| Selasa, 01 Februari 2005 | SEMARANG |
Talud Dibongkar, Gedungbatu BanjirSEMARANG - Hujan deras yang turun kemarin siang, menyebabkan beberapa wilayah di kawasan Gedungbatu, yakni Jl Gedungbatu Tengah, Jl Gedungbatu Tengah I, dan Jl Gedungbatu Tengah IV, tergenang air. Di Jl Gedungbatu Tengah, ketinggian air mencapai 60 cm, hingga memasuki beberapa rumah warga. Air tidak terlalu lama menggenang. Begitu hujan reda, segera surut. Meski demikian, kondisi itu mengganggu aktivitas dan merepotkan warga. Mereka harus membersihkan lantai rumah dan jalan-jalan di depannya. Air berasal dari saluran di depan kompleks Kelenteng Gedungbatu, yang melimpah akibat dibongkarnya sebagian talud untuk pembuatan dua jembatan pintu gerbang kelenteng tersebut, yakni di sebelah selatan dan timur. Setiap talud yang dibongkar, panjangnya 10 meter. Dari celah itulah, air melimpah ke Jalan Simongan, untuk selanjutnya menggenang di permukiman warga yang letaknya lebih rendah. Saat banjir masih menggenang, sejumlah warga mendatangi proyek pembangunan jembatan pintu masuk Kelenteng Gedungbatu. Mereka terlihat emosi, dan berniat membongkar jembatan yang telah separo jadi itu. Namun, emosi itu berhasil diredam oleh Ketua RT 8 RW 5 Kelurahan Ngemplak Simongan, Irawan. Jeremia Hari (39), seorang warga menuturkan, banjir sebenarnya telah menjadi langganan di lingkungannya. Setiap turun hujan, hampir dipastikan lingkungannnya tergenang air. Pelebaran saluran dan pembuatan talud di depan kompleks Kelenteng Gedungbatu, sebenarnya cukup membantu mengatasi masalah banjir di kawasan itu. Namun pembongkaran talud untuk pembangunan pintu gerbang kelenteng itu, menyebabkan air kembali melimpah ke permukiman warga. Menurut Ketua RT 8 RW 5 Kelurahan Ngemplak Simongan, Irawan, banjir di lingkungannya tidak akan pernah teratasi selama masukan warga tidak pernah diperhatikan. Contoh yang paling konkret, pembongkaran talud untuk pembuatan jembatan pintu masuk Kelenteng Gedungbatu tersebut. Selain persoalan talud, Irawan juga menunjuk beberapa titik lain yang dianggap menjadi penyebab banjir. Antara lain, tidak terawatnya saluran air di Jl Condrokusumo yang terletak di sebelah selatan Klelenteng Gedungbatu, serta sempitnya gorong-gorong di sebelah utara kelenteng tersebut. "Kalau hujan, Jl Condrokusumo berubah menjadi semacam saluran air. Meski ujung jalannya sudah ditinggikan, tetap tak bermanfaat. Air tetap melimpah ke Jl Simongan." Seharusnya, lanjutnya, pada ujung jalan itu dibuat selokan melintang, yang di atasnya diberi besi ram, sehingga air hujan tidak melimpah ke jalan, tapi masuk ke dalam selokan. Adapun, sempitnya gorong-gorong di sebelah utara Kelenteng Gedungbatu menjadikan aliran air terhambat. Akibatnya, air hujan yang mengalir melalui saluran itu melimpah ke jalan. Perwakilan Kelenteng Gedungbatu, Ridwan menjelaskan, pembongkaran talud sifatnya hanya sementara, selama pelaksanaan pembangunan jembatan pintu masuk itu.Rencananya, proyek itu akan selesai Mei mendatang. Namun dengan terjadinya banjir di Gedungbatu, pihaknya akan segera menutup talud yang dibongkar. (H6-64a) |