logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 NASIONAL
Line

Melongok Pengungsi di Sarang GAM

Mereka Sudah Jatuh Masih Tertimpa Tangga

SUNGGUH sangat mengenaskan sekali, nasib warga Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang tinggal di sekitar pesisir Aceh bagian utara, seperti di pantai wilayah Kabupaten Bireuen, Pidie, dan Lhokseumawe. Bila diibaratkan, mereka bak sudah jatuh masih tertimpa tangga.

Sebab, sudah bertahun-tahun warga di sekitar tempat itu dihantui bayang-bayang ketakutan, akibat perilaku Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang konon sangat menguasai dan memiliki basis perlawanan paling kuat di tiga daerah itu. Berkat Operasi Militer, situasi di tiga kota itu menjadi relatif aman. Kini mereka kembali menanggung derita, menyusul petaka gempa dan tsunami, 26 Desember 2004.

Padahal, seperti dikatakan sejumlah pengungsi yang ditemui di sepanjang perjalanan ketiga kota tersebut, sejak digulirkannya Operasi Militer Terpadu mulai tahun 2003, kondisi di tiga daerah itu sudah lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Situasi aman tersebut, bahkan tidak hanya terjadi di kawasan pusat kota saja, melainkan jauh ke pedesaan di Kabupaten Bireuen, Pidie, dan Lhokseumawe.

Kendati demikian, peringatan agar semua orang yang berkunjung ke daerah itu tetap waspada tetap saja berlaku. Minimal harus waspada, mengingat belakangan ini kontak senjata antara TNI dan GAM masih saja terjadi, terutama di daerah-daerah pegunungan wilayah tersebut.

Dengan menggunakan bis yang disediakan Posko BUMN untuk korban tsunami NAD dan Sumut, rombongan berkesempatan menyaksikan kerusakan yang terjadi akibat tsunami di daerah-daerah itu. Sebelumnya, saat mau berangkat, rombongan sempat diingatkan bahwa daerah-daerah yang akan dikunjungi tersebut, selama ini dikenal sebagai daerah "hitam" (daerah di mana GAM punya basis yang cukup kuat-Red).

''Mohon maaf saja, karena tak ada pesawat militer yang berangkat ke Bandara Malikussaleh Lhokseumawe, rombongan akan berangkat pakai bis. Akan tetapi, kondisi sekarang aman. Siapkan saja KTP masing-masing, karena sewaktu-waktu kita akan melewati pos pemeriksaan,'' kata pimpinan rombongan.

Walau kondisinya dibilang aman, perasaan khawatir tetap saja menghantui perasaan anggota rombongan sepanjang perjalanan. Terutama, begitu memasuki daerah Sigli yang konon menjadi salah satu basis GAM.

Kekhawatiran bertambah, setelah di pintu gerbang Kota Sigli, rombongan bertemu dengan puluhan anggota TNI yang dilengkapi puluhan kendaraan militer, mulai dari truk hingga tank-tank canggih. Namun demikian, saat berpapasan, kekhawatiran itu menjadi sirna karena pasukan TNI itu bukan tengah melakukan pemeriksaan. Mereka ternyata sedang melakukan pengawasan terhadap bantuan logistik untuk korban tsunami dari pasukan Diraja Malaysia.

Mata-mata

Secara kebetulan, saat berada di kawasan Sigli, semua anggota rombongan merasa kelaparan. Dan karena hari itu bertepatan dengan Idul Adha yang merupakan hari libur nasional, rombongan hanya menemukan penjual mi aceh di Terminal Sigli. ''Makan sini saja pak, tapi hati-hati saja,'' kata pengemudi bis, bernama Azwan Amir (37), mengingatkan.

Kabarnya, di Sigli banyak sekali mata-mata GAM yang berkeliaran. Mereka menyamar sebagai pengojek dan pedagang buah keliling. Saat seorang rekan menanyakan perihal "mata-mata" itu kepada dua anggota Brimob yang kebetulan juga "jajan" di warung mi tersebut, mereka membenarkannya.

Diakui pula oleh kedua anggota Brimob dari Jawa Timur tersebut, situasi keamanan di daerah "hitam" Bireuen, Pidie, dan Lhokseumawe. ''Memang ada satu dua yang suka berkeliaran. Namun warga mendiamkannya saja. Setahun ini, kondisi aman kok. Lalu lintas ke Medan maupun Aceh semakin hidup. Kendaraan pribadi sudah berani melintas,'' kata Susanto, seorang dari 2 anggota Brimob yang sudah bertugas di Sigli selama 7 bulan.

Menurut dia, ketika masa pengungsian baru mencapai 2 pekan, tepatnya 10 Januari 2005, terjadi peristiwa yang mengenaskan. Saat itu, GAM menyerang tim bantuan yang membawa logistik dari Medan ke Banda Aceh. Perilaku tidak terpuji itu, kian menambah derita rakyat Aceh, khususnya di beberapa kawasan daerah tersebut.

Serangan tersebut terjadi ketika bantuan logistik yang akan dikirim ke Desa Matang Puding, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, dihadang GAM yang berkekuatan lima orang bersenjata. Namun menurut Informasi resmi dari Satgas Info Koopslihkam Drs Ari Mulya Asnawi, penghadangan tersebut dapat digagalkan oleh Tim Badik 1 Yonif-900/R yang berkekuatan 12 orang dan dipimpim Letda Inf Andri Sulistiawan. Pada saat penghadangan itu, Tim Badik sedang mengadakan patroli. Akibatnya, terjadi kontak senjata selama 20 detik pada jarak 100 meter.

Dalam kontak senjata itu, anggota kelompok pemberontak melarikan diri ke arah timur laut, dan TNI berhasil menyita satu buah ransel preman, satu buah charger ponsel, satu pasang sepatu PDL, sebuah magasen AK beserta 67 butir amunisinya.

Peristiwa serupa juga terjadi di Kabupaten Bireuen (6/1), ketika Tim-2 Ki-C Yonif-3000/R melaksanakan karya bakti di Kampung Janggut Sengko, Kecamatan Jeunib. Pada peristiwa ini, tim berhasil menangkap lima orang anggota GAM, yaitu Fahrudin Marsuki (21), M Saleh (21), Gustami (21), Iswandi (21), dan A Rahman. Kelima anggota GAM tersebut, kemudian diamankan di Pos Kotis Yonif-300/R untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Contoh-contoh itu, dirasakan langsung Usman (37), seorang Koordinator Bantuan di lokasi pengungsian yang berasal dari Pantai Peusong Lhokseumawe yang juga tersapu habis tsunami. Memang situasi sekarang jauh lebih aman.

Warga bebas pergi kemana pun, termasuk pergi dengan kendaraan ke Medan maupun Banda Aceh. Akan tetapi, tindakan GAM kian menambah penderitaan pengungsi yang rata-rata sudah kehilangan saudara dan harta.

''Ini benar-benar membuat kami tambah susah. Sebab, penyaluran bantuan makan menjadi tersendat,'' kata Usman, dari Bakornas Kabupaten Aceh Utara.

Hancur Lebur

Seperti juga yang menimpa saudara-saudara mereka di Kota Banda Aceh, akibat gempa dan tsunami, kawasan pantai di tiga kabupaten tersebut hancur lebur, bagai pasir diterjang angin. Seluruh bangunan di kawasan tersebut, luluh lantak rata dengan tanah.

Berdasarkan catatan Posko BUMN di Banda Aceh, di tiga daerah itu saja, 15.000 jiwa melayang.

Semantara korban hilang di Bireuen, mencapai 58 orang, Pidie 229 orang, dan Lhokseumawe 413 orang. Adapun pengungsi di Bireuen mencapai 35.000 orang, Pidie 49.421orang, dan Lhokseumawe 11.000 orang.

Para pengungsi itu, kini ditampung di halaman-halaman gedung pemerintah, sekolah-sekolah, pabrik-pabrik milik perorangan, bangunan serta lahan milik pemerintah lainnya, dan gedung-gedung militer. Selama di lokasi pengungsian, mereka ditangani tenaga medis, unsur kesatuan seperti KODIM/KOREM setempat, dan para petugas yang berasal dari Depkes, Depsos, Depdagri, Posko LIN/Kominfo, Bakornas serta TNI.

Korban luka berat dan ringan di ketiga daerah itu, kini dirawat di RSUD Cut Meutia Lhokseumawe, RS PMI Lhokseumawe, RSUD Bireuen, RS Puskesman dan Posko Kabupaten Bireuen serta RS Kesdam Lhokseumawe.

Sebagian besar korban luka parah dan ringan dievakuasi ke beberapa rumah sakit di Kota Lhokseumawe yang memiliki rumah sakit lebih banyak dibandingkan dengan Bireun dan Pidie. Hal itu wajar, mengingat Lhokseumawe merupakan kota kedua terbesar di Provinsi NAD. Di kota itu pula, terletak Pabrik LNG Arun, Pabrik Pupuk Iskandar Muda I, Pupuk Iskandar Muda II, dan pabrik Pupuk ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) yang akan dihidupkan lagi.

Menurut Dansatgas Posko BUMN Irwan Hutagulung, agar bantuan tanggap darurat itu tidak terfokus pada Kota Banda Aceh, Meulaboh, dan Calang, pihaknya juga akan memusatkan perhatian pada korban tsunami di wilayah-wilayah Kota Bireuen, Pidie, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Singkil. Upaya itu dilakukan karena Posko BUMN melihat penyaluran bantuan selama ini lebih banyak terkonsentrasi ke Banda Aceh.

Posko BUMN ini merupakan posko yang melibatkan sejumlah BUMN, seperti Pertamina, PLN, Bank Mandiri, Garuda Indonesia, PT Telkom, dan Pupuk Kaltim. (Budi Nugraha-69m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA