logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Januari 2005 NASIONAL
Line

Lima Jam Mencekam di Mina (1)

Azan Menggema di Terowongan Al-Muaissim

Badai di Tanah Suci telah berlalu. Tinggal bekas-bekasnya berupa genangan air, kubangan lumpur di sana-sini, dan onggokan sampah yang belum dibersihkan. Cerita ketakutan dan kisah mencekam dari jamaah haji direkam wartawan Suara Merdeka H Agus Fathuddin Yusuf, H Subakti A Siddiq, dan HM Asmu'i Mudzakir yang saat ini masih di Kota Makkah dalam laporan dua seri mulai hari ini.

TIDAK ada satu orang pun yang menyangka Sabtu lalu di Tanah Suci akan diserang badai disertai banjir lumpur. ''Jangankan berpikir badai, wong hujan di Makkah dan Madinah saja sudah merupakan mukjizat. Soalnya jarang terjadi,'' tutur Drs H Noor Achmad MA, pimpinan KBIH Wahid Hasyim Kota Semarang. Tetapi hari itu Tuhan menentukan lain. Bukan hanya hujan yang diturunkan di Makkah, Madinah, Mina dan sekitarnya, tetapi disertai angin kencang, banjir lumpur, disertai longsornya beberapa gunung pasir.

Memang sejak pagi terlihat mendung tebal menggelayut di atas langit Mina. Gerimis kadang turun, kadang berhenti. Cuaca yang kurang bersahabat seperti itu tidak menyurutkan langkah jamaah haji untuk lempar jumrah. Maka, meski hujan rintik-rintik, mereka tetap keluar dari tenda penampungan di Kawasan Haratullisan, Mina. Untuk sampai di tempat pelemparan jamarat harus berjalan kaki sekitar 3 km melewati Terowongan Al-Muaissim. Terowongan yang terkenal angker, karena setiap tahun selalu ada saja jamaah haji yang tewas di tempat itu. Jamaah yang uzur karena usia tua, sakit, atau sebab lain, memilih menunda lempar jumrah sampai hujan reda. Tetapi yang muda-muda dan merasa kuat fisiknya memilih langsung merampungkan kewajibannya.

Ir H Totok Riyanto, misalnya. Meski anggota rombongannya memilih tinggal di tenda, warga Jl Tengiri, Bandarharjo, Semarang Utara, itu bersama istrinya, Hj Sulasih, tetap berangkat ke jamarat. Demikian pula H Masrokan. Warga Kudu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, itu memilih pagi itu menyelesaikan lemparannya. Bahkan, jamaah perempuan Hj Siti Zazilatun dan ibunya, Hj Kasturiyah, juga tak peduli terhadap cuacana mendung dan gerimis. Penduduk Wonosari, Ngalian, Kota Semarang, itu juga berangkat ke jamarat.

Gulungan Air

Menjelang zuhur gerimis tidak berhenti, tetapi malah makin lebat. Bahkan, angin mulai bertiup kencang. Jutaan haji yang masih di bawah tenda terbuat dari fiberglass di Mina mulai merasakan ada sesuatu yang ganjil. Sebab, tenda-tenda itu mulai bergetar, besi-besi pelindung tenda mulai beterbangan menimbulkan suara gaduh. Demikian pula tong-tong sampah, tandon air dan jemuran mulai berhamburan tidak karuan karena terhempas angin.

Saat itulah ketua rombongan sekaligus Ketua KBIH NU Kota Semarang Drs KH Ahmad Hadlor Ihsan mulai waswas mencari anggotanya yang tidak terlihat di dalam tenda.

Ir H Totok mengaku saat itu sudah selesai melempar jumrah hari ketiga. Ketika hendak pulang, dia berlindung di bawah jembatan tak jauh dari Terowongan Al-Muaissim. Saat itulah dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan, yaitu gulungan air yang turun sangat cepat dari atas gunung batu. Tiba-tiba dia baru sadar bahwa tempat dia berlindung di bawah jembatan mulai tergenang air. Saat air mencapai satu lutut, dia menarik lengan istrinya untuk berlari sekuat tenaga menuju Terowongan Al-Muaissim. ''Alhamdulillah dalam kondisi basah kuyup kami bisa mencapai terowongan,'' tuturnya.

Di dalam terowongan tersebut sudah pating kruntel tidak terhitung jumlahnya haji yang berlindung dari empasan angin kencang dan hujan deras. Di dalam terowongan yang dalamnya sekitar 1 km itu tidak hanya jamaah Indonesia, tetapi juga dari Iran, India, Malaysia, China, Afghanistan, dan lain-lain.

Saat itu Hj Siti Zazilatun menyaksikan pemandangan beberapa tentara Arab Saudi yang terjun ke dalam kubangan air yang sudah mencapai dada orang dewasa. Para tentara berseragam cokelat itu mencoba membantu mengevakuasi jamaah yang terjebak di bawah jembatan.

Suasana panik mulai terasa di Terowongan Al-Muaissim, ketika dua pintunya mulai kemasukan air. Terowongan itu terbagi menjadi dua, satu jalur berangkat menuju jamarat, satu jalur pulang menuju tenda perkemahan. Dua-duanya sudah padat manusia.

Di dua ujung terowongan, puluhan tentara sudah mengadang jamaah untuk tidak keluar dari tempat itu. Saran itu patut dipertimbangkan. Sebab, ternyata tepat di mulut Terowongan Al-Muaissim di bagian timur, entah dari mana datangnya, air mengalir sangat deras. Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh. Gemuruh itu ternyata berasal dari longsoran batu dan pasir bukit Haratullisan.

Di tengah kepanikan tersebut, terdengar suara azan melengking dari dalam terowongan. Rupanya seorang jamaah haji memakai jubah yang basah kuyup, berpostur tinggi besar dan berjenggot lebat mengalunkan azan. ''Kumandang azan itu alhamdulillah sempat mengendurkan kepanikan manusia di terowongan,'' tutur H Totok.Tak lama kemudian, hujan sedikit mereda. Ribuan manusia segera berhamburan keluar dari terowongan menuju tenda masing-masing. ''Alhamdulillah kami semua selamat,'' tutur dia sambil ngos-ngosan. (33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA