logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 SEMARANG
Line

Kerusakan Gedung Sekolah Cagar Budaya Cukup Berat

  • Anggaran Sebaiknya dari Dana Konservasi

BALAI KOTA- Sumber pendanaan pemeliharaan gedung sekolah yang menjadi cagar budaya, sebaiknya berasal dari dana konservasi bangunan cagar budaya.

Wacana itu mengemuka di Komisi C (Bidang Pembangunan) DPRD Kota Semarang, setelah melakukan dialog dengan para kepala SMPN dan SMKN se-Kota Semarang, pekan kemarin.

Menurut Ketua Komisi C Humam Mukti Aziz, kemarin, beberapa kepala sekolah mengusulkan wacana itu, terutama kepala sekolah yang gedung sekolahnya masuk kategori cagar budaya. Misalnya, gedung SMKN 5 Semarang yang berdiri sejak tahun 1908.

Dikatakan, tingkat kerusakan bangunan cagar budaya itu begitu berat. Sekiranya apabila anggaran pemeliharaan bangunan itu masuk APBD Kota Semarang mungkin membebani. Sehingga ada usulan anggarannya dimasukkan dari anggaran khusus pemeliharaan bangunan konservasi.

''Sebab khusus bangunan konservasi kabarnya diberi dana pemeliharaan tersendiri. Atau kalau belum ada, perlu diwacanakan pembiayaan semacam itu,'' tandasnya.

Sementara itu dari daftar SK Wali Kota No 646/50/1992 tentang Konservasi Bangunan-Bangunan Kuno/Bersejarah di Wilayah Kota Semarang, beberapa gedung SMAN/SMKN di Kota Semarang tercatat sebagai bangunan cagar budaya. Selain SMKN 5, tercatat juga SMAN I, SMA Ibu Kartini (Jl Sultan Agung), SMA Sedes dan Maria Mediatrix, SMAN 3, SMA Diponegoro (Jl Mugas).

Sementara itu, anggota Komisi C, Agung Budi Margono mengemukakan, anggaran pemeliharaan untuk gedung-gedung SMAN/SMKN yang masuk kategori cagar budaya cenderung lebih besar dari sekolah lain.

''Ini memang membebani APBD Kota Semarang,'' kata dia.

Dia mencontohkan, anggaran pemeliharaan gedung di SMAN 1 Semarang pada tahun anggaran 2005 ini diajukan sebesar Rp 21 juta. Hal ini jauh berbeda dari anggaran pemeliharaan untuk SMAN 16 yang hanya Rp 2 juta.

Memang, perbedaan itu salah satunya juga disebabkan luas dan bangunan SMAN 1 jauh lebih besar daripada di SMAN 16 yang belum lama berdiri. Namun, anggaran pemeliharaan yang begitu timpang itu sebenarnya kurang adil. Terutama bagi penciptaan sarana dan prasarana belajar yang memadai. (G17-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA