logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 SEMARANG
Line

Warga Keluhkan Kesemrawutan Jalan Weleri

  • Akibat Angkutan dan Dokar Ngetem Seenaknya

WELERI - Kesemrawutan arus lalu lintas di wilayah perkotaan Weleri, Kabupaten Kendal dikeluhkan sejumlah warga dan para pengguna jalan yang melintas di wilayah tersebut.

Kesemrawutan itu terjadi terutama karena sejumlah mobil angkutan umum dan dokar banyak yang ngetem seenaknya di jalur pantura, tepatnya di depan Pasar Weleri II.

Berdasar pengamatan di lapangan, hampir setiap hari, khususnya pada jam-jam sibuk, sejumlah angkudes terlihat ngetem di depan pasar itu. Angkutan umum itu memarkirkan kendaraan berjajar menyamping hingga empat lapis di sisi selatan jalur pantura.

Kondisi tersebut mengganggu kelancaran arus lalu lintas di tempat itu lantaran ruas jalan raya menjadi sempit.

"Kondisi itu tidak terlepas dengan penyempitan terminal angkudes di Kota Weleri yang sebagian lahannya dimanfaatkan untuk pembangunan kios. Hal itu juga menyebabkan jalan di samping subterminal menjadi semakin sempit. Jika hujan deras, hampir dipastikan wilayah itu tergenang air," kata Karyadi, anggota Paguyuban Pasar Hapsari Weleri.

Jalan itu, lanjut dia, semakin semrawut manakala sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal di depan subterminal tidak tertib. Buktinya, beberapa PKL yang menempati trotoar masih saja terlihat sehingga keberadaan mereka menutup jalan untuk pejalan kaki.

Keberadaan koplak atau terminal dokar di sebelah selatan subterminal yang kini beralih fungsi untuk pasar burung juga berimbas terhadap kesemrawutan Kota Weleri. "Akibatnya, dokar-dokar berhenti di sembarang lokasi. Dari sini terlihat kotoran-kotoran kuda yang menyebar di setiap sudut kota."

Kesemrawutan jalan akan mencapai puncaknya bertepatan dengan hari pasaran Kliwon. "Kami sangat berharap pihak Pemkab bisa mencarikan solusi permasalahan tersebut."

Optimalisasi Terminal

Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Kendal Affandi SH MM mengakui, sampai saat ini kondisi di depan Pasar Weleri II tersebut masih cukup sewrawut.

"Kondisi itu tidak terlepas dari kurang disiplinnya awak angkudes untuk memasuki lokasi Subterminal Weleri."

Selain itu, lanjut dia, keberadaan sejumlah PKL yang belum mau pindah ke dalam kios lantaran memilih berjualan seenaknya sendiri, juga ikut menambah kesemrawutan.

"Kami belum mengetahui secara pasti mengapa para PKL belum mau pindah ke kios yang telah disediakan. Mungkin mereka masih memiliki permasalahan, misalnya belum bisa membayar kios yang disediakan. Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pasar dan instansi terkait lainnya."

Lebih lanjut dia mengatakan, kesemrawutan di Kota Weleri itu akan dapat diatasi setelah fungsi Terminal Bus Bahurekso bisa optimal.

"Saat ini, kami sedang membahas optimalisasi terminal itu dengan Komisi D DPRD dan hasilnya akan kami terapkan di lapangan. Jadi, penataan di Kota Weleri, khususnya berkaitan dengan penataan arus lalu lintas, saat ini belum selesai. Untuk mengatasi hal ini, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pasar, Polres, dan Satpol PP serta masyarakat." (G15-91n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA