| Senin, 31 Januari 2005 | WACANA |
Surat PembacaPelayanan Petugas Perpustakaan KendalSaya ibu rumah tangga yang hidup di pedesaan. Didorong keinginan menambah wawasan dan pengetahuan, saya mendaftar sebagai anggota perpus Kabupaten Kendal. Saya ingin mengajarkan dan menumbuhkan minat baca pada anak saya tentang perlunya membaca. Saya minta informasi lebih dulu tentang syarat sebagai anggota. Berhubung saya tidak mempunyai foto setengah badan, petugas menyarankan kartu anggota diatasnamakan anak saya yang berumur 8 tahun klas 3 SD. Setelah itu, seminggu sekali kami meluangkan waktu dari Desa Purwokerto Brangsong ke Kota Kendal untuk meminjam buku. Hal itu berlangsung sejak September 2004 sampai sekarang. Berhubung tanggal 6 Januari 2005 anak saya lagi tes semester, saya keperpustakaan tanpa dia. Tetapi alangkah kagetnya karena ditolak petugas dengan alasan kartu anak saya tidak bisa saya gunakan karena saya datang sendirian. Karena sebelumnya sudah minta informasi dulu, maka saya berusaha menjelaskan. Tetapi yang lebih menyakitkan, petugas menolak dengan kata yang kurang bersahabat dengan sambil membaca koran tanpa sedikit pun melihat saya. Saat saya menjelaskan dia pun tetap saja acuh dan terus membaca koran. Saya memang orang desa yang tidak bekerja tapi tolong caranya jangan begitu. Beginikah sikap pegawai perpustakaan, mohon pimpinan menganjurkan anak buahnya bersikap ramah, biar orang-orang desa seperti saya tidak takut datang ke perpustakaan dan tercapailah semboyan, buku adalah jendela dunia. Eni Saptayuni Purwokerto Rt 1/Rw 2 Brangsong, Kendal *** Pendidikan Makin Mahal Akhir-akhir ini makin tampak dunia pendidikan (baca; sekolah) kehilangan fungsi sosial dan pendidikannya. Banyak sekolah yang menetapkan sumbangan pembangunan atau BP3 terkesan ''semaunya sendiri'' meski selalu mengatakan bahwa keputusan sudah sesuai prosedur. Di antaranya melibatkan komite sekolah sebagai perwakilan orang tua murid (padahal sudah menjadi rahasia umum, komite sekolah lebih berpihak pada sekolah dibanding kepentingan siswa). Alhasil, keputusan yang diambil cenderung memberatkan orang tua murid. Timbul kesan ''sekolah makin mahal dan seakan hanya milik mereka yang mampu''. Memperhatikan hal tersebut, saya salah satu orang tua murid di Kota Semarang bermaksud membentuk wadah dari orang tua murid (TK, SD, SMP, SMA) berupa forum Komunikasi Orang Tua Murid. Dengan forum tersebut diharapkan para orang tua murid dapat berdiskusi dan saling membantu memecahkan masalah yang dihadapi serta diharapkan dapat mengembalikan citra pendidikan sebagai lembaga sosial. Bagi pembaca yang ingin bergabung untuk berbagi rasa dan membantu mengembalikan dunia pendidikan kembali pada jati dirinya, silakan hubungi saya.di 081 2293 8643. Drs Meibiyanto Jl Bengawan 102A Pudakpayung Semarang *** Melacak Alumni SR Petungan Cilacap Saya alumnus Sekolah Rakyat 8 Petungan Cilacap 1958/1959 mencari rekan seangkatan antara lain: Sugirman Jl.Gadean Kudusan, Muhadi belakang bioskop Sinar, Margono Jl Plasen, Naning Jl Trasuta, Suwarni Jl Trasuta, Sri Romo depan SR 8 Petungan dan Dineke Garjito rumah dinas Danyon, semuanya di Cilacap Juga beberapa rekan lain yang tidak bisa saya sebutkan, harap rnengotak karena akan ada reuni. Silakan hubungi saya di 0281 622987/081328717279. Soedibyo Jl.Mas Cilik 20 Purwokerto *** Pelestarian Nilai Budaya Keraton Keraton merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga. Hal ini erat hubungannya dengan budaya bangsa. Sebagai peninggalan sejarah, keraton banyak menyimpan benda antik mulai dari senjata, manuskrip, patung sampai pada peralatan raja. Warisan itu merefleksikan bagaimana majunya peradaban dan kebudayaan pada masa lampau. Tetapi, nilai-nilai budaya keraton sekarang mulai pudar. Banyak peninggalan yang rusak dan tidak terawat. Kenangan kejayaan dan kemajuan budaya masa larnpau hanyalah cerita belaka karena buktirrva telah tiada. Keutuhan peninggalan keraton sudah tidak lengkap lagi karena banvak vang dirampas Belanda. Di sana barang tersebut menjadi koleksi sejarah yang berharga. Yang lebih ironis, peninggalan itu banyak yang dijual karena faktor ekonomi, untuk pemeliharaan dan perawatan keraton. Status keraton sebagai pusat budaya akan semakin jauh. Beberapa hal tersebut merupakan faktor hilangnya nilai-nilai historis keraton. Pelestarian budaya keraton harus segera direalisasikan. Salah satu solusinya, mengadakan forum komunikasi dan dialog budaya dengan harapan dapat menghasilkan pemikiran bersama mengatasi kepunahan budaya keraton. Juga menempatkan keraton pada posisi yang tepat serta pemerintah harus menyadari dan mernberikan perhatian serius dalam melestarikan budaya keraton. Mustangin Jambean Rt 1/Rw 9 Kalibener, Wonosobo *** Wali Kota Magelang Bulan Februari 2005 Bung Fahryanto Wali Kota Magelang akan habis masa baktinya. Masyarakat ramai meraba-raba, mempergunjingkan bahkan mempertanyakan siapa yang bakal menggantikan kedudukannya. Yang pasti masyarakat bebas memilih. Sebagai warga masyarakat saya bebas menilai sepak terjang Bung Fahriyanto sbb: Orangnya sederhana, merakyat dan dikenal rakyat Magelang dari lapisan bawah sampai atas. Gampang menerima saran dan pendapat dari orang lain dengan sifatnya yang nguwongke orang. Di era lima tahun kepemimpinannya dapat dilihat, betapa hasil yang dicapai di segala bidang, termasuk peningkatan PAD-nya. Dia juga menempatkan orang yang sesuai dengan bidangnya dan merupakan pembantu yang sesuai dengan pakarnya. Soekarsono Cacaban Barat 726, Magelang *** Usia Lebih 40 Tahun Walau CPNS tidak sekejam Tsunami namun juga cukup membuat hati ini sedih, kami sudah 17 tahun berbakti sebagai honorer, bahkan tidak bisa untuk diterima sebagai PNS karena usianya sudah lebih 40 tahun, kenapa tidak ada kebijaksanaan dari orang-orang yang berwenang, berbuatlah bijak dan arif. Waktu dulu ada seorang honorer usianya sudah lebih dari 40 tahun namun baru saja di angkat rnenjadi PNS lalu selang beberapa bulan langsung pensiun, tapi paling tidak sudah memberi penghargaan tersendiri atas perjuangannya. Dan bagi yang kemarin tidak diterima sebagai CPNS perlu di syukuri kita masih diberi waktu dan masih ada hari esok, kita perlu kesabaran dan kejujuran. Misran Jambusari Rt 3/Rw 7 Kertek Wonosobo
|