| Selasa, 01 Februari 2005 | SEMARANG |
Tanggul Kali Bringin Jebol di Enam Titik
TUGU- Tanggul Kali Bringin yang terletak di Kelurahan Mangkang Wetan dan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Senin (31/1) kemarin jebol di enam titik. Tanggul kali setinggi empat meter itu jebol sekitar pukul 12.30, satu jam setelah hujan deras mengguyur bagian hulu sungai. Meski sudah diperkuat dengan terucuk bambu, tanggul tersebut tidak mampu menahan air yang mengalir deras dari hulu. Menurut Muhamir, warga Mangkang Wetan, sesaat setelah hujan deras, permukaan air Kali Bringin mencapai 4,5 meter. Padahal pada saat surut, permukaan air hanya sekitar tiga meter. Lebar Kali Bringin saat ini sudah dilebarkan menjadi 10 meter. Namun akibat hujan deras, air tetap melimpas ke permukiman warga RT 1 RW 5. "Sejumlah titik di RT 2 dan titik yang berbatasan dengan tambak kemudian jebol. Jika tidak jebol, limpasan air kemungkinan bertambah parah," kata dia. Akibat jebolnya tanggul Kali Bringin, puluhan rumah penduduk terendam air setinggi 30 cm. Air melimpah sampai ke jalan raya Mangkang dan membuat kemacetan sekitar tiga kilometer. Arus lalu lintas dari barat dialihkan melalui Jalan Ngaliyan-Boja. Namun jalan di dekat Silaur longsor sampai menutup separo badan jalan, sehingga kendaraan harus merangkak. Dinas Perhubungan Kota Semarang telah memasang tanda agar kendaraan berjalan hati-hati. Jebolnya tanggul yang berbatasan dengan tambak penduduk juga mengakibatkan puluhan hektare tambak siap panen rusak parah. Menurut sejumlah warga, lima titik tanggul yang jebol itu terletak di Kelurahan Mangkang Wetan, dan hanya satu titik yang berbatasan dengan Kelurahan Mangunharjo. Berdasarkan pantauan Suara Merdeka, diketahui satu titik tanggul yang jebol berbatasan dengan permukiman warga RT 2 RW 5 Kelurahan Mangkang Wetan. Akibat tanggul yang jebol selebar 15 meter itu, sekitar 50 rumah warga RT 2 dan RT 3 RW 5 Kelurahan Mangkang terendam air setinggi 30 cm. Kristini (50), warga RT 2 yang rumahnya berbatasan dengan tanggul mengaku cemas saat tanggul jebol. Ibu tiga anak itu bergegas menyelamatkan seorang anaknya yang masih kecil. Dia juga mengamankan beras agar terhindar dari rendaman air. "Setelah tahu ada tanggul jebol, beberapa tetangga lantas menutup jebolan itu dengan kayu, ranting-ranting pohon, dan tumpukan karung. Tetapi apa daya, air telanjur masuk," kata Kristini. Persis di depan titik jebolan di RT 2 RW 5, tanggul jebol di dua titik. Masing-masing berbatasan dengan areal persawahan. Akibatnya, air mengalir deras ke areal persawahan dan mengakibatkan sekitar tiga hektare tanaman padi terendam air. Sementara itu, jebolnya tanggul Kali Bringin yang berbatasan dengan tambak warga diperkirakan mengakibatkan kerugian hingga jutaan rupiah. Suyut (45), salah seorang pemilik tambak mengaku tak sanggup lagi memperbaiki tambak yang rusak. Tambak milik Suyut seluas tiga hektare berbatasan langsung dengan tanggul Kali Bringin. Tak kuat menahan banjir, tanggul tambak Suyut bobol di dua titik selebar delapan meter. Akibatnya, sekitar 30.000 udang bago dan 5.000 ekor bandeng siap panen milik Suyut hanyut diterjang banjir. "Saya tidak punya uang untuk memperbaiki tanggul. Kerugian dari bandeng dan udang saja kira-kira sudah Rp 15 jutaan," keluhnya. Selain tanggul milik Suyut, paling sedikit empat hektare tambak rusak parah akibat tanggul yang berbatasan dengan Kali Bringin jebol. Meski demikian, luas tambak yang rusak diperkirakan mencapai puluhan hektare. "Kalau satu tambak jebol, air akan melimpas ke tambak-tambak di sebelah kanan-kiri. Jadi tidak hanya tambak saya yang rusak, tambak-tambak milik tetangga juga ikut kemasukan banjir," ungkap Suyut. Jebolnya tanggul Kali Bringin itu merupakan kali kedua sejak tanggul sungai tersebut diperbaiki. Sebulan yang lalu, tanggul Kali Bringin yang berbatasan dengan tambak milik H Hambali juga jebol selebar 40 meter. Padahal saat itu Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan warga sedang melakukan pengerukan sungai. Warga mengaku sudah melaporkan kedua kejadian itu kepada Dinas PSDA Jateng. Silandak Sementara itu, Kali Silandak di dekat ujung barat laut landasan pacu Bandara A Yani, kemarin juga meluap. Peristiwa itu menyebabkan sekitar 10 ha tambak milik warga tergenang. Dadang, salah seorang pekerja perpanjangan landasan pacu mengatakan, hujan mulai turun sekitar pukul 09.45 dan sekitar pukul 12.00 Kali Silandak mulai meluap. Air kemudian melimpas ke Kali Jumbleng di sebelah sungai itu. Air sungai kecil tersebut kemudian juga meluap dan masuk ke tambak warga. "Kalau hujannya lebih deras dan lama, air bisa masuk ke bandara," kata dia. Beberapa anggota TNI yang saat itu berada di lokasi menuturkan, aliran Kali Silandak saat itu cukup deras. Saat mulai meluap, beberapa warga yang sedang berada di atas tanggul langsung berusaha menyelamatkan diri. Mereka juga terpaksa menjebol pintu pagar yang berbatasan dengan perumahan Graha Padma. Penjelasan serupa juga disampaikan Mat Said (45), warga Kelurahan Tambakharjo. Dia mengatakan, air menggenangi hampir 10 ha tambak milik warga. Ditanya tentang jumlah kerugian, dia mengaku belum bisa memperhitungkan. Menurut dia, luapan Kali Silandak tersebut terjadi akibat peningkatan debit dan penyempitan di bagian hulu. Badan Sungai Silandak yang semula selebar 30 meter, menyempit menjadi sekitar 15 meter. "Kami berharap pemerintah mau memperbaiki sungai itu," kata dia. Seorang Tewas Sementara itu, hujan deras yang turun sepanjang siang hingga sore kemarin juga merenggut korban jiwa. Seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun ditemukan tewas mengapung di dekat tumpukan sampah tepian Kali Bringin yang masuk wilayah Kelurahan Mangkang Wetan. Identitas lelaki itu belum diketahui. Dia tidak membawa kartu pengenal. Diduga dia bukan penduduk Mangkang Wetan, karena tak ada satu pun warga sekitar lokasi yang mengenalinya. Jenazah lelaki yang diperkirakan tenggelam karena terpeleset dan kemudian terbawa arus sungai itu mengenakan celana pendek warna cokelat, baju merah muda, dan sarung kotak-kotak hitam. Saat ditemukan, sekujur tubuhnya terbalut lumpur hitam. Jenazah diketahui kali pertama oleh beberapa orang yang melintas di pinggir kali, tak lama setelah hujan reda sekitar pukul 17.00. Menjelang maghrib, warga bersama aparat Polsek Tugu mengangkat jenazah dan membawanya ke kamar mayat RS Dr Kariadi. (H5,G6-64s)(G3-84) |