BAGIAN Pertama

15

TOKOH khayalan Abilawa yang juga berperan penting dalam kisah ini selanjutnya adalah Yustina. Kekasih imajinernya. Abilawa merasa perlu punya tambatan asmara sekaligus pribadi setia yang selalu siap sedia diajak berdiskusi tentang apa saja. Abilawa sadar, mustahil baginya melakukan percintaan dan perdebatan dengan manusia nyata. Maka, dengan sepenuh hati, Abilawa memohon kepada Sang Imajinasi untuk menciptakan kekasih khayalan.

Semula Abilawa sempat mengkhayalkan dirinya sebagai manusia pertama. Dan Yustina terjelma dari sempalan tulang rusuknya. Lantas ia khayalkan seekor biawak yang membujuk mereka menikmati buah kesemek. Mengapa kesemek? Sebab, kata sang biawak, kesemek memulas wajahnya dengan bedak. Itu pertanda bahwa kesemek adalah buah rahasia. Cuma buah langka. Tapi bukan buah terlarang. Kalian boleh menikmatinya. Dan berkat bujuk rayu biawak yang cerdik, buah rahasia itu pun mereka petik.

Namun, khayalan itu batal setelah secara tak sengaja ia membaca sajak banal karya seorang penyair tak terkenal:

Setengah takut lelaki itu tertegun,

buah itu nyangkut menjadi jakun

Perempuan itu, agaknya, lebih menurutkan

selera tanpa sungkan ia menelan dua,

tapi perut tak mau terima

buah itu menggelayut menjelma buah dada

Lelaki itu melirik dengan jakun turun-naik-turun,

perempuan itu berbalik menutup tubuh dengan

daun

Saat itu, demikian kisahnya, tercipta rasa malu

yang pertama

Sial bagi ular yang cuma bercanda,

ia dituduh sebagai pihak ketiga,

dalang perbuatan mereka

Maka, dikutuk ia hingga melata-lata

Bukan. Bukan karena sajak itu aku mengganti khayalanku. Kenapa kalian berpikir begitu? Sajak itu jelas tidak bermutu. Gagasannya terlalu umum, semua orang sudah tahu. Tak akan pernah aku menulis masalah remeh-temeh seperti itu. Tidak akan. Jika aku mengubah khayalan, tentu karena aku punya beberapa alasan.

Satu, ia sadar Abilawa bukan manusia pertama. Yustina bukan manusia kedua. Abilawa bukan Adam. Yustina bukan Hawa. Abilawa dan Yustina membutuhkan masa silam, para pendahulu, ruang dan waktu yang punya tanda; demi menegaskan bahwa betapapun hanya tokoh-tokoh khayalan, mereka seakan benar-benar ada. Jika Abilawa bersikeras mengkhayalkan dirinya adalah manusia pertama, maka mustahil ia menulis novel tentang Kutil.

Dua, Abilawa telah mantap mengkhayalkan dirinya lahir di Amerika. Ibunya seorang perempuan desa yang menjadi babu di Amerika, bapaknya entah siapa. Tempat lahir dan kekaburan silsilah itulah yang dibayangkan Abilawa bakal mengabsahkan cara berpikir dan bertindaknya dalam perkembangan cerita.

Demi perkembangan cerita pula, Abilawa pun mereka-reka silsilah Yustina. Tentu saja, ia tak mau kekasihnya hanya perempuan sembarang. Setidaknya ia harus keturunan orang terpandang.

Dan orang terpandang itu tak lain adalah Soesmono, bupati Tegal yang bergelar Reksonegoro. Ia anak tertua bupati sepuh, Reksonegoro X. Meski Soesmono lahir dari rahim seorang selir, namun Sang Permaisuri yang tak punya anak mengasuhnya layaknya anak kandung sendiri.

Soesmono bukan sembarang lelaki hidung belang. Kebiasaan raja-raja Jawa, yang menganggap penaklukan dan penguasaan banyak perempuan sebagai lambang keperkasaan dan kejayaan, telah pula merasuki pikirannya. Ia tak cukup tenteram hanya beristrikan putri Bupati Batang. Ia terangsang mencicipi keindahan yang tidak biasa. Ia terpikat oleh kemolekan seorang perempuan Belanda.

Soesmono menyadari perempuan yang diincarnya bukan lajang lagi. Perempuan itu adalah istri orang yang berkedudukan tinggi, Kepala Administrasi pabrik gula Pangkah. Tapi, api asmara yang disulut berahi seorang pria dan naluri para penguasa Jawa tak membuat Soemono menyerah. Secara sembunyi-sembunyi, perempuan kulit putih itu pun ia gauli.

Soesmono bahkan mendampik dada ketika ia diancam akan dipecat penguasa Belanda, dengan tuduhan telah melakukan penghinaan terhadap norma-norma bangsa Eropa. Ia tahu, sejak dua-tiga abad lalu, penguasa kolonial dan leluhurnya telah bersekutu. Mereka saling bantu. Dan sebagai imbalan, VOC bejanji akan memberi kekuasaan kepada leluhurnya sampai dua belas turunan. Ia menduga para perampok asing itu tak akan berani ingkar janji. Ia percaya dirinya akan tetap bupati. Ia abai ketika istrinya sendiri minta cerai. Ia tak peduli. Dan perempuan kulit putih itu pun ia kawini.

Apakah urusan asmara telah mengganggu tugasku? Para bajingan tengik itu, yang telah melecehkan ribuan perempuan Jawa, merasa diri mereka emakulata, tak berdosa. Kenapa aku dituduh mencemaskan norma hanya karena aku bercinta dengan perempuan Eropa? Mereka akan memecatku dari jabatan bupati. Apakah meraka punya nyali? Aku yang kesebelas. Satu keturunan lagi akan jadi bupati. Belum saatnya berhenti di sini.


HexWeb XT DEMO from HexMac International