logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Januari 2005 PANTURA
Line

Lokasi Terminal di Dukuh Blere Paling Tepat

BREBES - Kendati dari hasil kunjungan Komisi C dan A DPRD ke tiga lokasi calon Terminal Bus Bumiayu belum memutuskan yang paling tepat untuk terminal bus, Ketua Komisi C Imam Sairi tetap berharap Pemkab akan menentukan pilihan lokasi terminal di Dukuh Blere, Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu.

Lokasi itu sangat dekat dengan perkotaan. Selain itu, ke depan akan bisa berkembang dengan membuat Pasar Induk di sekitar terminal. "Kalau suruh memilih yang paling tepat calon lokasi di Dukuh Blere, Desa Adisana," kata Imam, kemarin.

Lokasi terminal lama di Desa Pagojengan, Kecamatan Paguyangan, lanjut Imam, dinilai terlalu padat arus lalu lintasnya, karena berada di pinggir jalan raya Tegal-Purwokerto. Saat ini pada jam tertentu saja, di mana terminal tak menampung bus yang ada, parkir bus memadati jalan raya sehingga sangat mengganggu kendaraan yang lewat.

"Lokasi terminal lama saya rasa kurang memadai, sehingga perlu dipindah. Selain berada di pinggir jalan raya yang padat lalu lintas, kondisinya sudah tidak memadai lagi," paparnya.

Sebagai wakil rakyat yang tinggal di Bumiayu, Imam berkeinginan kota kecil itu ke depan dapat lebih berkembang dan ramai. Salah satu alternatifnya, memindah terminal bus lama ke lokasi yang lebih aman dari gangguan kepadatan arus lalu lintas. Pihak konsultan sudah melakukan penelitian ke lapangan dan menunjuk tiga lokasi. Pertama dengan mengembangkan lokasi terminal lama, kedua berada di Dukuh Blere, dan ketiga di Dukuh Talok, Desa Langkap. Namun, setelah dilakukan pengamatan, yang paling cocok di Dukuh Blere.

Bagaimana dengan tawaran harga tanah yang mulai melonjak? Imam meminta Pemkab harus mampu melakukan penawaran sampai tingkat harga yang paling rendah dan wajar. "Kalau masyarakat bersikeras dengan harga mahal, kita pindah lagi ke lokasi yang murah," ujarnya.

Menurut dia, alokasi dana Rp 3 miliar yang kini sedang digodok panitia anggaran bisa dipergunakan separo untuk pengadaan tanah dan separo untuk fondasi calon terminal.

Tak Layak

Ymt Kepala Dinas Perhubungan Suprapto SH ketika dimintai konfirmasi, dia menyerahkan sepenuhnya soal lokasi terminal baru pada pihak penentu kebijakan, baik di legislatif maupun eksekutif. Menurut dia, melihat kondisi yang ada di terminal bus lama, sudah tidak layak dioperasionalkan.

Selain terlalu sempit, areal parkir bus yang dibangun tahun 1992 itu, saat ini hanya cukup untuk parkir 12 unit bus. Itu pun dalam posisi tidak bermanuver, alias berhenti.

Padahal, pada jam sibuk pagi dan sore hari jumlah bus yang ngetem menunggu penumpang jumlahnya bisa sampai puluhan. Karena lokasi parkir tak muat, bus banyak ngetem di pinggir jalan. Sebagian karena tak tertampung menjorok ke arah pertigaan jalan linggkar.

Menurut Suprapto, pada tahun anggaran 2005 ini pihaknya mengusulkan ke Pemkab supaya disetujui anggaran Rp 3 miliar yang dipergunakan untuk pengadaan tanah calon terminal baru. Namun, keputusan tersebut belum disetujui, karena masih menunggu pertimbangan berbagai pihak terkait. Dalam pandangan dia, dana Rp 3 miliar apabila disetujui bisa dipakai untuk pengadaan tanah pengembangan terminal lama. Petimbangannya karena kebutuhan yang begitu mendesak akan terminal. (wh-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA