| Senin, 31 Januari 2005 | PANTURA |
Cegah Abrasi, Masyarakat Pesisir Tanam BakauMESKI belum mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Pekalongan, Paguyuban Masyarakat Pesisir Cinta Lingkungan (PMPCL) Pekalongan memiliki semangat yang sangat besar untuk melestarikan pantai. Bukan hanya menanam pohon bakau dan ketapang, melainkan juga nekat membeli tanah untuk penghijauan. ''Saat ini, paguyuban yang saya pimpin sudah memiliki tanah seluas sekitar satu hektare. Tanah itu untuk penanamam bakau dan ketapang dalam upaya melestarikan pantai serta menumbuhkan hutan pantai,'' kata Ketua PMPCL Ir Bangun Yudhi saat ke Kantor Suara Merdeka Pekalongan, kemarin. Yudhi mengaku semula paguyuban itu tidak berniat membeli tanah, kecuali hanya melakukan penghijauan di pantai. Namun, kenyataannya untuk melakukan tugas sosial itu tidak gampang. Tanah-tanah di pantai sudah menjadi milik penduduk, sehingga ketika tiga tahun lalu tanaman bakau dan ketapang ditanam, tidak bisa tumbuh karena dirusak warga. ''Itu menandakan mereka belum menyadari akan kelestarian pantai,'' katanya. Karena itu, pihaknya selaku ketua paguyuban berusaha memiliki tanah pantai tersebut guna penghijauan. ''Kami terpaksa mencari dana dari teman-teman jaringan LSM di Jakarta dan kota lain,'' ungkap Yudhi. Bagaimana dengan dukungan dari pemerintah? Yudhi mengakui, Wali Kota memang mendukung usaha paguyuban dalam melestarikan lingkungan pantai. Namun dukungan itu masih berupa surat dukungan dengan upaya paguyuban serta ucapan terima kasih. Bantuan materi belum diberikan. Itu pun, kata Yudhi, masih lumayan karena tidak menghalangi. Sebab ada oknum pejabat yang tidak cocok dengan kegiatan paguyuban. Mereka merasa lahan wilayahnya terganggu, sehingga paguyuban selalu diminta melaporkan setiap saat ketika melakukan kegiatan. Apa yang dilakukan paguyuban yang kini beranggotakan 512 orang itu? Sejak tiga tahun lalu, kelompok tersebut sudah melakukan penanaman penghijauan di pantai mulai dari Krematorium Pantaisari sampai Kali Pencongan. ''Kami juga sudah menanam bakau di sepanjang tanah pantai 400 meter milik paguyuban, yang kini sudah tumbuh subur. Tingginya sudah dua meter,'' kata lelaki lulusan ITB Jurusan Perminyakan tersebut. Jumat Bersih Selain itu, setiap Jumat anggota Paguyuban yang terdiri atas warga Kelurahan Kandang Panjang, Panjang Wetan, Degayu (Kota Pekalongan), dan Desa Jeruksari (Kabupaten Pekalongan) tersebut melakukan kegiatan Jumat bersih, agar pantai tidak terlihat kotor. Ketika mereka datang ke pantai, juga ada yang membawa bibit bakau dan ketapang yang langsung ditanam sendiri di pantai. ''Ini semata-mata untuk melestarikan pantai dan bukannya merusak lingkungan. Sebab kalau pantai ini dibiarkan, setahun diperkirakan enam meter tanahnya akan habis kena abrasi,'' katanya. Selain itu, setiap terjadi rob paguyubannya juga melakukan kerja bakti untuk membantu warga di Pantaisari yang terserang air laut itu. ''Saya ikut prihatin. Sebab setiap rob, beberapa rumah warga di bibir pantai tergenang air hingga setengah meter di dalam rumah. Ini perlu mendapat perhatian semua pihak dalam mengatasi,'' katanya. Untuk mencegah gelombang besar masuk ke rumah warga, pihaknya mengajak warga untuk memasang karung pasir di pantai. Untuk patok bambu sudah disediakan paguyuban jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Paguyuban yang mendapatkan pembinaan dari Universitas Pekalongan itu, dalam tahun ini nekat mengajukan permohonan ke pusat yakni ke Departemen Kelautan dan Perikanan dengan pengajuan Rp 1,9 miliar. ''Mudah-mudahan direalisasi untuk tahun 2006,'' katanya. (Trias Purwadi-90s) |