logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 01 Februari 2005 MURIA
Line

Dari Dialog Petani, Pemerintah, dan Akademisi (1)

Petani Tak Percaya Diri Sektor Pertanian Melorot

PEKAN kemarin, mahasiswa Sunan Kalijaga Jogja Jepara (Maskara) memediasi petani, Pemkab, dan akademisi untuk mengeksplorasi masalah-masalah yang dihadapi petani Jepara. Acara yang diikuti para petani di Kecamatan Mayong menuntut berbagai kalangan untuk segera mencarikan jalan keluar.

Hadi Mulyono (53), petani asal Desa Pancur, Kecamatan Mayong mendapat kesempatan pertama mencurahkan unek-unek selama puluhan tahun menjadi petani. Dia menuturkan, di Desa Pancur terhampar 1.008 ha areal pertanian.

Dari luas itu, 300 ha di antaranya sawah yang saat musim hujan ditanami padi.

Luas sisanya adalah tanah tegalan, kebun, dan pekarangan yang ditanami palawija, umbi-umbian, dan buah-buahan. Sebuah kondisi yang hampir mewakili daerah-daerah pertanian lain di Jepara.

Pendukuk desa itu sekitar 10.000 jiwa. Jika satu orang, ungkapnya, dalam sehari menghabiskan dua ons beras. Rata-rata per musim panen di desanya menghasilkan kurang lebih 600 ton beras.

''Dari hasil itu, kami yang berjuluk petani ini kalau sudah pertengahan tahun, kira-kira Juli sudah kehabisan stok beras. Kami harus nempur. Hal ini sangat menyulitkan, terlebih jika panen sekali dalam setahun,'' paparnya.

Sulitnya sarana untuk mengalirkan air dari sungai ke saluran irigasi, menjadi satu penentu dalam setahun bisa panen sekali atau dua kali. Karena jika tidak ada pompa air, praktis pengairan hanya mengandalkan turunnya air hujan.

''Musim kemarau tahun lalu begitu lama. Air sungai tak selamanya mengalir, karena tanah resapannya gundul. Air hujan dikirim ke laut. Saat kemarau, kami yang di daerah atas nyaris tak punya cadangan air,'' ungkapnya.

Suromo (57), petani ketela Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong melengkapi keluhannya. Meski sudah tiga tahun, tiga hektare tanaman ketelanya yang sudah siap panen dibiarkan hidup.

''Saya tak memanennya, karena harga jualnya sangat murah,'' tuturnya. Konon, kualitas sari ketela di daerahnya tak begitu bagus lantaran bibitnya tidak berkualitas.

Biaya perawatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual, membuatnya kehilangan kepercayaan diri. ''Ujung-ujungnya pasti kami rugi,'' keluhnya.

Ada dilema lain dibenaknya. Areal yang ditanaminya termasuk areal sasaran penghijauan lewat program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) oleh Pemkab yang juga sangat urgen dan harus sukses. Jika lahan itu tidak ditanami ketela, sudah barang tentu tanaman jati, rambutan, mindi, dan lain-lain yang masih kecil akan dimakan ternak.

''Tetapi kalau saya tanami ketela dengan biaya tinggi, hasilnya tak seberapa,'' tambahnya.

Melorot

Sekelumit keluhan petani itulah yang membuat sektor pertanian di Jepara melorot. Kabid Ekonomi Bappeda Kabupaten Jepara Sujarot mengatakan, sebelum 1998 sektor pertanian di Jepara menjadi andalan. Pada 1999 industri pengolahan (me-bel) menggeser.

Saat itu pertanian anjlok di urutan ketiga setelah perdagangan, hotel, dan restoran. Hal itu terjadi hingga 2003. ''Dalam masa itu, pertanian benar-benar terimpit,'' katanya.

Baru, pada 2004 lalu pertanian menduduki peringkat kedua setelah sektor industri pengolahan. Demikian pula unggulan di sektor pertanian bukan di tanaman pangan seperti padi, melainkan pada buah-buahan yang pada 1998 sempat anjlok.

Ketela pohon yang menjadi tanaman andalan dataran tinggi hanya di posisi keempat setelah buah-buahan, padi, dan kacang tanah.

Dia berharap seluruh komponen bisa membaca peluang sektor pertanian yang patut dikembangkan.

''Saya pikir buah-buahan akan sangat menjanjikan. Tanaman pangan (padi) memang perlu mendapat perhatian serius, terutama mengenai masalah sarana-prasana pengolahan, hingga kebijakan-kebijakan global seperti harga pupuk yang membuat petani menjerit,'' katanya. (Muhammadun Sanomae/Bersambung-90s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA