logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 NASIONAL
Line

Sumbu Pendek Anarkisme di Pati Utara

SUMBU pendek anarkisme sepertinya ada di Pati Utara. Tahun lalu pernah terjadi keberingasan masyarakat di tempat itu, tepatnya di areal perkebunan dan pabrik karet Nglayuti, Cluwak, Pati. Sementara tahun ini, peristiwa serupa terjadi Kamis (27/1) lalu di Alun-alun Tayu, dengan sasaran Mapolsek setempat.

Meski belum ada penelitian, namun kelihatannya sumbu pendek seperti itu mulai terlihat sejak keran reformasi (1998) di negeri ini dibuka lebar. Seakan kini tinggal menunggu keberingasan masyarakat terjadi dalam hal apa dan siapa yang menyulutnya.

Kendati sebenarnya upaya untuk mencegah sudah dilakukan, namun demikian peristiwa serupa juga bisa terjadi. Peristiwa terjadi biasanya karena faktor kecewa ditambah ketersinggungan, terutama bila ada pihak-pihak yang sengaja melukai hati rakyat.

Perusakan Mapolsek, disebabkan pengendara motor berboncengan tiga tanpa helm. Pengendara yang berasal dari Desa Bulungan, Kecamatan Tayu, terjatuh di jalan raya Tayu-Jepara, tepatnya di depan warung gule milik H Rosul, Desa Pundenrejo.

Dua korban yaitu Abdul Hadi (27) dan Sutrisno (22), meninggal seketika di tempat kejadian. Sementara Kunarto (20), ketika itu luka parah. Namun akhirnya korban meninggal, Jumat pagi lalu di ruang ICU Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.

Bukan faktor kecelakaan lalu lintas di jalan raya yang menyulut terjadinya tindak anarkisme warga. Sebab di sekitar tempat kejadian, banyak saksi mata yang mengetahui jatuhnya pengendara motor yang melaju dari timur (Tayu) tersebut, selain dikejar petugas juga karena ditendang.

Pengejaran oleh petugas dimulai dari pertigaan jalur lingkar yang merupakan perbatasan antara Desa Tayu Kulon dan Pundenrejo sampai di tempat kejadian. Tendangan petugas terhadap sepeda motor yang tengah melaju itu menyebabkan kendaraan oleng ke kanan.

Bersamaan dengan itu, dari arah barat melaju truk mengangkut ketela pohon sehingga kecelakaan tak bisa dihindari. Hal itu dibenarkan Kepala Desa (Kades) Pundenrejo Widodo, mengutip keterangan sejumlah warganya yang melihat peristiwa itu.

Namun dia juga membantah, warganya tidak ada yang melakukan perusakan Mapolsek Tayu. ''Yang melakukan perbuatann itu, kebanyakan warga desa lain,'' ujarnya.

Sementara versi lain menyebutkan, jatuhnya pengendara motor bukan karena dikejar atau ditendang petugas. Bahkan ada yang menyebutkan mereka dalam keadaan mabuk, sehingga begitu melihat ada petugas di pertigaan jalur lingkar, justru tancap gas.

Melihat ada pelanggar lalu lintas, secara spontan petugas yang tak lain adalah anggota Polsek Tayu itu melakukan pengejaran. Setelah tersusul, pengendara yang justru mencoba menendang petugas sehingga kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Kekecewaan Massa

Terlepas dari masalah tersebut, akumulasi kekecewaan massa terhadap petugas memang seperti mendapat penyaluran. Apalagi sejak diberlakukannya ketentuan penggunaan helm standar bagi pengendara motor, hampir setiap hari petugas di unit Satlantas Tayu dibantu anggota Polsek selalu melakukan operasi di jalan.

Operasi terhadap pengendara motor yang melanggar aturan lalu lintas itulah yang tampaknya belum bisa diterima oleh masyarakat setempat karena dilakukan hampir setiap saat. Hal itulah yang mereka anggap sebagai tindakan menyakitkan dan berlebihan.

Oleh karena itu, begitu tersiar kabar yang diyakini telah pasti bahwa ada pengendara motor tak berhelm tewas akibat jatuh setelah dikejar dan ditendang petugas, massa merasa terwakili kekecewaannya. Dengan demikian, solidaritas yang tergalang dari mulut ke mulut menjadi pemicu sumbu pendek. Akibatnya, massa merusak Mapolsek Tayu.

Hal itu masih ditopang lagi dengan massa yang kecewa, akibat petugas membongkar dan menyeret para pelaku curanmor serta tukang tadahnya. Selain itu juga operasi terhadap sepeda motor ''bodong'' yang ditengarai sebagai hasil kejahatan, maka lengkaplah barisan massa yang kecewa. (Alman Eko Darmo-58m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA