| Senin, 31 Januari 2005 | BANYUMAS |
Oven Keramik dari BPPT DianggurkanBANJARNEGARA - Oven pembakar keramik buatan Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang diterima perusahaan Mustika hanya dipakai tujuh kali, kemudian dianggurkan. Perusahaan itu kembali memakai oven tradisional buatan perajin. Hal itu dituturkan Ibnu Ashar, pemilik Mustika di Jalan Klampok Timur, Banjarnegara, kemarin. Dia menerima oven bantuan pemerintah itu tahun 2000. Oven itu berbahan bakar elpiji, berkapasitas 1 m3, dan terbuat dari besi. Alat itu tidak dia pakai karena teknologinya belum sempurna. Semburan api masih kurang, sehingga harus dibantu blower agar panas merata ke semua ruangan. Elpiji membeku jika dingin, sehingga tabung harus dipanaskan. Itu berisiko tabung meledak. ''Kami sudah melapor ke BPPT agar disempurnakan. Namun sampai sekarang belum diperbaiki." Bila membeli di pasaran, kata dia, harga alat itu sekitar Rp 25 juta. Padahal, dengan alat itu pembakaran empat kali lebih cepat daripada dengan oven berbahan bakar minyak tanah. Dengan elpiji hanya butuh 4-5 jam, sedangkan oven minyak tanah buatan perajin butuh waktu 22-24 jam. Selain itu elpiji sekarang mahal. Sekali pembakaran membutuhkan dua tabung gas berkapasitas 52 kg. ''Jadi faktor teknologi dan harga gas membuat oven itu tak kami pakai.'' Bantuan Menteri Dia berharap bisa meningkatkan produksi setelah mendapat bantuan tungku baru dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan (saat itu) Rini Suwandi. Alat itu buatan Balai Penelitian Keramik Bandung. Kamis lalu sudah dipasang dan diuji coba untuk membakar keramik. Percobaan dilakukan teknisi dari Bandung, Ponco. Oven baru itu dari bata tahan api, sama dengan oven tradisional buatan perajin, berkapasitas 1m3 dan berbahan bakar minyak tanah. Ponco menuturkan dengan alat tersebut waktu bakar 12-15 jam, dengan suhu 900 derajat Celcius, sesuai dengan jenis keramik. Jika keramik yang dibakar membutuhkan suhu lebih tinggi bisa ditingkatkan karena oven itu kuat sampai 1.200 derajat. Harga alat itu di pasaran antara Rp 25 juta dan Rp 40 juta. Bata tahan api yang dibutuhkan 7.000 buah. Mustika membuat tiga jenis keramik, yaitu biskui, terakota, dan glasir. Biskui adalah keramik berwarna asli tanah, umumnya untuk minum teh. Terakota sudah diberi pewarna merah agak kecoklatan, sedangkan glasir berwarna-warni. (bd-86) |