| Selasa, 01 Februari 2005 | EKONOMI |
Jaringan Bank Syariah MeningkatSEMARANG-Jumlah jaringan perbankan syariah terus meningkat. Dua tahun terakhir jumlah kantor bank umum syariah, BPR syariah, dan unit usaha syariah (UUS) yang beroperasi di Jateng tumbuh sekitar 33,3% dari 45 unit menjadi 61 unit. ''Perbankan syariah masih punya peluang untuk tumbuh. Di luar negeri, misalnya Malaysia dan Inggris, nasabah yang memanfaatkan jasa bank syariah tidak hanya kalangan muslim. Asal produknya dinilai lebih menguntungkan nasabah pasti menggunakan layanan syariah,'' kata Amril Arief, Koordinator Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah/DIY, baru-baru ini. Sekitar 28 kantor bank umum syariah yang terdaftar di Jateng, lanjut dia, terdiri atas 12 kantor cabang, 4 kantor cabang pembantu, dan 12 kantor kas. Kantor itu merupakan perwakilan bank umum berskala nasional. ''Secara keseluruhan jumlah kantor yang beroperasi di Indonesia terdiri atas 87 kantor cabang, 37 kantor cabang pembantu, dan 121 kantor kas,'' ujarnya. Dibandingkan dengan perbankan konvensional, lanjut dia, pangsa perbankan syariah memang masih kecil. Total asetnya hanya sekitar 1,02% dari total perbankan nasional. Nilai asetnya hingga November 2004 Rp 612 miliar, jauh di bawah bank konvensional yang mencapai Rp 59,9 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) yang dikumpulkan perbankan syariah sekitar Rp 415 miliar atau hanya 0,87% dari DPK bank konvensional yang tercatat Rp 47,9 triliun. ''Dari sisi pembiayaan, perbankan syariah baru menyalurkan Rp 611 miliar atau 1,68% dari total kredit bank konvensional sebesar Rp 36,4 triliun,'' tuturnya. Sementara itu jumlah BPR syariah masih sedikit. Dari total kantor bank syariah 61 unit kantor BPR syariah hanya 5 unit. Dari tahun 2003 jumlah itu hanya bertambah dua unit, yakni dari 3 menjadi 5 unit pada akhir tahun lalu. Namun, perkembangan jaringan kantor BPR cukup baik. Jika total BPR di Jateng tahun 2003 hanya 584 unit, maka setahun kemudian naik menjadi 598 unit. Pertumbuhannya mencapai 1,2%. Secara keseluruhan kinerja BPR hampir semua mengalami pertumbuhan. Nilai aset, misalnya, tumbuh 13,53% dari Rp 3,1 miliar menjadi Rp 3,7 miliar. Nominal DPK naik 11,49% dari Rp 2,3 miliar menjadi Rp 2,7 miliar. Jumlah dana tersebut didominasi oleh tabungan. (rei-53) |