logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Januari 2005 NASIONAL
Line

"Assalamu'alaikum ....."


 Rainer Adam SM/dok

YOGYAKARTA-''Assalamu' alaikum......, selamat siang.'' Ucapan salam mendoakan orang yang ada di sekitar tempat itu meluncur fasih dari mulut seorang warga negara Jerman Dr Rainer Adam (49). Namun selanjutnya masih dalam bahasa Indonesia, Direktur Friedrich Nauman Stiftung (FNS) Jerman itu, mengaku belum begitu bisa banyak bicara dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pria berjenggot itu melanjutkan paparannya dalam bahasa Inggris.

Setelah agak terperanjat karena ada orang bule mengucapkan salam itu, peserta yang berasal dari pimpinan DPRD dan KPUD se-Jawa menjawab, ''Waalaikum salam.....'' Namun, begitu mendengar Rainer Adam melanjutkan paparannya dalam bahasa Inggris, peserta sarasehan nasional ''Menyongsong Pelaksanaan Pilkada secara Langsung'' itu tertawa.

Dr Rainer Adam berbicara Rabu lalu, pada kegiatan sarasehan yang diadakan oleh Institute for Research and Community Development Studies (Ircos) Jakarta. Dia diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengamatannya soal pelaksanaan pilkada langsung, khususnya di Jerman. Kata dia melalui penerjemah Ny Hanung, negaranya (Jerman) baru sekitar 55 tahun belajar tentang demokrasi. Yaitu demokrasi yang sesuai dengan sejarah dan masyarakat Jerman.

Bahkan, dibanding dengan negara tetangga lainnya, Jerman relatif lamban dalam menegakkan demokrasi. Namun demikian, sekarang negaranya sangat kuat dalam penegakan hukum. Khususnya berkait aturan tentang pilkada. Pengalaman lainnya dipaparkan peneliti asing lainnya, Paul Rowland. Direktur National Democratic International (NDI) Amerika Serikat ini memaparkan pengalaman dan pengamatan langsung terhadap pilkada di negeri adikuasa itu serta di negara kawasan Asia Tenggara.

Kata dia, tiap wilayah memiliki ciri, watak, dan permasalahannya masing-masing dalam melaksanakan pilkada langsung. Namun, lanjut Rainer Adam, dia tidak dalam posisi untuk mengatakan mana yang lebih baik antara pilkada langsung dan yang melalui parpol. Cuma katanya, melalui penerjemah Miranti, mungkin ada kekhawatiran bila pemilihan lewat parpol akan terlalu banyak kontrol maupun intervensi. (Asril-33m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA