| Senin, 31 Januari 2005 | PANTURA |
Dikabarkan Hilang, 5 ABK Pulang Selamat
TEGAL- Lima anak buah kapal (ABK) asal Kota Tegal yang dikabarkan hilang terkena badai di Perairan Samudera Hindia 6 Januari lalu, kemarin sekitar pukul 09.00 pulang dalam kondisi selamat di tengah keluarga mereka. Tak pelak kedatangan kelima ABK disambut bahagia oleh anggota keluarganya. Mereka adalah Paing (50), Marto (47), dan Tarjono (45), ketiganya warga Kelurahan Tegalsari, Moh Rojak (25), warga Jalan Durian, dan Imam Syafi'i (39), warga Kejambon, disambut bahagia anggota keluarganya. Menurut Marto, salah seorang ABK yang bekerja di KM Naily IV Jakarta, kapal berangkat dari Jakarta 29 Agustus tahun lalu. Ketika berada di tengah Samudera, akhir November lalu tiba-tiba kapal yang ditumpangi terkena badai. Kapal dengan berat lebih dari 100 grosstone (GT) itu nyaris tenggelam. Kondisi tersebut tentu saja membuat 17 ABK lain yang berasal dari Cilacap, Flores, dan Tegal menjadi panik. "Saya waktu itu memutuskan untuk tidak terjun ke laut, sebab badan kapal yang tenggelam baru sebagian," katanya. Lantas, bagaimana ceritanya bisa selamat? Dia mengatakan, sesaat setelah terjadi badai, ada kapal Ling Kingsin dari Mauritius, Afrika Selatan, memberikan pertolongan. Menurut pengakuan dia, ketika kapal diantam badai 17 ABK sangat panik. Sebab, separo dari badan kapal telah tenggelam. "Saat itu ABK nyaris terjun ke laut, tetapi saya larang karena kapal belum sepenuhnya tenggelam. Beberapa saat kemudian datanglah salah satu kapal yang memberikan pertolongan," ungkapnya. Terkatung-katung Dia mengaku akibat kejadian tersebut kapal yang ditumpangi terkatung-katung 44 hari. Padahal, dalam kondisi normal dari Perairan Samudera Hindia itu bisa ditempuh dalam waktu 15 hari. "Bisa dibayangkan perbekalan yang kami bawa sudah habis, sehingga untuk menyelamatkan diri hanya makan dan minum seadanya, seperti ikan tuna mentah dan minum air asin." Dalam kondisi terjepit itulah, dua di antara 17 ABK itu tewas karena keracunan makanan. "Ada dua teman saya yang meninggal karena keracunan. Ya, mungkin Allah masih memberikan pertolongan sehingga saya bisa berkumpul keluarga lagi," ujarnya. Akibat kejadian itu, Marto dan Paing trauma dan memilih kembali melaut di Tegal. Anggota keluarga Marto, Ir Edy Waluyo menuturkan, kedatangan lima ABK sempat tidak dipercaya. Sebab, kata dia, pada 6 Januari lalu pihak PT Swasan (pemilik kapal) mengabarkan ABK tidak bisa diselamatkan karena kapal tenggelam diterjang badai. Kabar tersebut tentu saja ditindaklanjuti dengan mengadakan tahlil bersama. "Jelas ini merupakan kebesaran Illahi. Bisa dibayangkan, ketika kami menerima kabar dari pemilik kapal tentu saja keluarga merasa terpukul. Sebab, keberadaan mereka itu merupakan tumpuan keluarga yang berada di rumah," paparnya.(G12-42s) |