logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 OLAHRAGA
Line

Atasi Ketegangan, Safin Libas Hewitt

MELBOURNE - Petenis Rusia Marat Safin melibas Lleyton Hewitt 1-6, 6-3, 6-4, 6-4 untuk memenangi ulang tahun ke-100 Australia Terbuka, Minggu. Kemenangan ini merupakan gelar grand slam keduanya dan mengubur mimpi Hewitt untuk memenangi kejuaraan di depan publik sendiri.

Safin sempat kecolongan set pembukaan dan memberi keunggulan Hewitt 4-1 di set ketiga sebelum dia secara tiba-tiba mengambil alih permainan, memenangi 11 dari 15 games untuk meraih kemenangan.

Safin memperbaiki rekor kemenangannya dengan grand slam keduanya setelah dia memenangi AS Terbuka 2000 dan memperbaiki kegagalannya pada final Australia Terbuka pada 2002 dan tahun lalu.

Hewitt, yang diharapkan menjadi pahlawan dalam final, kehilangan mimpinya tampil sebagai pria Australia pertama yang memenangi gelar sejak Mark Edmondson pada 1976. Akhirnya dia sebagai runner-up dalam grand slam untuk kedua kali setelah tahun lalu kalah dalam final AS Terbuka atas Roger Federer.

Puji Hewitt

Setelah penyerahan piala, Marat Safin memuji penampilan gigih Lleyton Hewitt. ''Selamat pada Lleyton, Anda memiliki dua pekan yang brilian,'' kata Safin setelah menerima piala dari legenda Australia Ken Rosewall.

''Anda petarung hebat dan Anda memiliki talenta menakjubkan yang diberikan Tuhan padamu untuk berjuang hingga akhir.''

Hewitt, yang tampil penuh patriotisme dengan tidak mengenal putus asa untuk melaju untuk pertama kali ke final Australia Terbuka, mengatakan Safin pantas menang sebab dia mengalahkan petenis nomor satu dunia Roger Federer di semi final.

''Saya ingin mengucapkan selamat pada Marat pada penghujung turnamen. Dia salah satu pemain terbaik di dunia,'' kata Hewitt.

''Dia mengakhiri dengan hebat tahun lalu dan menyingkirkan petenis yang nyaris mustahil dikalahkan (Federer) sehingga dia sangat pantas juara.''

''Saya tidak pernah melalui babak 16 besar di sini sebelumnya...tetapi saya akan mencoba dan melangkah satu tahap tahun depan.''

Di samping memuji, ternyata Safin juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya sebelum bertanding. Dia pun mengungkapkan perasaannya itu.

''Pada set pertama, saya tidak percaya bisa menang,'' kata Safin, yang dua kali kalah pada final 2002 dan 2004 Australian Terbuka.

''Saya berpikir 'itu akan terjadi lagi ' dan sulit untuk bisa benar-benar percaya bahwa saya telah menang.''

Setelah start lamban, Safin tiba-tiba memegang kendali pada penghujung set ketiga. Dia memenangi lima game beruntun untuk unggul 2-1 kemudian mematahkan pada awal set keempat dan mempertahankan servisnya untuk meraih kemenangan.

''Anda melihat set pertama, saya benar-benar tidak bermain tenis,'' katanya.

''Dia mengawali dengan sangat baik, dia tidak tegang seperti saya sebab saya berpikir dua final yang pernah saya mainkan dan itu gagal.''

''Saya tegang dan saya tidak bisa bermain tenis. Anda benar-benar harus mengatasi tekanan sebab secara normal itu tidak pernah terjadi tetapi ketika Anda menuju final, Anda sedemikian ketat sebab Anda ingin menang.''

''Saya mencoba memainkan beberapa tenis tetapi tidak mampu. Dia memiliki pengalaman besar, dia memenangi dua gelar grand slam, dia memenangi 24 gelar, dia seorang pemain hebat dan dia terbiasa dengan tekanan.'' (ant-57)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA