| Senin, 31 Januari 2005 | BANYUMAS |
"Masyarakat Kera" di CikakakTIDAK mudah mempertahankan habibat binatang yang dilindungi atau terancam kepunahan. Apalagi hewan itu biasa hidup leluasa di alam bebas atau hutan belantara. Banyumas bisa dikatakan masih punya komitmen untuk melindungi habitat asli itu. Di Cikakak, Kecamatan Wangon, misalnya, ada pusat pelestarian kera. Di hutan Perhutani Banyumas Barat itu, seratusan ekor kera bisa hidup bebas. Demikian pula di kawasan hutan lereng Gunung Slamet, terutama di hutan lindung wilayah Perhutani Banyumas Timur. Binatang di kawasan malah sangat beragam, kendati tidak banyak. Berbagai binatang langka masih bisa berkeliaran di sana, seperti macan loreng, kera, babi hutan, dan elang jawa. Kawasan perlindungan kera di Cikakak tak jauh beda dari hutan Sangeh di Bali. Di kawasan itu pengunjung bisa bercengkerama dengan kera. Para kera itu sudah jinak dan bisa diajak foto bersama jika pengunjung berlaku ramah. Kawanan kera di Cikakak, kata Bambang Juhari, juru kunci dan ketua kelompok sadar wisata, sepertinya sudah membentuk kehidupan sosial tersendiri. Mereka hidup secara teratur dan sangat mengagumkan. ''Jarang sekali mereka menggangu pengunjung, kecuali diganggu lebih dahulu.'' Mereka mencari makan, beristrirahat , dan berkembang biak bersama-sama. Mereka berbagi makanan adalah salah satu pemandangan yang bisa disaksikan di kawasan itu. Mereka juga membentuk kelompok kelompok kecil. Namun tetap berada dalam kelompok besar, kawanan kera Cikakak. Hewan-hewan itu jarang mengambil tanaman atau buah-buahan di lahan pertanian. Sebaliknya, mereka terkandang juga mengamankan tanaman tersebut. Karena itu sebagai balas budi, saat panen warga masayarakat memberikan sebagian rezeki ke kawanan kera itu. ''Pokoknya jika ada satu kera diganggu, seratusan kera lain pasti mengeroyok si penggangu. Jadi jangan coba-coba menggangu mereka,'' tutur lelaki tua itu. Diusir Pengunjung harus memperhatikan sederet peraturan. Misalnya, jangan membawa barang yang mencolok agar tidak direbut kera. Para kera itu, ujar Bambang, sudah ada sejak masjid dibangun tahun 1871. "Sejak mbah buyut saya, kera-kera itu sudah berada di sini. Saya adalah keturunan ketujuh juru kunci di sini,'' kata dia. Kawanan kera menempati habitat sekitar 5 ha di hutan Perhutani, di sebelah barat masjid. Agar binatang itu tidak punah, masyarakat bekerja sama dengan Perhutani, Dinas Perkebunan dan Kehutanan, serta Dinas Pariwisata dan Budaya senantiasa menambah pohon buah-buahan yang bisa dikonsumsi kera. Kera di lokasi itu sekitar 110 ekor. Pukul 09.00-12.00 binatang itu turun dari hutan untuk mencari makan. Mereka akan "menyapa" pengunjung, terutama yang membawa makanan seperti kacang atau jabung. Jika ada kera terbawa ke luar daerah dan kembali, binatang itu tak akan diakui lagi sebagai keluarga mereka. ''Bisa jadi kera itu dianggap sudah tercemar atau ternodai," ujar Bambang. Peristiwa itu dialami kera yang dijadikan sampel penelitian oleh mahasiswa Jepang. ''Karena darahnya diambil dan diberi stempel atau tato, ke-13 belas kera itu diusir oleh pemimpin kera di sini,'' ujar dia. Karena itu, kata dia, pengelola memberlakukan larangan sangat ketat. Kera dilarang di bawa ke luar dari habitat mereka baik untuk penelitian maupun sekadar diambil darahnya sebagai sampel. (Agus Wahyudi-86) |