logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 NASIONAL
Line

Ibu Kandungnya di Pemalang Pasrah


Masriyati SM/Saiful Bahri

KABAR tentang kematian Dulmatin dalam serangan udara militer Filipina di Mindanao, Filipina Selatan terdengar pula oleh keluarganya di Kecamatan Petarukan, Pemalang. Namun ibu kandung tersangka peledak bom Bali itu, Masriyati (60) menerimanya dengan tenang. Dia menyatakan pasrah akan nasib anaknya itu.

''Pokoknya saya sudah pasrah. Dia mati di mana saja terserah Allah SWT,'' katanya saat ditemui di tempat tinggalnya kompleks Pasar Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang Minggu kemarin.

Dia mengaku selama ini sudah tidak memikirkan anaknya tersebut. Dia sudah lama berpisah. Di samping itu, kondisinya juga sudah tua dan baru saja mengalami sakit berat, sehingga ketika mendengar Dulmatin alias Joko Supriyanto meninggal dalam serangan udara militer di Filipina, dia sudah pasrah.

Ketika ditanyakan apakah jika Dulmatin benar-benar tewas di Filipina, jenazahnya akan dibawa pulang, dia menyatakan kenapa mesti repot-repot. Baginya, mati di mana saja tidak masalah karena semua ada di tangan Allah. Namun jika mayatnya dibawa oleh pihak militer ke Indonesia, dia belum mengetahuinya.

Sejak muncul berita kematian Dulmatin, keluarganya di Pemalang belum pernah dihubungi oleh polisi maupun TNI.

Dia mengaku saat ini sedang lelah, karena baru saja datang dari Yogyakarta untuk menghadiri acara keluarga. Setelah sampai di rumah, banyak tamu yang datang. Sejak adanya berita kematian Dulmatin, dia sudah didatangi beberapa wartawan.

Sementara itu, tempat tinggal Dulmatin di Jalan Pemali, Kelurahan Pelutan, Kecamatan Pemalang Kota seperti biasanya dalam keadaan kosong dan sepi. Menurut ibunya, dia tidak pernah menengok rumah anaknya itu, sehingga tidak tahu keadaan rumah tersebut. Sejak kejadian bom Bali, rumah Dulmatin itu sudah dikosongkan.

Dulu ketika terjadi bom Bali dan salah seorang tersangkanya adalah warga Pemalang, rumah yang berukuran cukup besar itu sepi tak kelihatan penghuninya. Pintu, jendela, dan pagar besi teras depan tertutup rapat. Tak ada celah yang bisa digunakan untuk masuk ke dalam rumah itu. Sebab dikelilingi tembok tinggi.

Menurut para tetangga, rumah itu dan penghuninya selalu tertutup terhadap orang lain. Mereka tidak pernah bergaul dengan tetangga, termasuk anak-anaknya. Akibatnya, para tetangga tidak tahu banyak tentang penghuni rumah tersebut.

Rumah itu ketika digeledah polisi, ditemukan beberapa benda yang mencurigakan. Di antaranya puluhan buku tentang elektronika, agama dan kedokteran serta sebuah samurai.

Untuk buku agama di antaranya berjudul Manhaj Haraki Dalam Sirah Nabawi yang terdiri atas tiga buku. Sementara buku elektronika di antaranya berjudul Elektronika Praktis karangan Barry Wallard, 303 Rangkaian Elektronika, dan Pesawat Radio Telekomunikasi.(sf-33m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA