logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 PANTURA
Line

Senin Ini Pulang ke Aceh

16 Korban Tsunami yang Ngungsi di Pekalongan

SETELAH sebulan mengungsi di rumah saudaranya di Kota Pekalongan, yakni di rumah Sumaryadi SH di Kelurahan Tegalrejo dan rumah Harsono, Perumahan Bina Griya, 16 jiwa warga Matai, Banda Aceh hari ini (31/1) akan kembali ke tanah asalnya di Aceh.

Meski sebenarnya belum ingin pulang, karena keadaan ke-16 warga itu terpaksa akan kembali. Apa yang mengharuskan mereka kembali? Menurut Ny Fahrial (28), karena ada instruksi dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) agar semua pegawai negeri sipil (PNS) segera kembali masuk kerja dalam rangka melayani masyarakat. PNS harus sudah masuk kembali pada Selasa, 1 Februari 2005.

''Saya dan suami, Zulfikri SE, takut akan sanksi yang diberikan jika tidak masuk kerja. Karena itu, meski daerah saya masih kacau dengan adanya bau mayat di berbagai tempat sehingga muncul berbagai penyakit, kami tetap akan kembali,'' katanya didampingi dua anaknya yang masih kecil.

Dia mengaku ketika mengungsi tidak membawa serupiah pun uang ke Jawa. Sebab ketika itu dia dan keluarganya takut masuk rumah, setelah rumahnya terus diguncang gempa yang akhirnya muncul gelombang tsunami. ''Masih untung, kampung saya tidak terkena tsunami, meski rumahnya roboh akibat gempa,'' katanya.

Kebetulan rumah dia tergolong cukup jauh dari pantai, sekitar tujuh kilometer. Yang lebih membuat bersyukur, rumahnya tergolong dataran tinggi sehingga menjadi tempat pengungsian warga lain yang selamat.

''Dua hari sebelum tsunami datang, kami bersama anak-anak tidur di halaman rumah yang diperkirakan aman dari gempa. Demikian pula setelah terjadi, kami tetap tidak bisa tidur karena gempa terus mengguncang sampai akhirnya seluruh keluarga memutuskan mengungsi ke Jawa. Saat mengungsi saya bersama 36 orang, semuanya masih bersaudara,'' kata Fahrial.

Menumpang Hercules

Fahrial dan keluarganya menumpang pesawat Hercules gratis sampai Jakarta. Setelah itu dia dijemput saudaranya dari Jakarta dan Pekalongan. Agar tenang dalam pengungsian, ke-36 orang itu dibagi dua, 20 di antaranya di Jakarta dan 16 di Pekalongan.

Perempuan penyiar RRI Banda Aceh itu menuturkan, setelah di Pekalongan pihaknya tenang meski rumahnya hancur tidak keruan.

''Alhamdulillah, di Pekalongan saya dan saudara menginap dengan tenang. Bahkan, Pemkot melalui Kantor Yankesos setiap minggu memberikan bantuan Rp 90.000 per jiwa. Saya juga terharu dengan masyarakat Tegalrejo dan sekitarnya yang datang menjenguk dengan memberikan bantuan. (Trias Purwadi-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA