| Jumat, 28 Januari 2005 | NASIONAL |
Museum Batik Kuno Danarhadi Masuk MuriSEMARANG-Museum Rekor Indonesia (Muri) kembali mencatat rekor baru untuk kolektor batik terbanyak dan terlengkap sebanyak 10.000 macam batik. Pemegang rekor ini, H Santosa D Hadikusumo, pendiri Museum Batik Kuno Danarhadi di Solo. Penyerahan penghargaan dilakukan pendiri Muri, Jaya Suprana, kepada H Santoso Doellah Hadikusumo, di sela-sela ulang tahun ke-15 Muri di Hotel Grasia, Kamis kemarin. Sebelum memberikan penghargaan ini, pada 9 November 2003 Jaya Suprana dan tim Muri melakukan penelitian atas koleksi batik kuno di museum tersebut. "Dengan jumlah keseluruhan batik yang terdapat di museum tersebut mencapai 10.000 macam/jenis, maka pemiliknya berhak untuk mendapat penghargaan dari Muri sebagai kolektor batik kuno terbanyak dan terlengkap," jelas Jaya Suprana. Dari 10.000 jenis batik itu, beberapa di antaranya ada yang terbuat sejak tahun 1800-an. Pengumpulan koleksi batik ini dilakukan selain "berburu" ke sejumlah tempat, juga beberapa di antaranya koleksi dari Danarhadi sendiri. Menurut Santoso, perkembangan jenis batik di Indonesia sangat dipengaruhi oleh zaman dan lingkungannya. Seperti yang terekam dalam koleksinya. "Batik Belanda, yang memang dihasilkan pada saat Belanda menduduki Indonesia, motifnya sesuai dengan kebudayaan mereka, seperti batik dengan model bunga tulip," ujar Santoso. Sementara itu, pada zaman Jepang, batik yang dihasilkan kebanyakan bermotif bunga sakura atau kupu-kupu. Batik jenis ini juga dikenal dengan batik Hokokai. Untuk batik-batik yang dihasilkan oleh masyarakat di daerah pesisir seperti Cirebon, motif dan warnanya juga memiliki ciri khas yang terinspirasi dari kehidupan dasar laut. Dalam perayaan ulang tahun Muri ini juga diserahkan piagam penghargaan kepada 13 pemegang rekor Muri. Antara lain Rudy Choirudin Saleh, presenter masak terlama selama 14 tahun, dan pembuat game pertama di Indonesia David Setiabudi S Sn AmRO. Siswa termuda pertama di Indonesia yang memperoleh predikat The Best Use Of The Sakamoto Method adalah Kevin Soedyatmiko. Calon peraih rekor yang kemarin juga diperagakan adalah Evi Budi Lestari dan Meifa Dela Banu Tri. Dua bocah berusia 5 tahun asal Grobogan ini calon pemegang rekor untuk pelipat tubuh berpasangan dengan variasi terbanyak, yaitu 36 macam. Penampilan anak belia ini mendapat teguran pemerhati anak-anak Seto Mulyadi yang menyaksikan peragaan itu. Pria berkacamata minus yang biasa dipanggil Kak Seto ini meminta anak-anak tersebut untuk diberi kesempatan beristirahat. "Mereka memang punya talenta yang perlu ditingkatkan, tetapi sebaiknya jangan terlalu dieksploitasi," kata dia. (G2-33t) |