| Senin, 31 Januari 2005 | KEDU & DIY |
Yogya Rintis Sekolah InternasionalYOGYAKARTA - Pada Tahun Pelajaran 2004/2005 ini, Dinas Pendidikan DIY merintis empat sekolah menengah umum (SMU) menjadi sekolah bertaraf internasional. Empat sekolah itu adalah SMU 1 dan 3 Yogyakarta, SMU Muhammadiyah II Yogyakarta, dan SMU I Kasihan Bantul. Kepala Dinas Pendidikan Drs Sugito MSi baru-baru ini mengungkapkan, saat ini baru empat sekolah tingkat SMU. Itu sesuai dengan amanat UU Sisdiknas yang mengharuskan setiap daerah memiliki minimal satu sekolah bertaraf internasional di setiap jenjangnya. Namun, DIY baru akan mulai dari SMU, setelah itu baru ke jenjang pendidikan lain. Dia menjelaskan, selain amanat UU Sisdiknas, perintisan sekolah bertaraf internasional juga untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan lulusannya. Diharapkan lulusan sekolah di sini bisa memiliki daya saing di dunia internasional. ''Perintisan dilakukan dengan membuka kelas bertaraf internasional di SMU yang telah siap, pembukaan bergantung pada kesiapan sekolah seperti kesiapan membuka berapa kelas dan berapa siswa yang akan diterima,'' paparnya. Sebelum itu, para guru akan memperoleh pendidikan terlebih dulu dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Sejauh ini sudah 60 guru yang dididik untuk memperoleh pendidikan bertaraf internasional. Kelas IPA Pada awalnya yang dibuka baru kelas kelompok IPA karena kelompok tersebut dinilai cukup siap untuk program itu. Sekolah yang ikut dalam program berhak mengadopsi kerja sama dengan sekolah lain di luar negeri. Mata pelajaran dan jam belajar berbeda antara kelas biasa dan kelas internasional. Sugito menjelaskan, empat sekolah rintisan itu dikelompokkan dalam dua kategori. Yaitu kelompok bertaraf internasional dan kelompok berwawasan nasional. Sekolah yang masuk kelompok pertama adalah SMA 1 dan SMA 3 Yogyakarta, sedangkan yang masuk kelompok kedua adalah SMA 1 Kasihan dan SMA Muhammadiyah II Yogyakarta. Ada yang menarik dalam program tersebut, yakni sekolah bertaraf internasional tetap memberikan mata pelajaran Bahasa Jawa agar siswa dalam sekolah tersebut tidak meninggalkan budayanya. Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Teknologi Informasi Dinas Pendidikan Drs Bambang Iryanto MPd menambahkan, dipilihnya keempat sekolah tersebut untuk mengikuti program perintisan bertaraf internasional merupakan hasil verifikasi Dinas Pendidikan. (D19,sgt-76n) |