logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Januari 2005 EKONOMI
Line

Prestasi BEJ pada Program 100 Hari Pemerintahan Baru

PROGRAM 100 hari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dimulai sejak hari pelantikan, yaitu tanggal 20 Oktober 2004 sampai 28 Januari 2005.

Bagaimana perkembangan kinerja PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) selama itu? Dapatkah perkembangan indeks harga saham gabungan (IHSG) dipakai sebagai salah satu tolok ukur dalam menilai prestasi bursa?

Pendekatan secara strategis dalam menilai keberhasilan suatu program berarti selain dalam jangka pendek atau 100 hari, melihat keberhasilan program peletak dasar untuk pengembangan jangka panjang pasca-100 hari.

Pada awal pemerintahan baru IHSG di BEJ pada posisi 840,8 dan pada akhir program 100 hari di 1.046,5 atau naik 24,4%.

Kenaikan dalam waktu 3 bulan sebesar 24,4% itu merupakan kenaikan yang tinggi bila dibandingkan dengan kenaikan setahun pada 2004 sebesar 38% atau rata-rata triwulan 9,5%.

Apakah keberhasilan tersebut dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono atau sebenarnya hanya dampak bursa regional yang membaik?

Rumusan regional market adjusted return dapat digunakan untuk menetralisasi pengaruh bursa regional.

Melalui rumusan tersebut kinerja BEJ diperhitungkan dari kenaikan IHSG sesudah disesuaikan akibat kenaikan yang berasal dari bursa regional.

Bursa STI di Singapura merupakan salah satu bursa regional yang dijadikan referensi utama oleh para investor.

Dalam waktu yang sama selama 100 hari kinerja bursa tersebut meningkat dari posisi 1.953 ke 2.090 atau naik 7,0%.

Dengan rumusan regional market adjusted return kenaikan kinerja BEJ dalam waktu 100 hari sebesar 24,4% sesudah ada penyesuaian kenaikan bursa regional (STI di Singapura) menjadi 16,3%. Untuk ukuran hasil dari suatu alternatif investasi angka sebesar itu sudah menggambarkan hasil investasi yang lumayan baik.

Perkembangan itu merupakan tolok ukur utama bahwa kinerja BEJ bernilai baik selama 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Bagaimana penilaian yang terkait dengan program peletakan dasar atau landasan bagi kelancaran program pengembangan BEJ pasca-100 hari?

Faktor Fundamental

Landasan program pengembangan BEJ terutama berupa upaya perbaikan faktor fundamental makro serta faktor fundamental internal perusahaan.

Faktor fundamental ekonomi makro berupa perbaikan pada suku bunga, inflasi, dan kurs rupiah terhadap mata uang asing terutama dolar AS.

Tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) selama waktu tersebut cenderung konstan dan bertahan di kisaran 7,3% sampai 7,4%.

Meskipun di tingkat global telah terjadi kenaikan suku bunga The Fed (bank sentral AS), Bank Indonesia (BI) berupaya tidak menaikkan tingkat suku bunga.

Hal tersebut berdampak memberi penguatan semangat kepada para pelaku pasar meskipun tingkat suku bunga tidak lagi dapat turun.

Penurunan tingkat suku bunga sampai batas tertentu cenderung menyebabkan dorongan ke arah alternatif investasi lain yang dianggap menguntungkan.

Salah satunya beralih investasi ke saham. Karena itulah, makin rendah tingkat suku bunga SBI, kian meningkat IHSG sebagai cerminan harga saham.

Dalam upaya perbaikan faktor landasan berupa penguatan kurs rupiah terhadap mata uang asing khususnya dolar AS menunjukkan kinerja yang sedikit kurang baik.

Pada awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono kurs rupiah terhadap dolar AS pada posisi Rp 9.063, dan setelah 100 hari sedikit melemah di posisi Rp 9.145/dolar AS.

Upaya pemerintahan baru untuk mencapai target lebih baik pada aspek lingkungan ekonomi berupa penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS terganjal oleh kenaikan harga minyak di pasar global yang saat ini mencapai 50-an dolar AS/barel.

Dorongan kebutuhan minyak mentah sebagai komponen bahan produksi bagi industri minyak, khususnya Pertamina menjadikan nilai permintaan kebutuhan dolar AS meningkat. Dengan demikian terjadi kecenderungan dolar menguat atau rupiah melemah.

Kinerja dalam faktor fundamental ekonomi berupa penekanan laju inflasi sedikit terhambat. Pada awal pemerintahan baru inflasi pada posisi 6,22% per tahun dan stelah 100 hari di posisi 6,48%.

Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah memicu gerakan inflasi. Jadi dilihat dari peletakan landasan aspek ekonomi tersebut di atas kinerjanya dinilai cukup tetapi belum optimal.

Peletakan dasar pada aspek politik dan hukum dapat dikatakan kinerjanya cukup baik. Peletakan dasar pada aspek hukum paling tidak sudah membangkitkan semangat untuk menuju ke arah kondisi good governance atau tata laksana yang baik.

Kinerja pemerintahan pasca-100 hari pada pengembangan bursa efek akan ditentukan oleh seberapa besar perbaikan-perbaikan pada faktor yang masih konstan dan belum optimal sebagaimana telah disebutkan di atas.

Kinerja bursa efek pasca-100 hari pemerintahan baru masih terbuka kesempatan membaik meskipun sulit kembali mengulang peningkatan kinerja yang pernah dicapai pada eeforia 2004 yang telah membuahkan keuntungan pasar 38%.(Dr Sugeng Wahyudi, dosen strategi dan keuangan Program MM Undip-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA