| Senin, 31 Januari 2005 | SEMARANG |
Buang Ciong dengan Lentera Ayam Jago RaksasaDENGAN hati-hati, Pardi melekatkan kertas untuk menutup kerangka kepala ayam raksasa. Di dekatnya, terpacak sebuah replika ayam jago yang menjadi model. Terik matahari yang memanggang kepala, Kamis (27/1) siang, tak dihiraukannya. Agaknya, pria asal Demak itu menginginkan bekerja sempurna untuk pembuatan lentera berbentuk ayam jago raksasa, yang akan diarak pada perayaan Pasar Imlek Semawis yang digelar Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), 5-8 Februari mendatang. Sesekali dia menggelengkan kepalanya, untuk melihat kesempurnaan lekatan kertas itu. Kalau dirasa kurang pas, dia menekankan jemari tangannya sekali lagi pada kertas tersebut. Ya, Pardi bersama keenam rekannya harus bekerja keras. Mereka memiliki waktu sebulan untuk menyelesaikan lentera itu tepat pada waktunya. ''Hampir separo waktu digunakan untuk pembuatan kerangka. Secara bertahap, kerangka itu akan ditutup dengan kain tahan air dengan berwarna-warni sesuai dengan warna natural ayam,'' papar Sutikno, pengrajin barongsai yang memimpin pembuatan lentera itu. Sejak awal Januari, proses pembuatan lentera raksasa dimulai dari penyerutan bambu tali yang digunakan sebagai kerangka. Sesudah diserut sesuai dengan ukuran yang ditentukan, satu per satu batang bambu dirangkai hingga membentuk gambaran ayam. Lantas, di dalamnya dipasang 50 bohlam yang masing-masing berkekuatan lima watt sebagai penerangan. Sutikno mengaku tak mudah baginya dan anak buahnya untuk membuat patung tersebut. Selain berukuran cukup besar, dia perlu berpikir panjang untuk ''mengeluarkan'' karakter ayam jago sesuai yang diinginkan. Kalau kakinya sudah terpasang nanti, ayam itu akan mencapai ketinggian sekitar tujuh meter dengan besar hampir seukuran mobil niaga. Untuk membuatnya, para pekerja berdiri seharian di atas para-para yang diikatkan pada sebatang pohon mangga. Diarak Benita Eka Arijani dari Capung Organizer menuturkan, pembuatan lentera raksasa berbentuk ayam jago merupakan manifestasi simbolis tahun 2556 yang dalam almanak Tionghoa disebut tahun ayam. ''Kalau tak ada aral, lentera raksasa itu akan diarak menuju ke tempat Pasar Imlek Semawis di Jl Gang Pinggir. Selain karena ukurannya, lentera ayam jago tersebut juga direncanakan masuk ke catatan Museum Rekor Indonesia (Muri),'' ujar dia. Pada penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis sebelumnya, panitia membuat jakwee raksasa sepanjang 10 meter lebih. Penganan tradisional Tionghoa itu juga masuk dalam catatan rekor Muri. (Achiar M Permana-84s) |