logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 SALA
Line

Angsul-angsul, Tradisi Pemberian Bingkisan

BULAN Besar atau Dzulhijah, oleh sebagian masyarakat diangggap sebagai bulan baik. Karena itu, bulan Besar 1937 atau Dzulhijah 1425 H yang akan berakhir 8 Februari 2005 banyak digunakan untuk hajatan mantu.

Pada sebagian masyarakat pedesaan, mantu sering dimaknakan sing dieman-eman metu (hal-hal yang semestinya dihemat pun akhirnya keluar). Karena itu, tidak jarang pada perhelatan mantu di pedesaan, para tamu yangnjagong (menghadiri hajatan), kecuali diberi suguhan (makanan dan minuman), kalau pulang ajuga diberi bingkisan angsul-angsul (oleh-oleh) untuk keluarga di rumah.

''Begitulah, tradisi masyarakat pedesaan,'' ujar Marsan, seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri.

Bingkisan yang dikemas dalam angsul-angsul berupa nasi lengkap dengan lauk pauk itu, dibungkus dengan daun jati. Oleh-oleh itu, bisa juga berupa roti kue yang umumnya berbentuk kue krumpul bundar.

Dalam buku Bauwarna (ensiklopedi) Adat Tata Cara Jawa karangan Drs R Harmanto Bratasiswara, yang diterbitkan oleh Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000, angsul-angsul disebutkan sebagai pemberian makanan olahan kepada para tamu pada waktu pulang dari menghadiri perjamuan.

Pada dasarnya, angsul-angsul adalah pemberian tanda pernyataan terima kasih kepada para tamu yang telah berkenan buwuh (memberi simpati, sumbangan, dan doa restu atas berlangsungnya perhelatan).

Pada umumnya, tanda pernyataan terima kasih itu berupa makanan olahan; misalnya nasi beserta lauk keringan, atau macam-macam kue yang sama dengan jenis yang dihidangkan dalam perjamuan.

Biasanya, angsul-angsul diberlakukan di kalangan masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian. Mereka biasa memberikan sumbangan inatura berupa bahan mentah, misalnya beras, kelapa, gula, teh, dan kopi, untuk mendukung hajatan tetangga atau kenalannya.

Barang-barang tersebut, diwadahi bakul (tenggok) dan diserahkan bersamaan dengan kedatangannya dalam perjamuan. Seusai perjamuan, bakul dibawa kembali, yang isinya telah digantikan dengan angsul-angsul untuk oleh-oleh bagi keluarganya.

Pada sebagian masyarakat pedalaman, pemberian angsul-angsul ada yang dikemas memakai keranjang yang terbuat dari daun kelapa.

Tradisi unik itu disebut sebagai jarangan; berasal dari kata jarang (keranjang anyaman daun kelapa). Tapi, tradisi tersebut kini makin langka. Pemberian angsul-angsul pun belakangan telah berkembang di wadah tas kresek plastik, diberikan kepada semua tamu yang hadir dan telah buwuh.

Namun, tradisi itu tidak lagi dilakukan pada perhelatan yang digelar oleh orang kota.

Kebiasaan orang kota yang menggelar perhelatan, kepada tamunya tidak lagi memberikan angsul-angsul atau jarangan, tapi diganti dengan bingkisan cendera mata atau suvenir, seperti kipas dan gantungan kunci.(Bambang Pur-92a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA