| Selasa, 01 Februari 2005 | SEMARANG |
Sengkala itu Terbang Bersama BurungDENGAN iringan "O Mi To Fu", lagu puja-puji untuk Sang Budha dan Dewi Kwan Im, puluhan orang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Minggu (30/1) siang, melepas burung-burung kecil dari dalam sangkar. Satu-demi satu, burung-burung tersebut terbang ke udara. Sebagian hinggap di atap, yang lain melesat entah ke mana. Orang-orang itu percaya, burung-burung itu terbang bersama sengkala dan karma-karma buruk mereka. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, ritus itu disebut fang shen, yang secara harfiah artinya melepas makhluk hidup. Ia adalah bagian dari upacara cie swak, atau membuang sial (ciong) yang dilakukan oleh orang-orang yang dipercaya mempunyai sengkala. Pada tahun ayam air ini, mereka adalah para pemilik shio kuda, tikus, kelinci, dan ayam. Cie swak biasa dilakukan setiap menjelang tahun baru Imlek, utamanya sebelum sang sin, yakni masa para Toa Pe Kong berangkat ke langit untuk melaporkan amal perbuatan manusia selama setahun kepada Tuhan. Tak hanya burung, binatang lain yang dilepaskan adalah ikan, kura-kura. Serupa dengan fang shen, sebagian umat melarung pakaian bekas mereka dalam ritus poo un Sementara pakaian bekas dilarung ke sungai atau laut. Mereka percaya, hal itu dapat menghilangkan sengkala yang melekat. Sehingga pada tahun baru mendatang dapat menjalani hidup dengan tenang dan senantiasa mendapat keselamatan. "Burung, ikan atau kura-kura itu kan punya jiwa. Kalau kita membebaskan mereka, berarti kita membuat karma baik. Hal itu bisa membersihkan jiwa dan membersihkan sengkala," kata Ketua TITD Jawa Tengah Sindhu Darmali. Ditambah Lima Upacara dimulai sekitar pukul 10.00 dengan melakukan sembahyangan di depan altar. Dipimpin pendeta Ting Gwan Hien, umat Tridharma yang melakukan cie swak membakar hio swa sembari membaca mantra-mantra suci. Sementara, syarat yang mereka bawa, seperti burung, ikan dan pakaian bekas diletakkan begitu saja di pelataran. Jumlah burung ataupun ikan tidak sembarangan, melainkan harus sesuai ketentuan, yakni sebanyak bilangan umur mereka ditambah lima. Artinya, jika seseorang berumur 30 tahun, burung yang dia lepaskan adalah 35 ekor. Menjelang tengah hari, burung-burung dan ikan-ikan tersebut dilepaskan. Burung dilepas begitu saja di pelataran kelenteng, sementara ikan dilepas di Kali Semarang. Usai fang shen, mereka, dipimpin pendeta Ting Gwan Hien kembali melakukan sembahyangan. Kali ini untuk memberi kekuatan kepada hu, yakni kertas bertuliskan rajah yang diyakini dapat memberi keselamatan dan keberuntungan. Kertas-kertas hu yang berwarna kuning itu kemudian diberi stempel merah. Umat akan memasang hu pada tempat-tempat tertentu, seperti di depan pintu, dinding kamar, atau disimpan di dalam dompet. Piek Swie Liem (65), kemarin datang ke Kelenteng Tay Kak Sie. Sebagai pemilik shio kelinci, dia merasa wajib mengikuti fang shen. Lelaki yang tinggal di Jl Karanganyar itu melepaskan 70 ekor burung dan melarung beberapa potong pakaian dalamnya. "Tahun ini, shio saya kurang bagus. Mangkanya harus di cie swak, biar apes-nya hilang, dapet selamat dan peruntungan," ujarnya.(Rukardi-84) |