logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Januari 2005 NASIONAL
Line

Mega Batal Pensiun dari Politik

  • Tantang Sophan di Kongres PDI-P

WONOGIRI- Megawati mengaku sudah ingin "pensiun" dari kegiatan politik. Namun setelah melihat kinerja pemerintahan Yudhoyono, dia membatalkan niat itu. Selain itu, dia menantang politikus kawakan PDI-P Sophan Sophian untuk bertarung secara fair dan jantan.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam konsolidasi kader PDI-P sewilayah Surakarta di Gedung Giri Cahaya, Wonogiri, Kamis (27/1).

Selain dihadiri ratusan kader, anggota DPRD, dan para bupati dari PDI-P, hadir pula putri Mega Puan Maharani, fungsionaris DPP PDI-P seperti Soetardjo Soerjogoeritno, Gunawan Wirosarojo, Pramono Anung, Tjahjo Kumolo, dan Aryo Bimo.

"Kepada Pak Taufiq (Kiemas), saya katakan, setelah ini (kekalahan dalam pilpres) saya juga ingin pensiun saja dari dunia politik. Tapi setelah saya melihat kondisi poltik dalam negeri di pemerintahan baru ini, yang dulu banyak janji, saya akhirnya memutuskan untuk mencabut omongan saya itu. Saya akan tetap terjun ke politik," kata Megawati yang disambut tepuk tangan.

Mega tidak memaparkan panjang lebar pada bagian mana kinerja pemerintahan Yudhoyono yang dia anggap kurang berhasil. Dia hanya sempat menyentil sekelumit persoalan, yaitu proses penanganan kasus-kasus hukum yang dilakukan pemerintah dalam program seratus harinya yang sangat kental warna politik.

Tantang Sophan

Dalam Kongres II di Bali mendatang, secara terbuka dia mengatakan masih ingin terpilih menjadi ketua umum partai banteng bulat tersebut. Namun dia mempersilakan kader partai lain yang ingin mencalonkan diri, asal bertindak fair dan bersih serta tidak menyebar uang untuk mencari dukungan.

"Saya juga sudah bilang kepada Guruh, Roy (BB Janis), dan Pak Arifin Panigoro. Saya katakan silakan saja kalau Sophan Sophian yang ingin menjadi ketua umum itu mencalonkan diri. Tapi ya harus memenuhi syarat didukung oleh kekuatan di akar rumput, memiliki kemampuan yang bisa melebihi saya, serta bisa membawa PDI-P seperti yang telah saya lakukan," kata Mega.

Dia juga wanti-wanti kepada siapa pun yang ingin mencalonkan diri untuk menempuh cara-cara yang bersih. Sebab, bila ada pihak yang melakukan politik uang, dia yakin ke depan PDI-P akan hancur. "Saya harap jangan PDI-P ini diobrak-abrik karena ingin menjadi ketua umum. Ini saya sampaikan karena saya tahu jalan pikirannya. Tapi semoga nanti yang terpilih ya ketua umumnya ini."

Mega juga memperingatkan para kadernya tentang bahaya intervensi pemerintah dalam Kongres PDI-P mendatang. Saat ini indikasi akan terjadi intervensi sudah dapat dilihat. Selain membagi-bagikan uang, salah satu yang dilakukan adalah membuat opini bahwa Megawati gagal memimpin PDI-P.

"Kita tidak ingin diodol-odol seperti Golkar beberapa waktu lalu itu. Asal tahu saja, saat ini sudah banyak uang yang dilempar di jalan-jalan untuk mengganggu kita. Tentu saja cara yang dipakai tidak sekasar dan sevulger dulu. Nanti cara yang dipakai adalah, yang bermain di dalam ya orang dalam partai kita sendiri. Yang bagi-bagikan duit ya orang kita sendiri."

Megawati juga menyatakan keprihatinannya atas ulah kadernya yang setelah menang justru lupa akan pentingnya perjuangan. "Kemenangan telah membuat para kader PDI-P mabuk. Karena mabuk kemenangan, mereka pada penthalitan, hal itu yang kemudian menimbulkan kekalahan yang ironis pada Pemilu 2004."

Kekalahan pada Pemilu 2004, termasuk kekalahan pada pencalonan Megawati dalam pilpres, karena ulah para kader-kadernya. (P27-83t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA