logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 PANTURA
Line

Buncis Danasari Diekspor ke Eropa

COBALAH bertanya ketika berjumpa dengan petani Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, sebagai salam perkenalan. Anda jangan kaget bila mendengar jawaban yang kurang masuk akal dari mereka.

"Bu, Bapak ada di rumah?" sebagai misal pertanyaan tersebut. Sekali lagi jangan kaget bila mendengar jawabannya kalau bapak sedang ke Prancis. Kalaupun berpapasan dengan seorang pria yang berpenampilan sebagai petani di desa itu, jawabannya tentu akan tetap sama. "Mau ke Prancis".

Tentu saja maksud jawaban tersebut seperti jadi langganan ketika orang luar desa bertanya, lantaran sejak Agustus 2004 lalu, di desa yang berhawa dingin dan sejuk itu kini dikembangkan tanaman sayuran buncis prancis.

Sebagian warga desa di ketinggian 1.200 dpl (di bawah permukaan air laut-Red), kini giat menanam sayuran tersebut yang dijadikan andalan ekspor Kabupaten Tegal ke sejumlah negara Eropa. Antara lain Prancis, Inggris,dan Belanda.

Tidak mengherankan, jika warga yang hendak pergi ke ladang atau persawahan di sejumlah perbukitan, kemudian menjawabnya tidak lagi pergi ke sawah melainkan pergi ke Prancis. Tentu itu sekadar basa-basi. Tetapi boleh jadi, siapa tahu kelak petani desa tersebut benar-benar bisa bertandang ke tanah Eropa.

Sebelah Mata

Awal aktivitas sebagian besar warga desa itu bercocok tanam buncis prancis, ketika Agustus 2004, H Said, warga asal Surabaya, Jawa Timur, tertarik untuk mengembangkan bibit kualitas ekspor itu di lahan yang masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.

Pengusaha yang mengaku berumur lebih dari 60 tahun dan bukan berbasis petani tersebut menyatakan sangat prihatin jika daya saing petani Indonesia tidak segera ditingkatkan. Karena itulah, dia kemudian mendatangkan bibit buncis dari Prancis.

Kini bibit tersebut telah ditanam di lahan seluas 37 ha di desa tersebut, atas biaya dia sendiri. Dia juga mengembangkan di Guji dan Bumijawa, namun masih dalam skala kecil yakni tidak kurang dari 10 ha.

Menanam buncis itu cukup butuh waktu 38 hari, dari proses menanam hingga siap dipanen. Bagi dia bukan sekadar menanamkan investasi, melainkan meningkatkan daya saing petani dan mengangkat nama Kabupaten Tegal.

Menurut Ir Munadi, untuk satu hektare bisa menghasilkan enam ton. Dengan menebarkan bibit 40 kg, tanaman sayuran dengan nama latin Phaseolus vulgaris itu, dinilainya pula sangat cocok jika dikembangkan di daerah berhawa dingin dan sejuk seperti di kaki Gunung Slamet. Bahkan agroklimatnya juga dianggap cukup memadai.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan (Tanbunhut) Drs H Marzoeki Suryadijaya MM didampingi Kasubdin Pertanian dan Tanaman Pangan Ir Toto Subandrio, Kasubdin Bina Program Ir Khofifah MM dan Sudrajat SE, Kasi Rehabilitasi dan Konservasi Tanah, yang meninjau proyek penanaman sayuran kualitas ekspor itu mengatakan, ke depan instansinya akan mengembangkan lebih besar lagi tanaman sayuran tersebut yang memiliki daya saing tinggi dan pasarnya telah terbuka lebar untuk sejumlah negara Eropa.(Riyono Toepra-90s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA