logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Januari 2005 SEMARANG
Line

Dulu Membantu Sekarang Terancam

TAK banyak sumber sejarah yang menyebutkan kapan becak kali pertama masuk ke Semarang. Namun keberadaan angkutan ini di Indonesia dapat dirunut sejak awal abad ke-20. Begitu pula di Semarang, foto-foto atau gambar becak belum tampak pada dokumen-dokumen sejarah hingga 1950-an.

Situs www.nakertrans.net menyebutkan, sebelum Perang Dunia II tercatat hanya ada 100 becak di Jakarta. Becak diperkirakan masuk ke Indonesia pada zaman penjajahan Jepang, sekitar tahun 1940-an.

Jongkie Tio dalam buku Kota Semarang dalam Kenangan menulis, dahulu pemilik becak adalah orang-orang Tionghoa yang dikenal sebagai "Tauke Becak". Beberapa sumber lain menyebutkan, becak berasal dari tanah Tiongkok. Rigsaw, kendaraan tradisional yang ditarik manusia, disebut-sebut sebagai cikal bakal kelahiran becak.

Jongkie Tio juga menyebut bentuk becak saat ini agak berbeda dari yang dulu. Semula, baik ban maupun selebor becak dibuat besar. Selebor itu kemudian dihiasi beragam gambar, seperti gunung, naga, dan burung. Jika pada awal masuknya becak banyak dimiliki orang Tionghoa, setelah masa kemerdekaan, banyak pensiunan pegawai negeri sipil dan tentara pun ikut menjadi tauke becak.

Ngadimin, tukang becak yang biasa mangkal di depan SMA Sedes Sapienteae adalah generasi kedua pengayuh becak di Kota Semarang. Ayah Ngadimin adalah salah satu generasi pertama pengayuh becak di Kota Semarang. Ayah Ngadimin mulai menarik becak menjelang Agresi Militer Belanda II tahun 1949. Saat itu Ngadimin masih kanak-kanak. Sementara Ngadimin menarik becak sejak sekitar tahun 1965.

Dia masih ingat bagaimana becak kala itu, termasuk siapa saja juragan pemilik becak yang ditariknya. Dulu, kata Ngadimin, ada persatuan para tauke becak yang disebut Becak Bond.

"Saya masih menangi Bapak narik becak yang bannya besar, seperti dari karet mentah. Waktu itu selebor becak juga masih besar," kata Ngadimin.

Di antara sejumlah pengayuh becak di depan SMA Sedes, Mbah Gino disebut-sebut sebagai generasi pengayuh tukang becak tertua. Becak Roket milik Mbah Gino merupakan tengara ketuaan generasi itu. Tapi kini Mbah Gino tak lagi menarik becak. Dia pulang ke kampung halamannya di Klaten dan becak roketnya dijual, entah kepada siapa.

Menurut penuturan Ngadimin, hingga 1970-an, becak masih dilengkapi lampu pada kedua sisinya. Lampu itu memang tidak besar, karena hanya berupa api kecil berbahan bakar minyak tanah. Agar bebas melindungi dari tiupan angin, api kecil itu dilindungi kaca dan di atasnya diberi penutup.

Seperti halnya sepeda, becak saat itu juga dilengkapi bel bundar. Jika tuasnya ditekan, roda-roda bergerigi di dalamnya akan ikut berputar dan menekan pelatuk yang memukul-mukul dinding bel, menghasilkan bunyi nyaring ting...ting...ting.

Bentuk becak ontel saat ini memang tidak mengalami perubahan bentuk yang berarti. Hanya, kendaraan itu agak mengecil dan selebornya sering dicopot. Dengan begitu pengemudinya lebih ringan mengayuh.

Ngadimin masih ingat, dulu setiap pengayuh becak harus memiliki surat izin mengemudi (SIM) yang dikeluarkan Polda Jawa Tengah (Jateng). Untuk bisa memperoleh SIM, setiap pengayuh becak dites layaknya tes untuk mendapatkan SIM kendaraan. Sebelum tahun 1980-an, SIM becak berbentuk seperti buku kendaraan dan berlaku selama 15 tahun. Namun tahun 1990-an, bentuk SIM diubah menjadi secarik kertas mirip kartu tanda penduduk (KTP). SIM itu berlaku dua tahun. Namun tak banyak pengemudi becak yang memperpanjang kartu itu. "Meski punya SIM, penarik becak bisa saja kena garuk petugas. Sekarang kami malas mengurus perpanjangan SIM karena tidak ada fungsinya," kata dia.

Sementara itu, sebagai bentuk pengendalian terhadap becak Pemkot telah mengatur jam operasional becak berdasarkan warnanya.

"Becak biru hanya beroperasi pada pagi dan siang hari, sementara becak kuning pada malam hari," ujar seorang staf Evaluasi dan Monitoring Satpol PP, Sulistyo Nugroho. (89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA