logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 PANTURA
Line

"Saya Diupah Rp 20.000"

DI antara delapan kawanan maling sarang burung walet, Asepudin adalah anggota baru. Mereka bertemu kelompok ini melalui Agus, yang dikenali di sebuah warung makan di selatan Terminal Bus Kota Tegal.

Tersangka sehari-hari bekerja sebagai penarik becak. "Saya biasa narik becak di Cirebon. Minggu lalu saya menengok paman di Margadana, karena tidak punya uang saya sewa becak dan menarik di Kota Tegal," kata Asepudin ketika ditemui Suara Merdeka, kemarin.

Perkenalan Asep (panggilan tersangka) dan Agus terjadi secara tidak sengaja. Ketika sedang menunggu penumpang bertemu Agus dan mengajaknya ngobrol di warung.

Agus mengenalkan diri sebagai seorang pemborong bangunan. Kepada tersangka Agus menawarkan pekerjaan dengan imbalan Rp 25.000 per hari. Tertarik dengan ajakan itu, Asep disuruh menemuinya di suatu tempat di Tanjung, Brebes, dan diberinya ongkos naik bus Rp 20.000.

Sesuai waktu yang dijanjikan, Asep bertemu di dekat sebuah SMA swasta di Tanjung. Kemudian malam harinya mereka mengatur rencana pencurian sarang burung di Jl Cendrawasih.

Jumat malam sekitar pukul 02.00, mereka delapan orang menuju sasaran sebuah gudang tempat pemeliharaan sarang burung milik Hartono. Agus bersama empat pelaku lain naik gudang menggunakan tangga, sedangkan tiga orang lain menunggu di bawah.

Namun nahas, begitu operasi berlangsung, penjaga malam mengetahui aksi mereka. Sehingga, keempat orang keburu kabur lebih dulu, sedang Asep ditinggal di dalam gudang sampai akhirnya tetangkap polisi.

Dia mengakui, dalam pertemuan saat merencanakan kejahatan Agus baru mengetahui kawanan itu adalah orang jahat. Namun, dia tak bisa berkutik karena kalau tidak menuruti perintah, diancam akan dibunuh. "Mereka mengancam saya akan membunuh, sehingga saya takut," ujar lelaki berbadan tegap itu.

Tersangka kini baru menyesal telah masuk dalam komplotan penjahat kelas kakap. Tadinya dia mengaku tertarik berteman dengan Agus, semata-mata ingin mendapatkan pekerjaan. Lagi pula baru bertemu saja sudah memberinya uang Rp 20.000.

"Saya tadinya percaya dia orang bener. Ngakunya saja sebagai pemborong, ternyata pembohong."(Wahidin Soedja-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA