| Senin, 31 Januari 2005 | PANTURA |
Peringatan Dikti Dianggap Angin Lalu
PEMALANG - Ratusan mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Pemalang tetap tenang menjalankan kuliah. Mereka tidak terganggu dengan adanya ancaman penutupan kampus mereka karena menyalahi aturan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Situasi ketenangan itu tampak dalam kegiatan perkuliahan di tiga tempat, yakni di SD Mulyoharjo 11 Jalan Sulawesi, SD Mulyoharjo 14 Jalan Tentara Pelajar, dan SD Mulyoharjo 4 di Jalan Pemuda. Sebanyak 685 mahasiswa tetap mengikuti kuliah seperti biasa setiap Sabtu dan Minggu. Seperti diberitakan (Suara Merdeka, 29/1), Dikti melalui suratnya Nomor 4893/D/T/2004 mengingatkan bahwa sesuai dengan perundang-undangan, penyelenggaraan pendidikan kelas jauh dan sejenisnya, baik yang dikemas dalam bentuk kerja sama maupun dalam bentuk lainnya, dilarang oleh pemerintah. Penyelenggaraan program studi pada lembaga perguruan tinggi diberikan oleh Ditjen Dikti Depdiknas untuk pelaksanaan kegiatan akademik dan pembelajaran kampus. Sementara itu, penyelenggaraan kegiatan PGSD didasarkan pada kerja sama antara Pemkab Pemalang dan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Dengan alasan tersebut Dikti meminta kegiatan PGSD Pemalang itu dihentikan. Selanjutnya, Dikti meminta laporan dari penyelenggara selambat-lambatnya akhir Januari ini. Apabila tidak memperhatikan peringatan itu, dalam rangka pembinaan, Dikti akan melakukan tindakan terhadap lembaga perguruan tinggi tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 30 Keputusan Mendiknas No 234/U/2000. Surat Dikti tersebut dikirim Desember lalu kepada Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Surat tersebut ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi S Sumantri Brojonegoro dengan tembusan Mendiknas, Bupati, dan Rektor Universitas Terbuka. Angin Lalu Sejumlah mahasiswa PGSD yang ditemui di kampusnya, yakni di SD Mulyoharjo 11 mengungkapkan, mereka sudah mendengar kabar tentang hal itu. Namun mereka menganggap hal itu sebagai angin lalu saja. Mereka tetap melaksanakan kewajiban belajar seperti biasanya. ''Tidak ada pengaruhnya bagi kami. Kami percaya bahwa perguruan tinggi ini tidak akan ditutup sampai kami semua merampungkan pendidikan,'' kata Aris, mahasiswa PGSD semester III, warga Randudongkal. Hal yang sama juga diungkapkan oleh para dosen. Mereka tidak melihat perbedaan sikap mahasiswa sejak dibuka program pendidikan tersebut dengan setelah adanya surat dari Dikti. Jumlah mahasiswa yang berangkat kuliah juga tetap banyak. ''Kalau ada yang tidak berangkat satu atau dua orang itu hal biasa. Akan tetapi, kami tidak melihat penurunan sikap belajar dari mahasiswa,'' kata seorang dosen PGSD yang tak mau disebutkan namanya. (sf-34n) |