sebenarnya relevan bila dilimpahkan kepada ketua-ketua komite yang ada. Dengan demikian, tugas tiap-tiap ketua komite bukanlah sebagai penyelenggara pergelaran-pergelaran seni, karena logikanya tugas itu dikerjakan langsung oleh komunitas seni yang mendapat ''bantuan'' dari Dewan Kesenian. Namun, ketua komite akan berkonsentrasi kepada riset dan pengembangan kesenian, seperti mengadakan lomba, lokakarya, sarasehan, pemberian penghargaan seni, bersinergi dengan komite lainnya menerbitkan jurnal/majalah kesenian. Singkat kata, tugas ketua komite hanyalah mendorong aktivitas dan kreativitas cabang seni pada bidangnya masing-masing. Tugas yang terdengar sepele tetapi tidak ringan. Visi dan misi Meski saat ini penulis sudah berada di luar sistem, ada satu hal yang perlu penulis kemukakan sebagai sumbang saran. Dalam rangka mengimplementasikan fungsinya sebagai pengarah bertumbuh-kembangnya kesenian di Kudus, Dewan Kesenian Kudus mutlak perlu menjabarkan visi dan misinya. Perkembangan yang bagaimana dan target yang ingin dicapai perlu dibentangkan, untuk kemudian disusun program jangka panjang dan jangka pendek. Dengan semua itu, akan menjadi jelas acuan bagi pengurus untuk melangkah melaksanakan pekerjaannya serta memudahkan penilaian -kecuali kalau memang sengaja menghindari- kinerja masing-masing. Dibilang gagal atau berhasil akan mudah disimpulkan, karena sudah jelas parameternya. Akhirnya, selamat menunaikan tugas besar nan berat. Semoga berhasil dan selamat sampai tujuan!(90s) - Penulis adalah penyair, mantan pengurus Dewan Kesenian Kudus |