| Jumat, 28 Januari 2005 | SALA |
Pembangunan Telan Rp 25 MiliarPEMBANGUNAN ulang Pasar Nusukan diperkirakan menelan dana Rp 25 miliar. Pasar yang semula sangat tradisional itu, bakal dibangun menjadi pasar dua lantai. Meskipun tetap bernuansa tradisional, kemewahan tampak jelas pada bangunan dengan luas 8.900 M2 itu. Lorong-lorong pasar yang biasanya hanya beralas tanah padat bakal berlantai keramik. Demikian juga dengan fasilitas pemadam kebakaran, alat pemadam api ringan (apar) serta penunjang lain bakal lebih lengkap. Menurut Kepala Subdinas Kebersihan dan Pemeliharaan Pasar pada Dinas Pengelolaan Pasar Ir Yob S Nugroho, lantaran keberadaan fasilitas semacam itu harga kios dan los menjadi tinggi. Berikut petikan wawancara dengannya. Mengapa harga kios dan los dikeluhkan pedagang sangat mahal? Seperti penjelasan calon investor, dari luas total bangunan, hanya sekitar 54% yang digunakan untuk kios dan los. Sisanya sekitar 46% digunakan untuk akses masuk, penampungan barang, dan fasilitas lainnya. Kesemua pembiayaan otomatis dibebankan menjadi satu dengan harga jual kios atau los. Berapa kios dan los yang tersedia di pasar baru? Nanti akan dibangun 171 kios, 496 los, serta 120 los daging. Selain itu juga disediakan 450 los untuk oprokan. Jumlah itu akan mampu menampung 962 pedagang asli. Investor juga sudah menjanjikan tak akan menjual kios ke orang luar jika pedagang masih ada yang belum tertampung. Bagaimana jika calon investor dan pedagang tidak bisa menemukan titik temu mengenai harga kios? Karena untuk mencapai kesepakatan itu, tiga pihak yakni pedagang, calon investor dan Pemkot akan duduk satu meja untuk menegosiasikan hal itu. Namun waktunya belum bisa dipastikan. Kami masih menunggu mufakat dari pedagang mengenai berapa kemampuan maksimal mereka. Jika nanti upaya itu telah ditempuh dan tak ada kesepakatan, akan dilaporkan ke Dewan. Ada kemungkinan pengucuran subsidi seperti keinginan pedagang? Bisa diusulkan ke Dewan. Jika nanti kemampuan Pemkot bisa, sangat mungkin diadakan subsidi. Namun harus diingat, tentu subsidi tidak lebih besar dari yang disubsidi.(Evie Kusnindya-17i) |