| Selasa, 01 Februari 2005 | BUDAYA |
Membaurkan Karya Seni di Candi SukuhBERSAMAAN dengan Festival Candi ''Grebeg Lawu" yang akan dilangsungkan 1-9 Februari 2004, empat seniman kondang asal Solo dan Yogyakarta akan menggelar sebuah repertoar tari bertajuk The Spirit of Sound Movement di Candi Sukuh, Kabupaten Karanganyar. Empat seniman yang akan menggelar karyanya pada 8 Februari tersebut adalah koreografer Wahyu Santosa Prabowo (Solo), Beghawan Ciptoning (Yogyakarta), Irawati Kusumarasri (Solo), dan pemusik Memet Chairul Slamet (Yogyakarta). Wahyu Santosa Prabawa selain selama ini menjadi dosen Jurusan Tari STSI Surakarta, juga dikenal sebagai koreografer kawakan yang cukup produktif dengan karya yang berbobot. Sebut saja judul-judul seperti "Rudrah" (1979), "Bagawadgitha" (1984), "Bromastro" (1984), "Candhabirawa" (1989), dan "Kiblat Papat Lima Pancer" (1992). Sementara Beghawan Ciptoning yang juga dosen Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta adalah koreografer yang telah cukup punya nama. Bahkan selain sering menyusun karya tari, di antaranya "Topeng Bodoran" (1991) dan "Doa Anak Negeri" (2003), koreografer ini juga aktif menulis buku dan skenario. Adapun Irawati Kusumarasri termasuk salah seorang wanita koreografer yang cukup produktif. Sejumlah karya dari penari yang juga mantan Putri Solo ini di antaranya adalah "Bedhaya Kakung Siguse" (2002), "Komposis Oncat", dan "Topeng Srimpi Sumunar" (1994). Sedangkan Memet Cahirul Slamet adalah seorang pemusik yang telah memiliki banyak pengalaman di bidangnya. Meski dibesarkan dalam tradisi musik barat (diatonis yang absolut), dia selalu bisa menggedor perspektif musik yang tak lazim. Lama Dengan kapasitas keseniman yang seperti itu, bisa dibayangkan seperti apa karya bertajuk The Spirit of Sound Movement yang akan dipentaskan di Candi Sukuh nanti. Setidaknya, menyatunya beberapa skill itu memang patut ditunggu. ''Cukup lama kami mempersiapkan rencana ini. Bahkan sebelum menyusun karya, kami sempat melakukan observasi bersama selama beberapa hari di Candi Sukuh,'' papar Irawati Kusumarasri, kemarin. Mengapa harus melakukan observasi? Menurut dia, hal itu dilakukan mengingat panggung yang akan digunakan untuk menggelar pentas berbeda dengan panggung yang lazim. Setidaknya, tempatnya memang harus disesuaikan dengan susunan karyanya. ''Kami memang berusaha agar kawasan Candi Sukuh tidak hanya sekadar menjadi tempat menggelar pentas. Kami juga akan mencoba mengaitkannya dengan susunan karya,'' tandas Ira. Menurut rencana, pada 8 Feburari, karya tersebut akan digelar mulai pukul 16.00, sekaligus menjadi bagian dari berbagai karya seni yang juga dipentaskan setiap hari dalam Festival Candi "Grebeg Lawu". (Wisnu Kisawa-81) |